Kerinduan yang Berulang

Beberapa waktu belakangan saya cukup sering menonton ulang drama medical dari Jepang. Dorama ini semula saya tonton di tahun-tahun pertama perkuliahan. Saya, yang kala itu bercita-cita menjadi ‘emergency nurse‘, semakin bersemangat untuk belajar dan menyerap ilmu ketika praktik di rumah sakit karena kecerdasan Nurse Saejima di drama ini.

code-blue

Image source: google

Di masa sekarang ketika saya kembali menontonnya, kerinduan lama akan suasana rumah sakit kembali muncul. Apalagi dalam drama ini kolaborasi antara tenaga kesehatan satu dan yang lainnya terlihat sangat ideal. Semua bekerja sesuai wewenang areanya masing-masing. Tidak ada yang merasa superior dibanding yang lain. They need each other.

Saat menjadi mahasiswa, ada satu pelatihan yang saya ikuti. Tiap peserta diharuskan membuat vision board rencana pasca kuliah. Saya ingat sekali bahwa dengan mantap saya menuliskan PERAWAT GAWAT DARURAT sebagai keinginan saya selepas lulus kuliah. Ketika ditanyakan alasannya, sambil berbinar-binar saya menjawab betapa saya akan mendapatkan kepuasan batin tersendiri saat menjadi bagian menyelamatkan nyawa seseorang ketika ia henti nafas atau bahkan henti jantung. Idealis banget deh ya! 😁

Tapi memang saya sangat salut dengan Ns. Saejima dalam dorama ini. Diceritakan bahwa ia dikucilkan dalam keluarga karena gagal masuk sekolah kedokteran, sedangkan kakak-kakaknya berhasil melakukannya. Namun, ia membuktikan bahwa ia dapat menjadi perawat cerdas dan mampu menjadi flight nurse yang tentu dipilihnya tidak main-main oleh rumah sakit. Dari situ saya belajar kalau bukan mahasiswa keperawatan yang membela sendiri profesinya, siapa lagi? (Maklum aja saat itu Undang-Undang Keperawatan belum disahkan dan stigma masyarakat akan profesi perawat masih kurang )

Nurses are in wide demand. So, I’m not worried at all.”

(Ns.Saejima Haruka, Code Blue)

Jempol untuk teman-teman perawat yang bekerja di rumah sakit, di puskesmas, di ambulans gawat darurat, di praktik mandiri, dan di mana pun tempat-tempat lain yang mungkin saya tidak tahu. Dua jempol untuk para perawat yang sudah berkeluarga yang masih mampu membagi waktunya untuk keluarga dan membantu orang lain. Karena kami, para perempuan, tentu sangat membutuhkan tenaga perawat perempuan saat di rumah sakit.

Salam hangat dari saya, seorang ibu rumah tangga yang pernah bercita-cita menjadi emergency nurse.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, di penghujung Oktober 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s