Hari Bahagiamu

 

Image source: tumblr

Pernikahan adalah fitrah manusia. Oleh karena itu, islam sangat menganjurkan menikah sebab nikah merupakan naluri kemanusiaan (gharizah insaniyyah). Apabila naluri ini tidak dipenuhi melalui cara yang Allah ridhai, yaitu pernikahan, maka akan selalu ada cara syaithan menjerumuskan manusia ke dalam lembah hitam.

Hari ini tepat dua minggu sahabat karib sedari kecil dipersunting lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Jangan ditanya seperti apa bahagia yang saya rasakan. Benar-benar tidak terdefinisikan!

Sejak mengetahui proses ta’aruf, khitbah, rencana pernikahan di bulan Desember, hingga pembagian kain seragam, undangan, sehari menjelang akad, bahkan hari pernikahan, dada saya terlalu sesak menahan haru karena terlampau bahagia. Sahabat baik yang saya mengetahui betul kisah perjalanan hidupnya akan segera menyempurnakan separuh agamanya. Ternyata seperti ini toh rasanya menjadi saksi sahabat sendiri menikah. Mungkin ini juga yang ia rasakan karena seingat saya ia pun menangis ketika saya bercerita mengenai proses saya dan di hari pernikahan saya. 😥

“Selesai sudah tugas Om Ut**o memilihkan jodoh yang baik dan mengantarkan anaknya menikah”, ucap saya sesaat setelah ijab qabul diucapkan. Sahabat saya yang duduk tepat di sebelah saya pun hanya tersenyum sembari menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak menetes.

Ketika akhirnya mempelai laki-laki datang membawa mahar dan dokumen-dokumen KUA yang harus ditandatangani sahabat saya, di situlah saya mulai berkaca-kaca. Apalagi saat papa sahabat saya memberikan restu padanya dan suaminya. Genangan air di kedua pelupuk mata yang berusaha saya tahan akhirnya harus menganak sungai di kedua pipi.

Ada emosi yang mendominasi tiap kali saya menyaksikan hubungan ayah dan anak pada acara pernikahan seperti ini. Tatapan mata sang ayah, ciuman tangan anak pada ayahnya, ayah mencium pipi putrinya, dan sebagainya. Saya berusaha menempatkan diri sebagai mempelai perempuan. Betapa bahagianya jika dinikahkan oleh ayah kandung sendiri.

Ya betul, ada sekian banyak perempuan yang hanya bisa memimpikan pernikahan dengan wali ayah kandung mereka. Hal itu hanya sekadar impian entah karena ayah mereka sudah meninggal, tidak pernah tahu siapa ayahnya, atau pun udzur tertentu yang membuat ayahnya tak bisa hadir di pernikahan mereka. Maka sudah sepatutnya rasa syukur dipanjatkan jika ayah kandung sendiri bisa menikahkan pada seorang lelaki sholih.

Untuk sahabat karibku, selamat berbahagia! Selamat merasakan ketenteraman hidup dari pernikahan, selamat mencari ridha Allah dengan taat pada ia yang kamu sebut suami, dan selamat menikmati ketakwaan pada separuh agamamu yang lain. Baarakallaahu fiikuma. 

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”

(H.R. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari seorang sahabat yang berbahagia untukmu,

Dini Fitriani Tjarma 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s