Ilmu Rendah Hati

Bismillaah… 

Bontang dan hujan sore hari seringkali sukses membuat saya merenungkan banyak hal. Entah untuk menelusuri kenangan terdahulu atau sekadar berkontemplasi akan sesuatu. Suasananya cukup pas dengan segala kesejukan dan kesyahduannya.

Sore ini selepas mengantar pulang dua orang teman dari menghadiri sebuah sosialisasi, hujan turun dengan derasnya. Pikiran saya pun berkelana ke mana-mana. Benar-benar divergen pemikiran saya. 😅

Di era media sosial yang beragam jenisnya sekarang ini, sungguh celah setan untuk menggoda agar seseorang pamer sangat besar. Beberapa ada yang mengatakan bahwa medsos adalah urusan niat setiap orang. Niat itu masalah hati. Iya, saya sepakat. Dengan demikian, bukankah mengendalikannya menjadi lebih sulit? Karena hanya diri kita yang tahu, hanya kita yang memiliki kendali.

hayaa

“Dikit-dikit dikaitin agama, bikin status ini ga boleh, posting itu ga boleh. “

“Apaan sih semuanya dihubung-hubungin ke agama? Selow aja keleus.”

“Terserah gue dong mau posting apaan, nggak usah ceramah deh!”

“Kalau mau tausiyah di postingan ini, langsung block!”

Aduhai… Tidak ingatkah saat seseorang enggan menerima kebenaran, itu adalah benih-benih tinggi hati?  Terlebih saat kebenaran disampaikan mungkin oleh seorang yang usianya jauh lebih muda. Atau kebenaran itu datang dari seseorang yang dianggap tak lebih berilmu dibanding dirinya.

Kerendahan hati adalah ketika kita tidak merasa lebih dari siapa pun, karena kita manusia. Kita punya aib, cela, kekurangan, yang dengan sangat baiknya masih Allah tutupi.

Kerendahan hati juga saat kita tak meremehkan siapa pun yang barangkali kasat mata amal shalihnya terlihat kurang. Karena yang berhak menilai dan merahmati hanya Allah, bukan kita yang menjadi hakim amalan manusia lain.

Kerendahan hati adalah ketika kita yakin bahwa harta, pangkat, dan status sosial bukan penghalang untuk menghargai orang lain. Karena yang membedakan di mata Allah yaitu derajat ketakwaan kita.

Kerendahan hati juga saat kita merasa tak pantas menyombongkan diri, karena sejatinya kita tidak memiliki apapun. Meski kesombongan kita hanya sebesar biji sawi, kita akan terhalang masuk surga. 😣

Ya Rabb, ilmu rendah hati ini sangat sulit. Terlebih di zaman ini, zaman yang penuh dengan fitnah. Kami sadar hati kami lemah.

Manusia saja, jika menemukan seseorang yang suka menyombongkan diri, tentu tidak akan suka. Bagaimana denganMu, ya Allah? 😭

Begitu pun sebaliknya. Saat melihat mereka yang tawadhu’, mereka yang selalu merasa diawasi Allah dan takut azabNya datang tiba-tiba, Allah akan timbulkan keteduhan dan kesenangan di hati manusia yang mengenalnya akan kerendahhatian mereka.

Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wa sallam bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian ber-tawadhu kecuali Allah akan meninggikannya derajatnya.

(H.R. Muslim, no.2588)

Sumber: https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html

Mari, dari sekarang selalu periksa hati kita. Adakah benih-benih kesombongan di sana? Introspeksi dan perbaharui selalu niat kita. Ingatlah bahwa Allah mengetahui apa-apa yang tampak dan yang tersembunyi.

Semoga masing-masing dari kita senantiasa diberi kemudahan untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu rendah hati.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, penghujung Januari 2017. 17.30 WITA, menanti suami pulang kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s