Indahnya Menuntut Ilmu

book and pen

Image source: tistory.com

Bismillaah…

Pernah beberapa bulan yang lalu saat menghadiri wisuda adik nomor dua dan ikut suami cuti, saya hampir sebulan tidak datang kajian rutin mingguan. Absen dulu duduk di taman-taman surga (dunia). Ternyata serasa ada yang kurang. Jujur saja jiwa sedikit terasa kosong.

Kemudian saat akhirnya kembali hadir, hati serasa kembali terisi. Ruhnya tak lagi kosong. Saya tidak melebih-lebihkan ini karena itulah yang saya rasakan. Masalah yang sedang dihadapi sesaat sebelum datang kajian seolah terjawab ketika duduk mendengarkan kajian. Solusi hidup itu terjawab melalui hadir di majelis ilmu.

Meskipun kondisi lagi gak mood, banyak masalah mendera, hutang melilit atau masih dirundung kesedihan, hadirilah majelis taklim. Bisa jadi di majelis itulah kita menemukan solusi dari masalah yg kita hadapi.

(Ustadz Abu Ya’la Hizbul Majid)

Saya ingat saat hadir lagi selepas absen kajian, ustadz membahas kitab Fathul Majid tentang ‘nikmat Allah’. Ustadz pun membuka kajian dengan mengingatkan kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli haal” jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keingingan kita. Karena apa yang menimpa kita meskipun tidak kita inginkan tidak ada apa-apanya dibandingkan yang menimpa umat terdahulu. Di situ saya merasa tersentil karena saya sedikit murung sebelum menuju masjid, dan ketika mendengar itu hati saya tiba-tiba saja menjadi lebih riang. Masyaa Allah wa alhamdulillaah…

Tidak sekali-dua kali hal itu terjadi, dan tidak hanya saya yang merasakannya. Beberapa teman dekat juga pernah mengutarakan hal serupa. Apa yang menjadi kegelisahan hati mereka seakan terjawab ketika akhirnya duduk di majelis ilmu. Yang tadinya langkah kaki terasa berat untuk berangkat menuju masjid menjadi luapan rasa syukur karena sama sekali tak rugi ketika kembali pulang ke rumah dengan membawa tambahan ilmu dan “jawaban” atas persoalan hidup.

Ketika duduk di majelis ilmu jangan lupa mencatat setiap yang kita dengar. Hal ini dikarenakan lemahnya daya ingat kita sebagai manusia. Dengan mencatat, kita menjadi lebih fokus terhadap apa yang disampaikan dan ingatan insyaa Allah menjadi lebih kuat. Selain itu, ketika kita mencatat itu menunjukkan perhatian kita yang serius terhadap ilmu dari agama yang penuh keberkahan ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya

(Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026)

sumber: muslim.or.id

Kemudian, saat ilmu telah masuk ke dalam ingatan kita, amalkanlah agar tak menjadi sia-sia. Tunjukkanlah kepada sekitar bahwa kita adalah seorang muslim dan muslimah dengan akhlak yang baik. Perlihatkan kepada dunia wajah islam yang sesungguhnya, yang penuh dengan kebaikan.

***

Sekali lagi saya tak bosan mengatakan betapa pentingnya ilmu agama sebagai penuntun kita menjalani hari-hari. Kita butuh untuk mempelajarinya. Kita harus tahu mengenai tata cara shalat yang benar, puasa, zakat, umrah atau haji yang sesuai syari’at, juga hal-hal muamalah yang kita butuhkan. Jika niat kita benar dan tekad kita kuat, semoga Allah membantu kita agar mudah memahami ilmu agama yang bersumber dari alquran dan sunnah Rasulullah.

Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama.

(H.R. Bukhari dan Muslim)

Agar amal kita semua menjadi amal shalih, maka saya dengan senang hati mengajak saudara-saudariku semua untuk bersemangat datang ke majelis ilmu. Rasakanlah kenikmatannya.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 25 Desember 2017. Ditulis selagi menunggu suami pulang kajian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s