Memorable Journey (2)

Bismillaah…

“Yuk, kita lihat zamzam tower. Udah nyala atau belum lampunya”, ajak suami selepas shalat isya di hari ke-29 Ramadhan 1437 H.

Saya baru tahu bahwa di KSA lampu di puncak zamzam tower akan menyala sebagai tanda Ramadhan telah berakhir dan bulan Syawal telah dimulai. Lampu itu akan bersinar semalaman, sehingga seluruh jazirah Arab akan melihatnya dan tahu bahwa esok hari hari raya Idul Fitri. Infonya sih demikian yang saya terima dari teman grup safar.

Qadarullah wa maa syaa-a fa’al. Saat berkeliling bersama suami, kami tidak mendapati lampu itu menyala. Itu berarti kami harus melaksanakan shalat tarawih satu malam lagi dan puasa Ramadhan genap 30 hari.

Keesokan harinya saya begitu takjub dengan terang-benderang lampu itu. Tanda Ramadhan berakhir. Tanda hari raya umat islam seluruh dunia tiba. Saya benar-benar bahagia menyaksikannya, hingga lupa saat itu imun sedang tidak bersahabat.

Image source: google

Masih terekam dengan jelas dini hari 1 Syawal setahun lalu. Saya dan suami berjalan kaki dari penginapan menuju Masjidil Haram pukul 3 lewat sedikit. Harapan kami tempat untuk shalat di dalam masjid masih ada. Namun ternyata jam segitu sudah termasuk “terlambat” untuk datang. Masjid sudah penuh sesak hingga pelatarannya. Masyaa Allah…

Alhamdulillah kami masih kebagian tempat di lantai tiga. Gema takbir tak henti dikumandangkan sejak selesai shalat subuh hingga shalat Ied akan dimulai. Tak jarang di sekeliling saya membagikan makanan yang mereka punya untuk kanan-kirinya. Karena sunnah hari raya salah satunya adalah makan sebelum shalat Iedul Fitri.

Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum shalat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rasululloh mencegah persangkaan ini.

(Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)

Sumber: https://muslim.or.id/370-bimbingan-idul-fitri.html

Usai shalat Ied, satu sama lain saling bersalaman dan mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tak lupa saling tersenyum satu sama lain, tak pandang dari mana ia berasal. Saya pun tidak lupa mencium tangan suami saya sambil terus bersyukur dalam hati karena telah diajak ke sini di bulan penuh berkah.

Anak-anak kecil Arab begitu menggemaskan di hari itu. Orang-orang begitu bersuka cita. Teman-teman safar pun demikian, karena tetap bisa menyantap hidangan khas lebaran meskipun jauh dari tanah air. Jazaakumullaahu khayran tim catering yang masakannya super enak!

Ya Allah, indah sekali mengingat semua itu.

Semoga kelak dapat kembali ke tanah yang Engkau berkahi ini, mengukir kembali berbagai kenangan manis di dalamnya.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 3 minggu selepas lebaran. Ditulis di sela-sela packing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s