Istri yang Pandai Bersyukur

Bismillaah…

Saya senang sekali beberapa bulan lalu pernah menjadi responden penelitian tugas akhir adik mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Penelitiannya mengenai relasi dalam pernikahan, khususnya ‘menghitung rasa syukur’ dari diri pasangan. Saya mengisi jawaban dari pertanyaan selama beberapa hari melalui link yang diberikan oleh peneliti.

screenshot link pertanyaan

Saya mengisi jawaban setiap harinya tanpa kesulitan. Saya tuliskan apa yang membuat saya bersyukur pada suami, mulai dari hal yang mungkin remeh temeh seperti menaruh pakaian kotor di tempatnya, sampai hal yang barangkali “wow”.

Continue reading

Pure Happiness

look at closer

Image source: pinterest

Bismillaah…

Hujan turun deras di sebuah pusat perbelanjaan dua hari lalu. Saya yang sedang menikmati pedasnya sate bebek, terpana melihat dua anak kecil tidak jauh dari tempat saya duduk. Mereka begitu menikmati guyuran hujan siang itu.

Kemudian tidak jauh dari mereka berdua, ada seorang bapak yang tak kalah girang bermain hujan sambil membawa sebuah balon berwarna merah muda. Entah milik siapa balon tersebut. Senyum lebar ketiganya di bawah rintik hujan yang mencuri perhatian saya. Masyaa Allah, seolah mereka bisa merepresentasikan bahwa hujan adalah rahmat dari Allah.

Continue reading

Menikah = Mematikan Potensi?

Bismillaah…

mr-mrs

Image source: pinterest

Pernikahan adalah sebuah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). Apa-apa yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah. Ada komitmen dan tanggung jawab di dalamnya. Tentunya semua dilakukan dengan penuh kasih sayang di antara dua insan yang berlainan jenis.

Pasangan yang baik saya rasa akan mengizinkan orang yang dicintainya untuk bahagia menjadi dirinya sendiri, tanpa kehilangan jati diri atau berusaha menjadi orang lain.

Continue reading

Little Brother

Pekan lalu saya beserta suami dan mama mengantarkan adik saya yang nomor empat ke “rumah” barunya bersama teman-teman. Si adik akan menjadi peserta baru program rumah tahfidz yang digagas oleh beberapa orang. Setelah melalui proses pendaftaran dan seleksi, si adik terpilih menjadi peserta paling muda. Sebagian besar pesertanya adalah siswa Sekolah Menengah Pertama, sedangkan adik saya baru kelas empat.

Di jalan menuju rumah tahfidz saya tengok ke kursi barisan tengah, mata si adik terlihat berkaca-kaca. Meskipun jarak rumah tahfidz tidak begitu jauh dari rumah orang tua, saya bisa memahami sedikit rasa kehilangan di hatinya. Biasanya setiap hari bertemu orang tua dan saudara-saudarinya, mulai sekarang akan satu rumah dengan teman-teman lain yang sama-sama ingin menghapal alquran.

Tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk bergabung menjadi peserta. Berulang kali saya menanyakan ke mama dan si adik sendiri. Jawabannya selalu sama: ini keinginannya sendiri. Ma syaa Allah… 

Continue reading

Sederhanakan Bahagiamu

Menikmati langit senja Bontang bersama suami

Sore ini ada tulisan menarik terlintas di beranda facebook saya. Berikut kutipan tulisan tersebut:

Istri yang Mudah Dibahagiakan

Selain dikenal sulit dimengerti, sebagian wanita kabarnya juga sulit dibikin bahagia. Mungkin ini soal kelas juga ya Gan, saya sebagai pria kelas bulu, tentu standar bahagianya beda dengan wanita yang datang dari kelas tembaga.

Ada wanita yang standar bahagianya dengan rutin ditransfer. Transferan menjadi poin maha penting untuk bisa membuatnya tersenyum gembira. Ada yang bahagia dengan diajak jalan-jalan ke luar negeri. Dengan dibelikan aset, dikasih kado city car berwarna pink metalik.

Tapi ada juga wanita yang begitu mudah dibahagiakan. Hanya dengan suaminya pulang pada jam yang tepat. Dengan diajak beli popok anak ke minimarket, atau dengan diajak berkunjung ke rumah orang tuanya.

Bahagia itu soal rasa. Mahal. Tidak terbeli.

Maka bersyukurlah jika Agan dikaruniai istri dengan ambang bahagia yang begitu rendah. Mudah dibahagiakan. Ini emas, Gan. Kilaunya sepanjang masa…

Didik Darmanto

Continue reading

Penikmat Kebaikan

Beberapa waktu lalu, saya memperlambat laju motor yang saya kendarai demi menyaksikan sebuah adegan membahagiakan di depan mata saya. Seorang bapak yang menggonceng anaknya menepi ke kiri jalan karena topi sang anak terjatuh ditiup angin. Bapak itu tak perlu repot mengambil topi yang terbang dan mendarat di tengah jalan karena sudah ada bapak lain yang mengambilkannya. It was really nice.

Saya senyum selama beberapa menit. Sangat indah pemandangan menyejukkan itu. Apalagi jika mengingat senyum bapak penolong dan yang ditolong.

Kebaikan itu NYATA. Dekat.

Continue reading