Memorable Journey (1)

Bismillaah…

Rasanya masih seperti mimpi jika mengingat perjalanan yang sangat berkesan hampir setahun lalu. Namun tentu saja ini bukan mimpi, karena Allah sudah menakdirkannya. Hanya saja letupan kebahagiaan itu masih terasa hingga kini.

Sungguh menyenangkan memiliki teman-teman safar seperti rombongan yang saya ikuti. Pembicaraannya seputar dalil-dalil, berusaha menghindari ghibah, dan masih banyak hal lain yang bikin hati ‘adem’. “Insyaa Allah dua minggu ke depan jika dilewati bersama mereka, saya betah”, saya membatin dalam hati. 😍

Kakak, ibu, dan nenek yang menyenangkan

Continue reading

Meneladani Sifat Tidur Rasulullah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (Q.S. An-Nabaa’: 9)

Setiap dari kita tentu pernah merasakan tidur. Luar biasanya, tidur itu adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Yang suka baca Alquran, coba deh dibuka ayat ke-23 surah Ar-Ruum.

Kebetulan saat menulis ini saya sedang mendengarkan ulang kajian Ust. Ajo Bendri mengenai ‘Waktu Berkualitas dengan Anak’ di mana salah satu waktu itu adalah waktu sebelum tidur. Ustadz Bendri menyebutkan salah satu hadits yang mengatakan bahwa tidur adalah saudaranya kematian. Maka beliau pun membiasakan pada anak-anaknya untuk melakukan dan mengucapkan hal baik sebelum tidur, seperti beristighfar dan bersyahadat.

Saya jadi teringat buku saku kecil yang saya punya. Melalui buku itu, kebiasaan tidur saya mulai berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang saya mencoba membagi isi buku tersebut agar tidur kita sama-sama bermanfaat. Saling belajar ya. 🙂

Berikut adalah beberapa sifat tidur Rasulullah.

Continue reading

Sun-Banana-Kiss

Beberapa hari lalu saya mencoba bereksperimen dengan buah paling endesss menurut saya. Apa itu? *drum roll* PISAAAAAAANG!!! 😀

image

Seperti itulah penampakan eksperimen menakjubkan sotoy saya. Pisang dipotong-potong dan dicemplungkan ke dalam jeruk sunkiss yang sudah dijus+diperas sedikit. Hasilnya? Segeeeeerrr beneeeeeerrr.

Hehehe begitulah. Selamat mencoba! Kalau akhirnya tidak sesuai selera, mohon jangan salahkan saya. Peace and love banana.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 9 Oktober 2014. 04:14 WITA, ditulis sembari menanti subuh.

TOEFL iBT

Sudah tidak asing dong mendengar kata TOEFL? Bagi yang belum tahu, intinya TOEFL itu merupakan sebuah standar untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris kita. TOEFL biasanya menjadi syarat ketika ingin melanjutkan studi ke luar negeri atau pun ketika melamar pekerjaan. Biasanya setahu saya, perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah membuat tes TOEFL sepaket dengan tes-tes lainnya (psikotest atau tes kepribadian).

TOEFL iBT (Internet-Based Test) sudah menjadi standar yang diakui lebih dari 8000 institusi di seluruh dunia. Bedanya dengan TOEFL PBT (Paper-Based Test) yang memiliki nilai maksimum 677, TOEFL iBT bernilai maksimum 120 yang dibagi ke dalam 4 section (reading, listening, writing, dan speaking). Jadi, ada kemampuan writing dan speaking juga yang diujikan.

Untuk mendaftar, silakan klik www.ets.org dan membuat account di sana. Saya mengambil TOEFL iBT pada tanggal 12 Januari 2014 dan melaksanakan tes di Plaza Central Sudirman, Jakarta. Tempat tes lain di Jakarta lainnya ada di daerah Mangga Dua. Karena saya dari Kalimantan Timur, bagi teman-teman yang berdomisili di Kaltim, lokasi tesnya ada di sekitar Universitas Mulawarman, Samarinda.

Untuk pembayaran tes, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama bisa langsung membayar menggunakan kartu kredit (ini merupakan cara paling cepat dan mudah). Kedua bisa dengan transfer antarBank, contohnya melalui Commonwealth Bank. Ketiga bisa membeli voucher pembayaran melalui lembaga ITC (International Test Centre) yang lokasinya berada di Plaza Central. Waktu itu saya membayar dengan cara ketiga dan biayanya menjadi 2,2 juta IDR (Oh iya, sebagai informasi bahwa IALF Kuningan tidak lagi memfasilitasi pembelian voucher). Harap diperhatikan untuk membayar paling lambat seminggu sebelum tes, karena jika tidak akan dikenai denda.

