Karena Kita Tidak Tahu #24

Bismillaah…

Hampir seminggu lalu saya bertemu seorang teman saat kajian. Sudah cukup lama kami tidak bertatap muka, dan akhirnya berjumpa saat ia tengah hamil anak pertamanya. Saya pun memohon izin untuk memegang perutnya. Kemudian sang teman tiba-tiba berkata seperti ini,

“Ternyata emang rese’ ya Din ditanya-tanyain kenapa belum hamil.”

Dia pun bercerita bahwa di awal pernikahan ada teman sekantornya yang mungkin tiap hari atau tiap minggu menanyakan hal yang sama. Been there, dear! Hihihi. Tidak apa-apa, karena dari situ kita jadi belajar berempati.

Continue reading

Karena Kita Tidak Tahu #23

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan bertemu sebagian teman semasa SMA. Kami berencana berbuka puasa bersama di salah satu pondok pesantren. Di sela-sela menunggu yang lain datang, terjadilah obrolan ini.

Teman X: Berapa ya harga go pro begitu? (Sambil menunjuk go pro teman lain di dekat kami)

Saya: Nggak tahu. (Sambil nyengir)

Teman X: Paling bentar lagi turun harganya. Sebentar aja itu trend-nya. Nggak pengen, Din?

Saya: Hehe bukan kebutuhan.

Teman X: Memang calon ibu yang baik nih.

Dalam hati saya bertanya sendiri, nggak salah ngomong apa ya temen aye ini?

Selanjutnya di perjalanan pulang dia tiba-tiba berkata…

Continue reading

Karena Kita Tidak Tahu #22

Tidak pantas rasanya kita mencari-cari kesalahan orang lain. Bukan tugas kita menghitung-hitung kesalahan orang lain.

Sungguh tidak ada yang tahu bahwa si “dia” yang sering kita ghibahi sedang memperbaiki dirinya.

Kita juga tidak tahu si “dia” yang telah kita sebar aibnya barangkali tengah menutupi aib-aib kita.

Mungkin juga kita takkan tahu jika si “dia” yang sempat kita zhalimi senantiasa mendoakan pengampunan bagi kita.

Continue reading

Karena Kita Tidak Tahu #21

Sebut saja teman saya fulan. Hari ini di grup salah satu media komunikasi, kami mendapat kabar bahwa ia lulus CPNS di daerah Batam. Kebetulan saat ini Fulan berstatus mahasiswa pascasarjana salah satu PTN ternama. Ketika pengumuman itu diterima, maka ia memutuskan untuk berhenti S2 dan mulai merintis karier agar “maisyah” untuk “Aisyah” segera terkumpul. *ups*

Sebenarnya dari jauh-jauh hari, kami selaku rekan di grup tersebut, sudah mengetahui rencananya. Hal itu pun juga amanah dari orang tuanya bahwa kerjaan sebaiknya dipilih jika salah satu usahanya melamar kerja berhasil. Namun ternyata beberapa teman di grup ada yang lupa hingga berkata, “Jadi S2nya nggak dilanjutin nih? Yah SAYANG BANGET.”

Sayang banget.

Continue reading

Karena Kita Tidak Tahu #20

Dulu saya termasuk anak yang keras kepala. Sedikit bebal. Susah dibilangin lah pokoknya. Saya nggak bisa menerima nasihat dengan disindir, dimarahin, apalagi dibentak-bentak. Saya harus dengan kesadaran sendiri menyadari kesalahan yang saya perbuat.

Adalah teman baik saya (semoga dirahmati Allah) yang mengerti betul kondisi saya tersebut. Awal-awalnya kami memang sering berantem, diam-diaman dalam beberapa hari kalau ada konflik. Sampai dia menemukan metode jitu dalam mengingatkan ketika saya mulai “menyimpang”.

Ia tahu saya suka membaca. Jadi suatu waktu dia meminjamkan saya buku untuk dibaca. Yaudah saya baca aja tanpa tahu ada udang di balik batu. Setelah saya pinjam beberapa hari dia pun berkata, “Udah baca halaman sekian belum? Paham kan maksudnya?

Continue reading

Karena Kita Tidak Tahu #19

Saya tertegun saat membaca ini karena sebelumnya tidak tahu:

Diriwayatkan, bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka kepada Allah Ta’ala,

“Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami..”

Maka, Allah Ta’ala berfirman,

“Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.”

(HR. Ibnul Mubarak)

Ketertegunan itu pun dibarengi dengan rasa merinding serta haru. Rupanya sahabat-sahabat yang baik akan memberi syafa’at pada diri ini di hari akhir kelak.

Kemudian saya memutar pikiran saya ke beberapa tahun silam. Dulu saat berumur belasan, dengan mudahnya saya melabeli si A, B, C, atau D sebagai sahabat. Padahal kenyataannya semakin ke sini, yang benar-benar membersamai perjalanan saya bisa dihitung dengan jari. Mereka yang tidak menghujat jika saya salah, yang tidak akan menghakimi lebih dari yang sebenarnya, juga yang menghargai rahasia yang mungkin saya punya. Most importantly, mereka adalah orang-orang baik yang membuat saya lebih mengenal Allah.

