Kendalikan Lisanmu

Bismillaah…

jaga lisan

Kemarin saya mendapat cerita dari kawan baik saya bahwa teman satu RTnya sebelum hamil pernah sampai tidak mau bertemu orang-orang karena lelah menghadapi ‘penilaian’ orang yang seolah menyalahkannya karena belum juga hamil. Yang bersangkutan sampai menangis tersedu-sedu saat menceritakannya pada kawan saya karena merasa tersudutkan. “Kamu sih begini dan begitu…”; “Kamu kali kurang begini dan begitu…”; dan berbagai kalimat judgemental lainnya.

Teriris hati ini mendengarnya. Saya bisa merasakan sesedih apa hatinya diburu perkataan itu berkali-kali.

Saya jadi ingat tetangga saya sendiri yang satu RT dengan saya. Beliau umurnya tiga tahun lebih tua dan menikah tiga bulan setelah saya menikah. Usia pernikahan kami sama-sama sudah dua tahun lebih beberapa bulan. Qaddarallaahu wa maa syaa-a fa’al, kami berdua ke mana-mana masih bersama suami masing-masing alias belum memiliki anak.

Tiap kali mbak tetangga menceritakan kesedihannya tentang “pertanyaan” orang-orang, jujur saja saya tidak tega. Terakhir dia berkaca-kaca di depan saya. Rasa ikhlas yang berusaha ia bangun dengan susah payah terkadang hancur dari faktor eksternal yang kurang memperhatikan lisannya saat bertanya.

Tidak semua orang yang ditanya “Kok belum hamil?” atau “Gimana, udah isi belum?” bisa dengan lapang dada menerimanya. Contoh perumpaan nyatanya saya dan tetangga saya. Saya sendiri sudah cuek dan santai tiap kali ditanya, tidak dengan dia. Saya baik-baik saja, dia tidak.

Mungkin yang bertanya atau memberikan pernyataan judgemental tidak pernah tahu seberapa keras dia berusaha, seberapa kuat doa-doanya pada Allah, seberapa sering air matanya menetes.

Andai saja tiap orang paham bahwa masing-masing individu ada ujiannya. Yang single diuji, yang sudah menikah diuji, yang belum punya anak diuji, yang sudah memiliki anak pun diuji, dan lain sebagainya. Andai mereka tahu bahwa matematikaNya Allah berbeda dengan matematika kita. Semua sudah Allah tuliskan 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Allah telah tetapkan kapan tiap wanita akan hamil. Jika itu terjadi, kehamilan takkan terlambat atau pun terlalu cepat datang. Selalu tepat waktu.

Jadi, jangan lagi lukai hati saudari-saudari kita yang perutnya belum terlihat membesar. Jangan menambah kepedihan hatinya. Hargai kondisinya, tanpa perlu bertanya basa-basi yang basi.

Doakan dalam diam untuknya dan kebahagiaan rumah tangganya. Bahagia itu hak semua orang. Yang single, yang menikah belum memiliki anak, yang menikah mempunyai anak, yang sudah memiliki cucu, semua berhak untuk bahagia.

Semoga Allah senantiasa menjaga lisan kita dari berkata yang tidak baik, mengumpat, mencela, dan menyakiti hati saudara seiman.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, hadits no.10; dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.”

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 15 Februari 2018. Menulis dengan ditemani susu coklat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s