Hari Bahagiamu

 

Image source: tumblr

Pernikahan adalah fitrah manusia. Oleh karena itu, islam sangat menganjurkan menikah sebab nikah merupakan naluri kemanusiaan (gharizah insaniyyah). Apabila naluri ini tidak dipenuhi melalui cara yang Allah ridhai, yaitu pernikahan, maka akan selalu ada cara syaithan menjerumuskan manusia ke dalam lembah hitam.

Hari ini tepat dua minggu sahabat karib sedari kecil dipersunting lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Jangan ditanya seperti apa bahagia yang saya rasakan. Benar-benar tidak terdefinisikan!

Continue reading

Nggak Penting, Tapi Ditulis

17 Agustus. Semua orang sedang merasakan euforia hari jadi Indonesia yang ke-70.

Tapi saya……… Duh, cerita sebentar nggak apa-apa ya.

Saya malah sedang merasakan palpitasi yang semakin tidak beraturan ini. Karena ternyata kurang dari 45 hari lagi saya mau masuk sekolah kehidupan yang baru. Jadi murid baru, dengan ilmu baru.

Tidak ada apapun yang saya pinta selain ridha dan keberkahan dari Allah. Bahkan sejak awal prosesnya.

Ya sudah, sampai situ saja ceritanya. Saya mau teriak dulu, tapi dalam hati. Takut ganggu tetangga.

Kakak Cantik

Mari kita flashback sejenak ke tahun 2010…

Saat itu beberapa orang sedang menanti seleksi selanjutnya sebuah beasiswa pembinaan kepemimpinan. Sebelumnya kami (atas pertolongan Allah) berhasil melewati seleksi administrasi dan seleksi tulis. Tahapan demi tahapan kami lalui hingga akhirnya kami diterima.

Kalau tidak salah ingat, saat itu pertengahan tahun. Akhirnya masing-masing menandatangani surat perjanjian dengan pemberi beasiswa, termasuk saya. Kakak cantik itu pun juga diterima.

Namun akhirnya saya mengundurkan diri seminggu sebelum penyambutan para peserta. Posisi saya pun digantikan dengan peserta cadangan. Jika tidak, maka saya dan kakak cantik akan tinggal bersama di asrama pepedemes itu.

Ia setahun lebih tua dari saya. Banyak yang berkata ia primadona di jurusan geografi sana. Senyumnya meneduhkan. Sikapnya anggun menawan. Baik hatinya keterlaluan.

Kemudian beberapa bulan terakhir ini saya jarang menemukan namanya pada timeline tumblr. Biasanya dia suka mengupdate tulisan di malam hari, seperti saat saya menulis ini. Tidak ada lagi like darinya pada tulisan-tulisan saya.

Rupanya…

Continue reading

Pen Pals

Ini hanya saya atau kalian juga suka merasakannya? Ada beberapa orang dalam hidup kita yang belum pernah sekali pun berjumpa, tetapi seperti telah lama mengenalnya. Apalagi di era serba digital sekarang.

Memang tidak sembarang orang sih. Hanya baca sekilas infonya di website yang diragukan kebenarannya, tahu-tahu merasa paling tahu segalanya mengenai dia. Tetap saja pertemuan tatap muka tak tergantikan, mau secanggih apapun teknologinya.

Namun, itu tidak berlaku di dunia per-tumblr-an. Kebanyakan mereka di sana (menurut saya) menulis sesuatu dengan jujur. Tulus apa adanya. Bahkan tidak jarang akhirnya membuat perkumpulan di kota masing-masing. Dari situ pun menjadi tahu ternyata pemilik akun ini adalah temannya teman kita, dan lain sebagainya.

Beberapa yang saya kagumi ketulusan tulisannya pun menjadi sahabat pena saya. Ceilaaaaah. Kami belum pernah satu kali pun bertemu, tetapi sudah seperti saudara beda bapak beda ibu.

