Memorable Journey (1)

Bismillaah…

Rasanya masih seperti mimpi jika mengingat perjalanan yang sangat berkesan hampir setahun lalu. Namun tentu saja ini bukan mimpi, karena Allah sudah menakdirkannya. Hanya saja letupan kebahagiaan itu masih terasa hingga kini.

Sungguh menyenangkan memiliki teman-teman safar seperti rombongan yang saya ikuti. Pembicaraannya seputar dalil-dalil, berusaha menghindari ghibah, dan masih banyak hal lain yang bikin hati ‘adem’. “Insyaa Allah dua minggu ke depan jika dilewati bersama mereka, saya betah”, saya membatin dalam hati. ๐Ÿ˜

Kakak, ibu, dan nenek yang menyenangkan

Maka berangkatlah kami menghabiskan minggu terakhir Ramadhan di tanah yang Allah berkahi. Setibanya di sana, kami langsung menyantap sahur Jumat dini hari. Nikmat sekali makan senampan rame-rame alhamdulillah.

Mata saya tak berhenti berbinar, begitu pun hati yang selalu berdesir. Saya tidak menyangka bahwa kaki saya telah ada di kota ini. Berkali-kali saya ucapkan terima kasih pada suami yang ada di sebelah saya karena sudah mengajak istrinya kemari. Saya genggam tangannya erat-erat karena saya terlalu bahagia.

ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู‹ ููู‰ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุชูŽู‚ู’ุถูู‰ ุญูŽุฌูŽู‘ุฉู‹ ู…ูŽุนูู‰

โ€œSesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.โ€

(H.R. Bukhari no. 1863)

Sumber : https://rumaysho.com/2657-umrah-ramadhan-seperti-haji-bersama-nabi336.html

Ternyata ini merupakan cita-cita suami sejak lama untuk menghabiskan sepuluh malam terakhir Ramadhan di tanah haram, bersama istrinya. Masyaa Allah, tabaarakallaah… #terharu ๐Ÿ˜ญ

Dua kota penuh berkah ini begitu menenangkan. Ada rasa damai menyaksikan tiap individu semangat beribadah. Ada yang menyeruak di dalam dada tiap mendengar lantunan adzan dan bacaan imam masjid ketika shalat. Ada keharuan tiap menjelang berbuka puasa karena penduduk lokal berlomba-lomba memberi makan untuk ifthar, sehingga tidak akan ada yang kelaparan. Ya Allah, boleh di sini aja terus nggak?

persiapan ifthar di Masjid Nabawi

Awalnya saya sempat khawatir apakah akan kuat berpuasa di kota dengan suhu yang lebih tinggi dari Indonesia. Bahkan sempat satu hari ketika di sana suhunya mencapai 50 derajat celcius. Namun rupanya hal itu sama sekali tidak menjadi penghalang. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat… 

Ini beberapa tips dari saya bagi teman-teman yang barangkali ingin menghabiskan ramadhan di tanah suci.

  1. Bawa semprotan kecil. Semprotan ini sangat berguna untuk beberapa hal, antara lain: menyegarkan wajah kita ketika udara terasa begitu panas menyengat, untuk berwudhu ketika batal karena sekali berdiri meninggalkan tempat shalat akan sulit mendapatkan tempat lagi, dll. Jika air di semprotan habis, bisa diisi ulang dengan zamzam.
  2. Bawa botol minum dan buatlah nabeez. Nabeez adalah infused water kurma. Kurma yang dimasukkan berjumlah ganjil, boleh tiga, lima, atau tujuh. Insyaa Allah stamina saat puasa semakin baik.
  3. Bawa pelembab. Pelembab ini bisa digunakan untuk bibir yang kering atau bagian kulit lain yang kering dan pecah-pecah.
  4. Tidak perlu membawa handuk. Cukup gunakan kanebo bersih untuk mengeringkan badan selepas mandi. Kanebo bisa disimpan dalam wadah tertutup. Tidak memakan tempat yang banyak di koper.
  5. Bawa peralatan mandi dan skin care ukuran traveling. Jadi tidak perlu dibawa yang normal size.
  6. Bawa pakaian secukupnya. Jika perlu membawa perlengkapan mencuci dan hanger agar baju yang kotor bisa segera dicuci di kamar mandi penginapan. Untuk pakaian dalam, bisa membawa yang sekali pakai buang.
  7. Bawa tissue basah. Sudah cukup jelas kegunaannya.
  8. Bawa obat-obatan pribadi dan vitamin. Karena perubahan suhu yang ekstrim bisa jadi tak dapat ditoleransi oleh tubuh.
  9. Hadir lebih awal di masjid saat malam-malam ganjil. Karena di malam tersebut penduduk Arab sangat ramai untuk berdiam diri di masjid, sehingga terlambat sedikit saja akan sulit masuk ke dalam masjid.
  10. Isi pulsa. Hal ini menurut saya sangat penting agar tetap bisa berkomunikasi dengan suami ketika ingin janjian sahur bersama atau thawaf sunnah bersama.

The centre of the universe

Entah harus berapa kali lagi saya berterima kasih pada suami atas hadiah yang sangat indah ini. Hadiah yang berkali lipat lebih berharga dari berlian, yang jauh lebih bernilai dari liburan berkeliling Indonesia sekali pun. Hadiah yang atas izin Allah berasal dari hasil keringatnya. Jazaakallaahu khayran yaa zawjy.

Dalam kitab At-tafsir Al-Muyassar,

ุฑุจู†ุง ุฅู†ู†ูŠ ูุนู„ุช ุฐู„ูƒ ุจุฃู…ุฑูƒ; ู„ูƒูŠ ูŠุคุฏูˆุง ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจุญุฏูˆุฏู‡ุงุŒ ูุงุฌุนู„ ู‚ู„ูˆุจ ุจุนุถ ุฎู„ู‚ูƒ ุชูŽู†ุฒุน ุฅู„ูŠู‡ู… ูˆุชุญู†ู‘ู

โ€œ(nabi Ibrahim berkata) Wahai Rabb sesungguhnya saya melakukan ini karena perintah-Mu, agar mereka menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan-Mu, jadikan hati sebagian mahkluk-Mu agar cenderung kepada kaโ€™bah/Mekkah dan mencintainya.โ€ (At-tafsir Al-Muyassar, hal 260)

sumber: https://muslimafiyah.com/ketagihan-pengen-ke-kabah.html

Semoga Allah selalu memberi rindu untuk kembali ke sana. Semoga Allah memudahkan saudara-saudariku untuk memiliki kesempatan mengunjungi dua kota Nabi di kota suci suatu hari nanti. Aamiin..

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 1 Ramadhan 1438 H. It was indeed a memorable journey!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s