Menikah = Mematikan Potensi?

Bismillaah…

mr-mrs

Image source: pinterest

Pernikahan adalah sebuah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). Apa-apa yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah. Ada komitmen dan tanggung jawab di dalamnya. Tentunya semua dilakukan dengan penuh kasih sayang di antara dua insan yang berlainan jenis.

Pasangan yang baik saya rasa akan mengizinkan orang yang dicintainya untuk bahagia menjadi dirinya sendiri, tanpa kehilangan jati diri atau berusaha menjadi orang lain.

Pasangan yang baik juga tidak akan membiarkan pasangannya terjebak dalam zona nyaman. Dia akan berusaha membantu memaksimalkan potensi dan kelebihan yang dimiliki pasangannya.

Saya cukup kaget ketika di minggu awal pernikahan suami saya berterus terang bahwa ia adalah pembaca setia blog saya sejak kami ta’aruf. Ia sudah membaca mungkin semua tulisan saya. Bisa gitu ya hehehe.

“Nggak mau dibukuin aja tulisan-tulisannya? Bikin kumpulan cerpen atau kisah nyata gitu. Aku suka tulisanmu”, kata mas suami suatu hari.

That’s the way he encouraged me to keep writing! Walaupun akhirnya saya jawab tidak hehe. Satu orang saja, yaitu pasangan saya sendiri yang menyukai tulisan saya, itu sudah lebih dari cukup. Saya tidak mau jadi terkenal (afwan kepedean ya 😬) dan lagipula tidak percaya diri untuk membukukan tulisan saya. I write to express, not to impress.

Itulah yang saya rasakan. Dengan menikahi suami saya, saya sama sekali tidak merasa ia menghambat potensi saya. Justru mas suami menjadi support system yang sangat baik dalam mendorong saya untuk tumbuh dan berkembang menggapai impian saya. Dia betul-betul membantu melejitkan potensi saya. 

Pernah saya iseng menanyakan bagaimana pendapatnya jika saya melanjutkan studi S2. Ia tidak melarang, bahkan dengan tulus mengucapkan, “Ibu anak-anakku harus cerdas, apalagi kalau S2nya tentang agama.” Wah, dijawabnya serius hihi, padahal hanya pertanyaan iseng. Toh saya belum sanggup LDRan. *tsaaaaah

Jadi saya suka sedih kalau mendengar cerita kawan-kawan yang merasa “terpenjara” setelah menikah. Kalau seperti itu yang dirasakan, mungkin perlu dicek kembali tujuan pernikahannya. Karena bagi saya, dua orang yang menikah harus bisa bersinergi mencapai tujuan-tujuan hidup mereka. Harus bisa membantu pasangannya menjadi versi terbaik dirinya, dalam hal dunia dan terutama akhiratnya.

Pasangan itu saling melengkapi satu sama lain. Saat satunya hilang, yang lain akan merasa tak utuh. Dan dengan yang telah saya pilih………saya merasa kepingan saya telah lengkap. 😍

Syukran wa jazaakallaahu khayran, yaa zawjy.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 26 Januari 2017. Refleksi sederhana 16 bulan bersamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s