Continue reading

Baby Blog

Wah, sudah setahun ya umurnya Kasten Verhaal. Selamat ya! Kalau dalam perkembangan anak, kamu masih bayi nih. Teruslah berkembang, Nak. 🙂

Bagi saya, menulis itu bagian dari kebahagiaan. Rasa menyenangkannya itu seperti kita bercerita atau mengungkapkan isi kepala tanpa perlu dikomentari. Sebagian manusia kadang kala begitu bukan? Ingin didengarkan saja agar lega hatinya.

Pernah ada penelitian (maaf saya lupa siapa peneliti dan tahunnya) yang mengungkapkan bahwa beberapa pasien PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) di rumah sakit diberikan terapi ‘menulis buku harian’ untuk mengembalikan kestabilan psikologisnya. Ini berarti menulis dapat mengurangi tingkat stress.

Kak Achmad Lutfi juga pernah berkata:

Nanti, suatu saat nanti, tulisan kita yang melapangkan saat dada sempit.

Kurang lebih demikian redaksinya. Ya, saya sepakat. Dengan kehadiran Kasten Verhaal dan Almari Kisah yang saya buat, saya merasakan dampaknya. Ketika saya membaca kembali tulisan-tulisan lama saya, tidak jarang saya tersenyum sendiri. Ternyata saya pernah melewati masa-masa sulit, ternyata saya bisa bertahan, ternyata saya bisa menulis seperti itu, ternyata ternyata ternyata…… Ah, betapa lapangnya~

Terima kasih pada mereka yang melalui tulisannya, semangat saya selalu terpompa. I write to express, not to impress. Semoga bisa istiqomah deh ya prinsipnya itu.

Sekali lagi, selamat satu tahun Kasten Verhaal!
03102013-03102014

Repost: Berterima Kasihlah Kepada Istrimu

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”.

Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus.

Melihat latar belakang pendidikannya, wajar jika kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh karir yang bagus. Dalam hal karir, para perempuan itu tidak perlu merasa kalah dari para lelaki. Asalkan memiliki kinerja bagus, posisi setinggi apapun di tempat kerjanya sangat mungkin diperoleh.

Namun, ada satu hal yang terkadang bisa “menghambat” karir istri, yaitu pernikahan. Sebagai orang timur, sebagian besar dari kita menganut paham bahwa, “langkah perempuan itu tidak panjang”. Artinya, pada umumnya istri akan mengikuti suami. Misalnya ternyata suami harus pindah pekerjaan ke luar daerah, maka biasanya istri akan “mengalah” dan mengikuti suami. Dalam hal ini tentu istri berkorban sangat besar karena bisa jadi dengan kepindahan itu dia harus meninggalkan pekerjaannya. Kalaupun bisa mendapatkan pekerjaan baru, tidak ada jaminan bahwa di tempat barunya itu dia bisa mendapatkan karir yang sama bagusnya dengan karir di tempat asalnya.

Saya sendiri paham betul dengan hal ini. Ketika menikah di tahun 2012, saya yang masih baru memulai karir sebagai dosen di ITB harus berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan doktor. Saya dan istri ingin agar kami tidak berpisah terlalu lama. Terdengar mudah bukan? Istri saya tinggal menyusul ke Belanda maka kami pun akan dapat berkumpul kembali. Permasalahan selesai.

Sayangnya kenyataan tidak semudah itu. Waktu itu istri saya masih terikat kontrak di tempat kerjanya sehingga dia baru bisa menyusul hampir setahun kemudian. Tetapi bukan cuma itu permasalahannya. Istri saya sering berpikir. Nanti kalau di Belanda apa yang akan ia kerjakan? Apa aktivitas yang bisa dia punya? Bagaimana jika tidak bisa bertemu teman-teman dan keluarganya dalam jangka waktu lama?