Jika direnungkan lebih dalam lagi, mungkin saya bisa saja menangis. Entahlah apa mereka yang saya anggap sebagai sahabat akan mengingat saya di akhirat nanti. Saya tidak pernah tahu bagaimana diri ini dalam hati mereka. Pun saya tidak akan pernah tahu akhir perjalanan hidup ini, apakah kami akan bertemu di surga atau tidak. Memikirkannya saya ngeri.

Wahai sahabat, maukah kalian bertanya pada Allah sekiranya tidak menemukanku di surga nanti? :’)

Seorang yang bijak pernah berkata, “Real friends want to be neighbours in Jannah.” Ya, saya pun demikian. Saya ingin persahabatan dengan kalian kekal hingga ke surga. Saya masih ingin berbagi kisah dengan kalian di sana. Untuk itu, mari sama-sama kita berjuang untuk terus taat pada Allah. Semoga Allah memberikan rahmat pada kita untuk bertemu di surga-Nya. Aamiin.

Don't walk behind me, I may not lead. Don't walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and befriend till Jannah.

Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and befriend till Jannah.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 28 Agustus 2014. 23:03 WITA.

“Ya Allah, karuniakanlah pada kami sahabat-sahabat yang mengingatkan kami akan Engkau.”

The Grass Is (Not) Always Greener

Dindin gimana sih caranya bisa ceria terus kayak lo?“, ucap seorang kawan suatu saat.

Di lain kesempatan saat saya tertangkap bertampang lesu pernah ada yang menegur, “Mbak Din kok tumben murung.

Beda situasi, tapi respon sama yang bisa saya beri. Senyum simpul. Ya gimana dong, saya juga sama seperti yang lain. Sama-sama manusia yang pasti ada kalanya senang, ada masanya sedih. Namun jujur saya selalu menyesal kalau menampakkan wajah masam di hadapan yang lain, entah karena sedang sedih, bete, atau malah lapar hehe. Padahal jelas-jelas Rasulullah mengatakan kalau senyum manis di hadapan orang lain adalah ibadah. Hayooo~

Okay, back to topic. 😛

Kadang, apa yang tampak dari luar tidak melulu serupa dengan kondisi sebenarnya. Orang-orang yang kita lihat selalu ceria dan bahagia, bisa jadi menyimpan permasalahan hidup yang jauh lebih berat dari yang sedang kita hadapi. Hanya saja mereka memilih untuk menyimpan rapat masalah itu, tidak perlu ditunjukkan pada yang lain. They probably think that their personal problems aren’t for public.

Atau pernah nggak kita merasa kasihan dengan mereka yang (terlihat) hidupnya pas-pasan? Kita ambil contoh misalnya bapak tua penjual es kue di depan Stasiun Pondok Cina. Well, anak UI atau yang ngekos di sekitar Pocin pasti tahu deh. Mungkin dari kaca mata kita, atau mungkin kaca mata saya aja kali ya, bapak tersebut hidupnya kekurangan dan susah. Tapi siapa yang tahu kalau bapak tersebut bisa jadi merasa bahagia dan cukup atas hidup yang dimilikinya? Siapa yang tahu kalau bapak tersebut selalu bersyukur atas apapun rezeki yang ia terima?

Kemudian muncul kalimat yang sering terdengar di telinga: “Rumput tetangga selalu lebih hijau.”

Memandang apa yang dimiliki orang lain lebih baik dari yang kita punya. Melihat kehidupan orang lain lebih sempurna dari hidup kita. Padahal seseorang yang hidupnya mendekati sempurna, yang bagi kita memiliki segalanya, boleh jadi tidak bahagia dengan itu semua dan justru berangan-angan menjadi orang lain. Who knows? We never really know.

Saya pun tidak dapat membohongi diri saya jika saya pernah mengidamkan hidup yang orang lain punya. Dulu. Potret keluarga teman-teman yang menurut saya ideal, selalu berbahagia, dan hampir sempurna, ingin saya rasakan. Lalu saya lupa kalau itu hanya kulit luarannya saja. Tiap keluarga pastilah memiliki masalah berbeda di dalamnya, tidak melulu bahagia. Bukankah memang tabiat manusia menampakkan yang terbaik dari diri mereka dan menutupi kekurangannya?

Seram deh kalau penyakit hati yang bernama iri dan dengki itu bersarang di diri kita. Semoga masing-masing dari kita diberi kemampuan untuk merawat hati. Toh rasa-rasanya hidup ini lebih bahagia ketika bisa mensyukuri apa yang kita punya dari pada berandai-andai memiliki apa yang kita ingin punya. Hati yang lapang pun sesuatu yang tak ternilai harganya.

The grass is not always greener. It's just..........different.

The grass is not always greener. It’s just……….different.

Seperti status facebook saya Sabtu lalu. Tiap orang punya jatah hidup di dunia ini, sepaket lengkap dengan kesedihan dan kebahagiaannya masing-masing. Stop comparing your life to others’. We really have no idea what their life is all about. 🙂

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 25 Juni 2014. 12:40 WITA.

(P.S.: (a) Tadinya mau dikasih judul ‘Karena Kita Tidak Tahu #18’, tapi nggak jadi. Eh, tapi tetap masuk kategori K2T2 ding hehe. (b) Image source: tumblr)