Especially For You

Bismillaah… 

Tiba-tiba siang ini saya ingat pernah menulis mengenai kriteria harus bisa masak dalam mencari istri. Saya pun senyum-senyum mengingat pembelajaran untuk pandai memasak hingga hari ini. Hihihi…

Sejak awal proses ta’aruf, saya sudah berterus terang pada suami (saat itu masih calon) bahwa saya belum begitu pandai memasak. BELUM ya, bukannya TIDAK bisa. Indahnya skenario Allah,  ternyata suami pun mantap maju dan melanjutkan pada proses selanjutnya (khitbah), tanpa memedulikan kekurangan saya tersebut. Hal itu bukan kriteria mendasarnya dalam memilih istri karena tidak ada syarat ‘harus pandai memasak’.

Sejak dulu saya selalu menaruh rasa kagum pada teman-teman yang tangannya terampil meracik bumbu-bumbu menjadi masakan yang lezat. Saya juga takjub dengan mereka yang bisa menyulap bahan-bahan yang tersisa di kulkas menjadi makanan yang bisa disantap. Tidak jarang saya bergumam dalam hati, “Kapan aye bisa begitu ya?”

Ketika akhirnya menikah, semua penuh ketiba-tibaan. Tiba-tiba saya senang belanja ke pasar, tiba-tiba saya suka mencoba resep-resep baru, tiba-tiba saya suka menawar (eh, ini mah dari dulu 😁), tiba-tiba gerah lihat wastafel penuh cucian kotor, dan serba tiba-tiba yang lain. Seolah-olah itu sudah menjadi naluri seorang perempuan saat menjadi istri.

Pada awalnya saya sering bertanya resep ke mama. Masak sayur ini butuh berapa bawang merah dan putih, masak lauk itu apa saja bumbunya, masak anu harus sedia apa saja, dan sebagainya. Tak jarang saya menelepon mertua untuk tahu resep yang biasa dimasak di rumah dan suami doyan. Saya jadi senang berkutat di dapur meskipun dulu itu tempat yang saya “musuhi”. #kabuuuuurrr

Masih terekam jelas di ingatan saya masakan yang pertama kali saya hidangkan untuk suami adalah cah kangkung, udang goreng, dan tempe goreng. Lucunya saya menggorengnya terlalu sedikit, lupa kalau itu untuk makan berdua. Hahaha. Suami saat itu hanya tersenyum dan berkata, “nggak apa-apa.” Alhamdulillah fiuuuuhh. 😅

Hari-hari selanjutnya kadang saya masak terlalu banyak untuk berdua, kadang langsung ludes dalam sekali makan (padahal niatnya sampai malam), kadang keasinan, kadang kurang garam, kadang gosong, kadang terlalu manis. Namun, saya nikmati proses itu karena saya memiliki tujuan. Saya ingin menyajikan yang terbaik dan ingin menjadi istri dan ibu yang masakannya dirindukan oleh anggota keluarganya, seperti saya dan suami yang selalu rindu masakan mama dan ibuk.

Belajar membuat home-made pizza

Saya tadinya benar-benar payah dalam hal memasak. Namun suami tidak pernah marah. Apapun yang disajikan di atas meja selalu dimakan. Tidak pernah mencela, tidak sekali pun menghina. Ia selalu mengapresiasi tiap usaha saya.

Saya tadinya benar-benar payah dalam hal memasak. Namun suami tak pernah habis rasa sabarnya. Ia selalu berkata ‘tidak apa-apa’ jika menu yang saya masak masih itu-itu saja. Ia sejak awal percaya bahwa saya akan pandai, karena baginya, saya pembelajar yang cepat.

Saya tadinya benar-benar payah dalam hal memasak. Namun suami tidak pernah menyerah. Semangatnya selalu terlihat kalau saya minta ditemani belanja. Kebaikannya semacam energi bagi saya untuk terus giat belajar.

Maka, di sinilah saya sekarang. Sedang ber-progress menjadi istri yang pandai memanjakan lidah suami dengan masakan sendiri, hasil usaha sendiri. Tidak lagi hanya cah kangkung dan udang serta tempe goreng yang bisa saya masak. Haadza min fadhli Rabbi, alhamdulillaah… 

Rawon ala kadarnya

Gammi bawis khas Bontang

Tongseng sapi yang (sepertinya) kurang kecap

Saya tahu masakan-masakan di atas belum ada apa-apanya dibanding masakan teman-teman lain yang memang ahli urusan dapur. Biasa aja dan sangat sederhana, nggak komersil gitu kayaknya. Hehehe.

Namun, itu semua adalah “jampi-jampi” cinta untuk suami saya. Ada cinta di tiap masakan istri untuk suaminya. Saya belajar, betul-betul dari nol, atau bahkan mungkin negatif. 😂 Tetapi semangat dari suami, mama, dan ibu mertua selalu memacu saya untuk terus menaiki tangga pembelajaran hingga nantinya menjadi seorang yang benar-benar pandai memasak.

“Mama dulu juga nggak bisa Kak, nanti in syaa Allah bisa sendiri.”

“Pasti enak. Menantuku pasti bisa masak lebih enak dari ibuk!”

“Masakan buatan istri selalu yang paling enak.”

Ma syaa Allah… Baarakallaahu fiikum. Nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan, Din? Dikelilingi orang-orang yang percaya bahwa kamu bisa dan tidak menyerah akanmu.

***

Jadi teman-teman shalihahku yang mungkin merasa minder akan belum pandainya kalian dalam hal memasak, jangan khawatir! Akan ada seseorang yang menjadikanmu istri tanpa memandang kekuranganmu itu, selama tekadmu untuk belajar begitu kuat.

Kalau pun ada satu atau dua orang yang mencemooh karena kalian belum pandai memasak, abaikan saja! Karena ada orang-orang yang tidak henti menyemangatimu dan mengapresiasi sekecil apapun usahamu. Orang-orang itulah yang mengerti bahwa dari sepiring sajian untuk keluarga, ada banyak usaha di dalamnya. Mulai dari memilih bahan, membersihkannya, mencucinya, memotongnya, mengirisnya, dan mengolahnya hingga siap santap.

Tetap semangat menjadi pribadi yang lebih baik, tetap semangat belajar menjadi istri yang baik! Semoga pahala Allah mengalir untukmu dari makanan yang dimakan suamimu dan menjadi tenaga untuknya mencari nafkah. Aamiin… 😊

Terima kasih terkhusus untuk suamiku. Terima kasih atas pendampingan dan penerimaannya, serta kesabarannya. Meskipun masakan istrinya masih dalam level ‘lumayan’, semoga kamu tahu bahwa itu semua dibuat dengan penuh cinta dan khusus hanya untukmu. *eeeaaaa

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 22 Februari 2017 ; 14.54 WITA. Ditemani hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s