You Are (Too) Precious

butterfly

Image source: we heart it

Bismillaah…

Kalau tidak salah hampir lima bulan lalu, di atas kereta Jakarta-Cepu, saya menyaksikan kejadian yang -bagi saya- kurang menyenangkan. Saat itu saya terbangun malam hari melihat seorang penumpang sedang memainkan handphonenya. Posisi kursi penumpang tersebut ada di depan penumpang di samping saya, atau dengan kata lain di serong depan saya sehingga saya bisa melihat aktivitasnya.

Saya perhatikan ia membuka sebuah media sosial, kemudian scroll down, terus ke bawah, dan akhirnya berhenti di satu foto perempuan. Dia pandangi lama foto tersebut, lalu di-zoom in. Ya, ZOOM IN, saudara-saudara!!! 😞

Continue reading

Advertisements

People Change

Bertemu dengan teman-teman lama rasanya selalu menyenangkan. Bahan obrolan seperti tidak pernah ada habisnya. Ada energi baru yang didapat jika bertemu mereka.

Beberapa hari lalu saya pun menyediakan waktu untuk bertemu ketiga teman lama saya saat kuliah. Well, masih tetap berteman baik dong sampai sekarang. Pertemuan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari ketika saya mengabarkan akan ada di ibukota beberapa hari. Ya walaupun ada sedikit drama dalam menentukan waktu dan tempat bertemunya. 😁

Qadarullah ketiga perempuan ini bekerja di satu rumah sakit yang sama. Mereka bercerita bahwa sebelum datang ke tempat janjian, mereka habis belajar bahasa arab. Ada jadwal tersendiri untuk belajar bagi karyawan rumah sakit yang diurus oleh bagian kerohanian islamnya. Ma syaa Allah, keren amat kan ya!

Continue reading

Muslimah Jangan Latah

Beberapa waktu lalu, saya penasaran dengan aplikasi sn***h*t dan akhirnya mencoba mengunduhnya di handphone suami. Saya mencoba satu per satu filter-nya. Awalnya saya girang ketawa-ketiwi (atau malah norak) karena rasa penasaran itu terjawab sudah. Suami pun saya minta untuk ikut mencoba salah satu filter, hingga akhirnya suami menegur dan terjadilah percakapan ini.

Mas: Itu ngapain sih?

Saya: Mau nyobain. Lucu kan?!

Mas: Udah hapus aja. Itu bukannya kayak mengubah bentuk wajah ya? Kan nggak boleh.

Saya: … (mikir)

Mas: Hapus ya. Kita harusnya bersyukur dikasih wajah lengkap tanpa cacat. 🙂

Sedetik kemudian saya tersadar. Iya, bener kata suami. Filter-filter aplikasi tersebut memang ada yang menjadikan wajah kita seperti alien, bertanduk, lebah, kelinci, bahkan anj*ng [saya nggak nyobain yang guguk ini ya]. Ada juga face swap yang menjadikan wajah tertukar dengan wajah orang di samping. Astaghfirullah wa atubu ilaihi, terima kasih suamiku sudah mengingatkan.

Continue reading

Bangga dengan Ketaatan

Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang kawan yang sudah sangat dekat dengan keluarganya. Di tengah-tengah kunjungan, mereka menanyakan beberapa pertanyaan pada saya.

“Kerudungnya beli di mana, Din?”

“Kamu kalau cari gamis di mana sih, Din?”

“Ini kok handsock-nya lebar bolongan jempolnya?”

“Kami pelan-pelan belajar, Din.”

Cukup kaget. Tapi rasa senang lebih mendominasi karena satu keluarga kompak menuju kebaikan.

Di lain waktu teman SMA saya tiba-tiba menghubungi saya untuk menanyakan, “Din, kamu kalau beli khimar di mana?”

Ada pula saat teman di kantor bertanya, “Mbak, ini bahan kerudungnya apa? Kayaknya enak ga gampang kusut.

Dan berbagai pertanyaan lain yang menanyakan busana yang saya kenakan. Saya senang. Sangat senang bahkan. Bukan karena akhirnya merekomendasikan beli di mana pakaian tersebut, melainkan karena semakin banyak muslimah yang sadar akan perintah menutup aurat.

Continue reading

Teguran untuk Diri Sendiri

Akan tiba suatu masa di mana undangan walimatul ‘ursy teman-teman datang bertubi-tubi. Teman SD, SMP, kuliah, dan teman-teman dari jaringan pertemanan mana pun. Belum lagi kalau dalam keluarga besar cukup banyak saudara yang jarak umurnya berdekatan. Tiap bulan bisa jadi ada acara terus. 😱

Dulu saat masih menjadi anak kos, ada teman yang sempat berkata seperti ini: “Wah, harus nyiapin banyak baju buat kondangan nih karena bakalan sering datang ke acara nikah.

Seperti menjadi hal yang biasa bagi seorang perempuan tiap kali akan pergi ke sebuah acara untuk memperhatikan apa yang mau dikenakan. Pakai gamis apa? Khimar atau pasminanya yang mana? Sepatu apa? Bahkan jika dirasa perlu, membeli lagi yang baru adalah sebuah keharusan.

Setelah siap, biasanya akan memandang diri di depan cermin. Takjub sama diri sendiri. Sampai-sampai lupa bertanya hal terpenting, “Apakah Allah ridho jika keluar dengan berpakaian seperti ini?

Continue reading