Apakah salah jika seorang istri mempunyai pikiran sedemikian rupa? Tentu tidak. Saya pun sering punya pikiran yang sama. Lelaki akan menjadi makhluk yang sangat egois jika ia berpikir bahwa istrinya harus menurut sepenuhnya mengikuti dirinya kemanapun karir membawanya. Istri saya waktu itu masih baru beranjak 23 tahun. Ia lulus cum laude dari Teknik Industri ITB dengan persentil 94 di angkatannya. Sebuah prestasi yang tidak semua orang bisa dapatkan. Waktu itu dia sedang bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia dan hampir selalu unggul dari sisi penilaian kinerja.

Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, dalam beberapa tahun mungkin dia akan bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus di tempat kerjanya. Kalau saja istri saya tidak perlu ikut ke Belanda, dia bisa dengan mudah membeli beberapa barang yang teman-temannya bisa beli. Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, secara materi mungkin kami akan lebih baik dan kami tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nanti mencicil rumah, mobil, pendidikan anak, dsb.

Dan atas segala kesempatan bagus yang istri saya lewatkan untuk dengan ikhlas mengikuti suaminya, apakah saya harus jengkel kalau ia mempunyai sebersit rasa khawatir tentang masa depannya di Belanda? Tentu tidak. Istri saya punya rasa khawatir karena dia berpendidikan tinggi, karena dia pintar. Dengan itu dia sebetulnya punya kesempatan yang besar untuk bisa sukses. Tetapi dia dengan rela meninggalkan itu demi suaminya. Apakah ini bukan wujud cinta yang tulus dari seorang istri ke suaminya? Lagipula kalau dipikir, memang kriteria pendidikan tinggi dan pintar adalah kriteria yang saya tentukan dengan sadar ketika hendak memilih istri. Maka rasa khawatir itu adalah konsekuensi yang harus siap saya terima.

Wahai para suami. Istri-istrimu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa khawatir kalau harus meninggalkan karirnya bukan karena ia takut kehilangan uang banyak, bukan juga karena takut kehilangan status sosial. Penyebabnya adalah ia tidak terbiasa harus diam di rumah pada saat sebelumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan pada saat kuliah. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk ikut memikirkan solusinya.

Saya sering merasa berdosa kalau saya harus “merampas” masa muda dan kesempatan istri saya hanya karena ia harus mengikuti saya. Saya selalu berusaha memberikan pengertian bahwa yang penting dapat berkumpul bersama dulu. Yang penting bahwa istri itu harus pintar dan berpendidikan tinggi supaya anak-anak kami mendapatkan pendidikan dasar yang bagus. Maka saya sangat bersyukur ketika istri berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Rijksuniversiteit Groningen mulai bulan September 2014. Paling tidak dia juga mendapatkan nilai tambah dengan ikut saya ke Belanda.

Pada akhirnya, memang fitrah seorang istri untuk selalu mengikuti suami. Tetapi posisi sebagai pemimpin keluarga tidak lantas membuat kita egois dan tidak ber-empati kepada istri. Maka para suami,

Jangan hanya memikirkan karirmu. Istrimu mungkin meninggalkan karirnya demi majunya karirmu

Jangan tersinggung kalau didebat istrimu. Itu tanda kalau ia pintar, dan ia mendapatkan kepintaran itu dari pendidikan yang kalian para suami tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Jangan pelit kepada istrimu. Dia rela mengorbakan kesempatannya untuk mengikuti dirimu. Padahal tidak ada jaminan bahwa dirimu akan lebih sukses darinya

Jangan pelit untuk mendoakan istrimu. Setiap sehabis sholat istrimu selalu mendoakan dirimu

Jangan bersikap kasar kepada istrimu. Suatu saat kamu akan ingat, bahwa selain ibumu, dia lah orang yang paling lembut sikapnya terhadapmu

Jangan tinggalkan istrimu karena suatu saat kamu sukses. Pada saat sekarang kamu belum sukses, hanya istrimu lah yang tulus mencintaimu

Berterima kasihlah kepada istrimu. Ia sudah cukup banyak berkorban untukmu dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih

 

Groningen, 21 Juni 2014 jam 21:01 CEST

untuk Istriku tercinta

If I have to die a thousand times, I will always choose you on every re-birth.

 

[Sumber dari sini]