Secara singkat ini adalah tahapan pendaftaran TOEFL iBT:

  1. Login
  2. Membuat Profile
  3. Konfirmasi Profile
  4. Registrasi
  5. Memilih lokasi tes
  6. Memilih penerima skor
  7. Melakukan pembayaran
  8. Konfirmasi dan akses bonusnya

Untuk langkah nomor 6 harap dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena ETS akan mengirimkan hasil skor resmi kita kepada maksimal 4 penerima secara cuma-cuma! Iya, gratis tanpa ada biaya tambahan! Jadi, kita sudah harus tahu institusi mana saja yang akan kita tuju. Seperti saya misalnya memilih University Admissions Swedia sebagai penerima.

Waktu itu saya tes hari Minggu. Bagi teman-teman yang mungkin berangkat dari Depok seperti saya, rutenya adalah naik kereta dari stasiun Pondok Cina/UI jurusan Jatinegara dan turun di stasiun Sudirman. Setelah itu keluar menuju atas dan naik kopaja 19. Hanya saja karena hari Minggu merupakan Car Free Day, teman-teman bisa menggunakan ojeg agar bisa lewat gang-gang kecil atau berjalan kaki hehe.

Peserta diharuskan hadir 30 menit sebelum tes dimulai alias jam 7.30 sudah harus ada di lokasi. Lokasi tes berada di ITC lantai 15 dan 17 Plaza Central. Saya waktu itu sudah sampai jam 7 kurang (takut telat cyin tes pertama kali). Setelah datang, kita akan diberi nomor sesuai dengan urutan kedatangan. Nomor tersebut yang akan digunakan sebagai urutan registrasi ulang dan penentuan tempat duduk tes. Waktu datang ke sana pesertanya beragam, sebagian besar anak SMA yang mau melanjutkan S1 di luar negeri, pegawai kantoran, juga beberapa anak Korea (sipit-sipit anyeong haseo gitu sih).

Saya yang pertama dipanggil untuk registrasi ulang. Saya diminta untuk menunjukkan paspor yang digunakan saat registrasi dan difoto oleh pegawai ITC. Setelah selesai, peserta dipersilakan masuk ke dalam ruangan tes berukuran sekitar 5×7 meter dengan laptop-laptop yang sudah terhubung dengan test server. Ya mirip warnet begitu lah. Saya duduk di depan ujung kanan bersebelahan dengan anak korea cantik unyu gempal.

Tiap peserta disiapkan headphone yang akan digunakan saat listening+speaking section. Sebenarnya berfungsi mencegah kebisingan juga karena tiap peserta akan berbeda waktu pelaksanaan speaking section-nya (walaupun saya tetap aja terganggu sih sama suara-suara yang lain hiks). Selain itu, peserta juga diberikan kertas coretan dan pensil untuk mencatat poin-poin yang diperlukan saat tes. Jadi ga usah bawa sendiri, kertasnya juga boleh nambah kok kalau kurang.

Ujian diawali dengan tes reading. Waktunya kurang lebih 60 menit untuk 3 bacaan. Waktu itu saya mendapatkan bacaan mengenai ‘Centralized Societies‘, ‘Early Theories of Continental Drift‘, dan lupa satu lagi apa. Di sudut kanan atas laptop ada waktu yang terus berjalan mundur. Kalau tidak mau terdistrak, waktunya bisa di-close aja. Saran saya sih jangan, nanti jadi terlena kelamaan baca teks akademik itu hehe.

Selanjutnya saya menghadapi ujian listening. Saya merasa soal di sesi ini banyaaaaaaaak sekali. Udah gitu ga bisa review ke soal sebelumnya seperti reading section. Jawabnya pun harus cepat karena berpacu dengan waktu. Telinga harus fokus dengan suara percakapan dan perkuliahan di soal, sementara ada beberapa peserta yang mulai bicara kencang-kencang untuk speaking section. Saya usul volume laptopnya dinaikkan aja sampai maksimal. :p

Setelah itu saya beristirahat 10 menit. Di luar ruangan sudah disediakan minum oleh pihak ITC. Tes pun berlanjut dengan sesi speaking dan writing. Jujur saya paling takut di writing section karena untuk syarat di Swedia minimal nilai writing adalah 20. Soalnya kan nanti akan sering menulis akademik in English. Alhamdulillah terlampaui nilainya, meskipun ga bagus-bagus amat. *nari-nari di bawah hujan*

Tes pun berakhir kurang lebih pukul 13.30 dibarengi hujan yang turun lebat di seantero Jakarta. Hasil tes sudah di-publish di halaman account saya 10 hari kemudian (22 Januari 2014). Untuk pengiriman dari pihak ETS ke Swedia membutuhkan waktu lebih lama lagi, hampir sebulan. Pengiriman ke alamat rumah kita lebih lama lagi, sebulan lebih (punya saya sampai awal Maret ini).

