Karena Kita Tidak Tahu #24

Bismillaah…

Hampir seminggu lalu saya bertemu seorang teman saat kajian. Sudah cukup lama kami tidak bertatap muka, dan akhirnya berjumpa saat ia tengah hamil anak pertamanya. Saya pun memohon izin untuk memegang perutnya. Kemudian sang teman tiba-tiba berkata seperti ini,

“Ternyata emang rese’ ya Din ditanya-tanyain kenapa belum hamil.”

Dia pun bercerita bahwa di awal pernikahan ada teman sekantornya yang mungkin tiap hari atau tiap minggu menanyakan hal yang sama. Been there, dear! Hihihi. Tidak apa-apa, karena dari situ kita jadi belajar berempati.

~~~

Merasa nggak kalau kadang-kadang lisan kita ini mudah sekali men-judge kehidupan orang lain? Tanpa berusaha memberikan udzur padanya, tanpa mau menempatkan diri menjadi dirinya. Padahal kita sama sekali tidak tahu seperti apa yang terjadi di balik dinding rumahnya, apalagi di dalam hatinya.

Saya sendiri juga terkadang masih suka keceplosan bicara dengan tendensi ‘memberi penilaian terlalu dini’ kepada lawan bicara. Seperti misal, “Perutnya kok belum kelihatan nih kalau lagi hamil”, yang saya ucapkan pada kawan saya hampir seminggu lalu. Beberapa menit kemudian saya menyesalinya karena saya lupa bahwa kehamilannya masih trimester pertama dan sering memuntahkan apapun yang dimakannya. Saya tidak pernah tahu sekeras apa usahanya agar apa yang dikonsumsinya bisa masuk dengan enak ke dalam perut dan gizinya serta anaknya tercukupi sampai ia menceritakannya. Astaghfirullah, semoga dia memaafkan saya bila sakit hati saat itu.

Di sekitar kita pun seringkali kita terdengar komentar-komentar serupa.

Contoh 1: “Kok anaknya jatuh dibiarin aja sih.” Padahal kita tidak pernah tahu bahwa mungkin kedua orang tuanya sedang dalam tahap mengedukasi anaknya mengenai rasa sakit dan cara mengatasinya, juga mengenal macam-macam emosi agar bisa mengendalikannya.

Contoh 2: “Tiap bulan bajunya baru melulu deh.” Padahal kita tidak pernah tahu sebanyak apa sedekahnya atau pun berapa baju yang ia sumbangkan saat ada baju baru masuk lemarinya.”

Contoh 3: “Kenapa naik motor ya suami istri itu, padahal ada mobil parkir di garasinya.” Padahal kita tidak tahu barangkali mereka ingin merasakan kembali kebersamaan berdua di atas motor tuanya seperti awal pernikahan mereka.

Contoh 4: “Ngomongnya kenceng amat ke ibunya sendiri.” Padahal kita tidak pernah tahu kalau ibunya bisa jadi memiliki gangguan pendengaran dan setiap yang berbicara padanya harus sedikit mengeraskan suara agar terdengar.

Contoh 5: “Berantakan banget sih rumahnya, pasti pemalas deh istrinya.” Padahal kita tidak tahu karena boleh jadi istrinya baru saja sakit saat kita bertamu ke rumahnya, atau mungkin saat itu sedang kelelahan mengurus hal lainnya dan belum sempat membereskan rumah.

Dan masih banyak contoh-contoh lain yang sangat dekat di sekitar kita.

Hal itu sesungguhnya manusiawi karena sebagai manusia pengetahuan kita sangat terbatas. Kita hanya bisa menilai dari apa yang tampak oleh mata kita. Namun, tak jua lantas segera ‘menghakimi’tanpa mendengar lebih dulu hal yang sebenarnya. 

Berulang kali saya mengatakan kepada diri sendiri agar menghindari berburuk sangka pada orang lain. Bila hadir pikiran yang kurang baik tentang orang lain, saya berusaha mengalihkannya dengan mengingat segala kebaikannya. Siapa pun yang memiliki iman di hatinya tentunya sangat ingin memerangi godaan syaithan dalam bentuk apapun, termasuk dalam menebar kebencian terhadap saudara sendiri.

Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata -sebagaimana dinukil oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/285)-:

إِذّا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ الْعُذْرَ جهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْرًا فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ: لَعَلَّ لأَخِيْ عُذْرًا لاَ أَعْلَمُهُ

“Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kau tidak sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu, jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, ‘Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui’.”

sumber: https://firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/61-hak-hak-persaudaraan-bag-4-jauhillah-berprasangka-buruk-pada-saudara-kita

Mulai sekarang dan seterusnya, semoga Allah memudahkan kita untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain atau melihat kekurangannya. Banyak-banyaklah memberi udzur pada saudara kita. Itu merupakan hak mereka. Hal itu adalah jalan para salafus shalih.

stop tajassus

Dahulukan empati dibanding prasangka. Jangan kita biarkan hati kita berpenyakit karena terlalu sering berprasangka buruk pada saudara sendiri. Hati yang sehat akan menahan lisan kita dalam menyakiti orang lain. Tak perlu mencampuri hal yang di luar batas kemampuan kita, simply karena kita tidak tahu.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 9 Maret 2017. Before bed times.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s