Especially For You

Bismillaah… 

Tiba-tiba siang ini saya ingat pernah menulis mengenai kriteria harus bisa masak dalam mencari istri. Saya pun senyum-senyum mengingat pembelajaran untuk pandai memasak hingga hari ini. Hihihi…

Sejak awal proses ta’aruf, saya sudah berterus terang pada suami (saat itu masih calon) bahwa saya belum begitu pandai memasak. BELUM ya, bukannya TIDAK bisa. Indahnya skenario Allah,  ternyata suami pun mantap maju dan melanjutkan pada proses selanjutnya (khitbah), tanpa memedulikan kekurangan saya tersebut. Hal itu bukan kriteria mendasarnya dalam memilih istri karena tidak ada syarat ‘harus pandai memasak’.

Continue reading

Sederhanakan Bahagiamu

Menikmati langit senja Bontang bersama suami

Sore ini ada tulisan menarik terlintas di beranda facebook saya. Berikut kutipan tulisan tersebut:

Istri yang Mudah Dibahagiakan

Selain dikenal sulit dimengerti, sebagian wanita kabarnya juga sulit dibikin bahagia. Mungkin ini soal kelas juga ya Gan, saya sebagai pria kelas bulu, tentu standar bahagianya beda dengan wanita yang datang dari kelas tembaga.

Ada wanita yang standar bahagianya dengan rutin ditransfer. Transferan menjadi poin maha penting untuk bisa membuatnya tersenyum gembira. Ada yang bahagia dengan diajak jalan-jalan ke luar negeri. Dengan dibelikan aset, dikasih kado city car berwarna pink metalik.

Tapi ada juga wanita yang begitu mudah dibahagiakan. Hanya dengan suaminya pulang pada jam yang tepat. Dengan diajak beli popok anak ke minimarket, atau dengan diajak berkunjung ke rumah orang tuanya.

Bahagia itu soal rasa. Mahal. Tidak terbeli.

Maka bersyukurlah jika Agan dikaruniai istri dengan ambang bahagia yang begitu rendah. Mudah dibahagiakan. Ini emas, Gan. Kilaunya sepanjang masa…

Didik Darmanto

Continue reading

365 Days

“…Kamu melengkapiku.”

Dua kata di atas adalah potongan surat untuk mas suami yang dengan sengaja saya selipkan di tas kerjanya. Inginnya sih tiba-tiba ditemukan, apalah daya saya tetap harus memberi kode lewat whatsapp bahwa ada ‘sesuatu’ di tasnya. #gagalsurprise 😂

Tapi untuk pagi ini, kejutannya berhasil ditemukan. Berbekal pengalaman yang telah lalu, maka sekarang diselipin di laptop biar langsung dibuka di kantor. Hihihi.

Sekedar prolog saja, saya adalah seorang introvert yang amat sulit membahasakan apa yang ingin saya sampaikan dengan berbicara langsung. Saya lebih nyaman mengutarakannya melalui tulisan.

Continue reading

Sebelum Mata Terpejam

Pagi tadi…

Sudahkah senyumku merekah melepasmu pergi bekerja?

Sudahkah tanganmu kucium penuh hormat?

Sudahkah tenagamu tercukupkan untuk aktivitas seharian?

Menjelang siang…

Adakah aku menjaga rumah dan nama baikmu dengan baik?

Adakah aku meminta izin ke mana pun aku ingin pergi?

Adakah aku menyerap ilmu kajian untuk dibagi?

Continue reading

Tanpamu

image

you’re the destination to my life’s journey (in frame: us)

Pagi tak ubahnya waktu yang bisu

Jika kenari tak berdendang merdu

seperti itu aku

jika tanpamu

 

Malam tak ubahnya waktu yang mencekam

Jika gemintang tak sinari sudut temaram

seperti itu aku

jika tanpamu

 

Tanpa sebelah kaki lainnya,

insan ‘kan pincang

Tanpa hamparan airnya,

lautan ‘kan kerontang

 

seperti itu aku

jika tanpamu

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 26 Mei 2016. Delapan bulan bersamamu. 💕

Menikah dan Perubahan

Menjelang pernikahan, saya tidak henti-hentinya mendapat support dari sahabat-sahabat terbaik saya. Dimulai dari dukungan moril seperti nasihat agar tetap sehat dan tidak stress, sampai alokasi waktu serta bantuan dalam bentuk apapun untuk saya dan keluarga. Terkadang binar mata mereka sangat penuh arti jika tema obrolan sudah menyinggung ke arah pernikahan. “Cieee bentar lagi bakalan ada yang susah ditemuin nih”, kurang lebih demikian candaan mereka.

Setelah resepsi selesai, ada sedikit rasa kehilangan dalam diri saya. Saya rasa sahabat-sahabat baik saya pun merasakan demikian, meskipun mereka tidak pernah mengatakannya. Akan ada yang berbeda selepas saya menjadi seorang istri.

Memang benar seperti itu. Saya menikah dan akhirnya ada yang berubah. Perubahan hierarki ketaatan yang tadinya pada orang tua menjadi pada suami, hingga perubahan prioritas. Dan bagi saya, perubahan itu sebuah keniscayaan. Terutama perubahan ke arah lebih baik. Jika setelah menikah dan sama sekali tidak merasa ada perubahan, mungkin perlu dipertanyakan seperti apa pernikahannya.

Continue reading