Masing-masing institusi pun biasanya menetapkan syarat nilai minimal TOEFL iBT / IELTS berbeda-beda. Contohnya saja di Swedia minimal nilai TOEFL iBT adalah 90 dengan nilai writing minimal 20.

Untuk teman-teman yang sekiranya mau mengambil tes ini, saya punya beberapa tips:

  1. Lakukan persiapan dengan matang. Baca tuntas buku-buku mengenai TOEFL iBT, berlatih soal-soal gratis yang ada di situs ETS. Untuk speaking, sering-sering aja cuap-cuap sendiri. Kalau bisa berlatih dengan teman yang mother tongue-nya English.
  2. Malam menjelang tes silakan tidur lebih awal agar sampai lokasi tepat waktu. Karena ketika saya tes ada yang lari ngos-ngosan sampai lokasi karena khawatir telat.
  3. Saat tes berlangsung, tenang, santai, rileks aja. Terutama saat speaking section. Evaluator ingin mendengar suara kita dengan jelas dan bagaimana kita menyampaikan apa yang ada dalam kepala kita. Biasanya kalau tegang, suaranya jadi mengecil dan tidak jelas, apalagi kalau sudah mendengar peserta-peserta lain yang bicaranya lebih lancar. Kayak saya misalnya yang minder karena teman sebelah saya fluent sekali! Tapi saya cuek, wong waktu tes ngomongnya di depan laptop kok hehe.
  4. Karena ruangan tes yang cukup dingin, usahakan pakaian yang digunakan tidak terlalu tipis. Pakai jaket kalau perlu.
  5. Jangan sampai ketika hari-H tes kita lupa membawa DOKUMEN ASLI yang digunakan saat registrasi (paspor, KTP, SIM). Karena kalau sampai ketinggalan, bisa tidak diizinkan masuk ke ruangan tes. Mungkin ada beberapa petugas yang baik bisa membantu, tapi kalau tidak bagaimana? Terbuang percuma itu uang pendaftaran dan waktu luang ckck.

Sekian pengalaman saya dengan TOEFL iBT. Semoga bisa membantu teman-teman yang akan melaksanakan tes dalam waktu ke depan. Good luck, fellas! 😀

Boleh Dicoba

Hidup itu seperti roda berputar kalau kata banyak orang. Memang sih, kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Kadang merasa segala urusan bebas lancar seperti jalan tol, kadang pula merasa begitu banyak hambatan dalam berbagai urusan.

Ketika merasa hidup mulai sedikit “berantakan”, coba deh periksa hubungan dengan Allah. Bisa jadi ada ibadah yang tidak ikhlas kita jalankan, bisa jadi ada dzikir yang lupa kita ucapkan, bisa jadi ada kata maaf yang lupa kita ucapkan dari sebuah kesalahan, dan lain sebagainya. Barangkali karena Allah cinta, makanya Allah mau kita lebih dekat dengan-Nya.

Ketika saya sempat sakit di bulan Januari 2011, saya merasa demikian. Karena tidak sehat, segala amanah jadi sedikit berantakan. Kemudian ayah saya mengirimkan sebuah pesan yang menjadi pegangan saya hingga saat ini. Doa agar dilapangkan hati dan dimudahkan urusan:

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

(Q.S. Al-Kahfi [18] : 10)

dan

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekauan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

(Q.S. Thaahaa [20] : 25-28)

Akhirnya setelah itu saya mulai membiasakan membaca ayat-ayat tersebut seusai shalat. Tentu saja tidak serta merta segala urusan menjadi lancar, tetapi setidaknya kita tidak pernah berhenti menengadahkan tangan dan berdoa minta diberikan kelancaran. Allah tidak akan bosan mendengarnya. Selain itu minimal hati pun menjadi lebih tenang sebelum melanjutkan kegiatan.

Teman-teman boleh mengikuti cara ini. Sebenarnya ayat-ayat ini sudah sangat familiar di telinga kita (coba deh buka Alquran dan baca versi bahasa arabnya). Semoga hati kita selalu dilapangkan dan senantiasa diberi kemudahan dalam tiap urusan. Aamiin. 🙂