Istri yang Pandai Bersyukur

Bismillaah…

Saya senang sekali beberapa bulan lalu pernah menjadi responden penelitian tugas akhir adik mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Penelitiannya mengenai relasi dalam pernikahan, khususnya ‘menghitung rasa syukur’ dari diri pasangan. Saya mengisi jawaban dari pertanyaan selama beberapa hari melalui link yang diberikan oleh peneliti.

screenshot link pertanyaan

Saya mengisi jawaban setiap harinya tanpa kesulitan. Saya tuliskan apa yang membuat saya bersyukur pada suami, mulai dari hal yang mungkin remeh temeh seperti menaruh pakaian kotor di tempatnya, sampai hal yang barangkali “wow”.

Continue reading

Tak Mengapa

Mungkin banyak dari teman-teman suami yang sudah bisa membeli rumah besar dan mewah untuk keluarganya. Bagiku tidak apa-apa rumah kita masih berstatus “pinjaman” dari perusahaan. Itu sudah cukup melindungiku dari panas dan hujan.

Boleh jadi kebanyakan kerabat suami memilih untuk membeli kendaraan baru untuk beraktivitas. Bagiku tidak apa-apa motor bekas itu kauhadiahkan untukku. Itu sudah cukup membuatku tak harus berjalan kaki kesana kemari.

Continue reading

Hamba yang Bersyukur

image

Image source: instagram

Pernah tidak terbersit dalam benak kita betapa Allah melakukan penjagaan yang begitu hebat selama kita tidur?

Ketika terbangun di pagi hari, kita mendapati tubuh kita lengkap tanpa ada satu pun yang hilang atau terluka. Padahal bisa jadi ada serangga yang selama beberapa saat ada di lubang telinga kita, atau lubang hidung kita. Namun Allah menjaga kita sehingga tubuh kita baik-baik saja.

Ketika terbangun di pagi hari, kita bisa lolos tanpa mendengar satu berita duka pun. Kita masih dapat melihat wajah suami, mendengar suara orang tua, mengetahui kabar saudara kandung, bahkan membagi cerita dengan sahabat. Semua orang tersayang kita baik-baik saja.

Continue reading

Simplicity of Happiness

Pagi tadi rumah dihebohkan dengan teriakan adik-adik.

“Kaaaak, banjir di depan rumaaah!”

Rupanya hujan seharian kemarin membuat air sungai yang memang tidak jauh dari rumah meluap. Banjir pun semakin siang semakin meninggi. Sampai saya menuliskan ini, air masih berada di tangga teras rumah.

Motor mama juga sempat mogok di tengah genangan banjir. Hal itu membuat kami terisolasi sementara tidak bisa ke mana-mana. Murid les absen dulu hari ini karena khawatir mobil orang tuanya terjebak di depan rumah. Apalagi hujan masih tetap turun hingga maghrib tadi.

Jika mau berkeluh kesah, sudah kami lakukan sejak tadi. Menjemput adik-adik dari sekolah sedikit kesulitan, rencana untuk keluar tidak jadi semua, dll. Namun, saya pribadi memilih sebaliknya.

Hujan adalah rahmat dari Allah. Karena hujan dan banjir, sore tadi kami bisa berkumpul sekeluarga. Adik-adik tidak keluar untuk bermain seperti biasa. Kemudian kami menyantap singkong goreng hangat bersama-sama. Menunya sederhana, tapi entah mengapa rasanya lezat tiada terkira.

Continue reading

Renungan Hari Ini

Ada yang tahu berapa harga oksigen per-liter? Harganya kurang lebih Rp 25.000,00. Sekarang silakan cek google untuk tahu kebutuhan per-hari oksigen manusia. Lalu kalikan. Kira-kira ada tidak perusahaan yang mau menggaji karyawannya sejumlah rupiah tersebut demi keberlangsungan hidup agar bisa tetap menghirup oksigen? OBVIOUSLY NO. :’)

Apalagi yang kita tunggu untuk selalu bersyukur pada Allah atas nikmat udara bebas yang bisa kita hirup setiap saat? Itu tanda cinta paling murni menurut saya, memberi tanpa mengharap kembali. Kita nggak perlu bayar (dalam rupiah), toh Allah Maha Kaya. Mari kita syukuri apa yang bisa kita syukuri. 🙂

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.”

 (Q.S. An-Nahl: 18)

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 30 Juni 2014. Menanti tarawih.