Sederhanakan Bahagiamu

Menikmati langit senja Bontang bersama suami

Sore ini ada tulisan menarik terlintas di beranda facebook saya. Berikut kutipan tulisan tersebut:

Istri yang Mudah Dibahagiakan

Selain dikenal sulit dimengerti, sebagian wanita kabarnya juga sulit dibikin bahagia. Mungkin ini soal kelas juga ya Gan, saya sebagai pria kelas bulu, tentu standar bahagianya beda dengan wanita yang datang dari kelas tembaga.

Ada wanita yang standar bahagianya dengan rutin ditransfer. Transferan menjadi poin maha penting untuk bisa membuatnya tersenyum gembira. Ada yang bahagia dengan diajak jalan-jalan ke luar negeri. Dengan dibelikan aset, dikasih kado city car berwarna pink metalik.

Tapi ada juga wanita yang begitu mudah dibahagiakan. Hanya dengan suaminya pulang pada jam yang tepat. Dengan diajak beli popok anak ke minimarket, atau dengan diajak berkunjung ke rumah orang tuanya.

Bahagia itu soal rasa. Mahal. Tidak terbeli.

Maka bersyukurlah jika Agan dikaruniai istri dengan ambang bahagia yang begitu rendah. Mudah dibahagiakan. Ini emas, Gan. Kilaunya sepanjang masa…

Didik Darmanto

Kok rasanya sangat pas mewakili isi hati saya ya? Apalagi saya membacanya saat sedang jjs (jalan-jalan sore, red) dengan suami yang hari ini pulang sangat cepat. Tepat sekali karena hati saya sedang bahagia diajak jajan pentol dan putu (yang tidak ketemu). Iya, hanya pentol yang ditusuk-tusuk kesenengan anak SD itu hihi. 😜

Standar bahagia masing-masing orang tentu berbeda. Apalagi bagi seorang perempuan, khususnya seorang istri. Tidak semua orang memaknai bahagia dengan pemahaman yang sama.

Alhamdulillah, bahagia versi saya itu… Ketika suami pulang cepat dan membawakan makanan kesukaan yang mungkin harganya tidak seberapa. Atau hanya ditemani keliling komplek di sore hari selepas bekerja. Atau tidak ada panggilan ke pabrik di hari libur. Atau berangkat kajian dan dauroh bersama. Atau dibantu mengerjakan pekerjaan rumah. Atau diajak makan malam di luar meski hanya tahu tek di pinggir jalan. Atau diajak ke toko buku. Atau bahkan hanya dipahami tanpa saya harus berkata-kata. Terlihat sangat sepele, but means a lot for me. Yep, sesederhana itu saja. πŸ’Ÿ

“Jalan kebahagiaan ada di depanmu. Carilah ia dalam lautan ilmu, amal shalih, dan akhlak yang mulia.”

(Buku ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’, halaman 210)

See? Happiness is within ourselves. It’s indeed simple.

Begitu sederhananya urusan seorang muslim, terutama bagi yang berilmu. Jika diuji ia bersabar, diberi nikmat ia bersyukur. Saat kita mensyukuri sesuatu yang kecil dan dianggap sepele, maka yang besar akan semakin disyukuri.

Sesederhana itu pula rasanya apabila merasa cukup dengan sekarang kita miliki. Hati akan terasa lapang, tidak akan sesak dengan kebahagiaan orang lain sedetik pun.

Maka, sederhanakanlah bahagia kita~ πŸ™‚

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 22 November 2016. Ditulis menjelang tidur. Jazaakallaahu khayran, yaa zawjy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s