365 Days

“…Kamu melengkapiku.”

Dua kata di atas adalah potongan surat untuk mas suami yang dengan sengaja saya selipkan di tas kerjanya. Inginnya sih tiba-tiba ditemukan, apalah daya saya tetap harus memberi kode lewat whatsapp bahwa ada ‘sesuatu’ di tasnya. #gagalsurprise 😂

Tapi untuk pagi ini, kejutannya berhasil ditemukan. Berbekal pengalaman yang telah lalu, maka sekarang diselipin di laptop biar langsung dibuka di kantor. Hihihi.

Sekedar prolog saja, saya adalah seorang introvert yang amat sulit membahasakan apa yang ingin saya sampaikan dengan berbicara langsung. Saya lebih nyaman mengutarakannya melalui tulisan.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshaalihaat… Hari ini tepat setahun saya menikah. Walaupun jika berdasar kalender Hijriyah, seharusnya 12 Dzulhijjah kemarin genap satu tahun. Sampai saat ini saya masih terus belajar menjadi istri yang baik bagi suami saya.

Bagi saya, menikah itu proses untuk menjadi baik bersama-sama. Bukan saya lebih baik dari suami, atau suami lebih sempurna dari pada saya. Namun, kami bergandeng tangan bersama-sama untuk saling membaikkan.

Kalau bukan karena akhir bahagia yang kekal di ujung sana, tentu akan banyak kerikil-kerikil kecil yang kami anggap bongkahan batu besar penghalang perjalanan. Kalau bukan karena tujuan pernikahan yang tidak berorientasi duniawi, tentu akan selalu ada alasan yang dibuat-buat untuk kami menyalahkan satu sama lain. Kalau bukan karena DIA, tentu akan ada hal remeh-temeh yang membuat kami mengabaikan skala prioritas dalam rumah tangga.

Satu kali bumi ber-revolusi telah kulewati bersamamu, Mas. Sejak kita tidak lagi dua jiwa yang berbeda, maka sejak saat itu bahagiamu bahagiaku juga, sedihmu sedihku juga, aibmu aibku pula, kelebihanmu kelebihanku pula, dan persepsi orang akanmu adalah persepsi akanku juga.

Maukah untuk terus menolongku dalam ketakwaan? Maukah untuk tak pernah lelah mengingatkanku? Maukah untuk terus menjadi tempatku bersandar jika sedih menghampiri?

I know love is not about how many days, months, or years we’ve been together. It means nothing if in the end we’re not together in Jannah. Bukankah tidak ada yang lebih indah jika kita masuk pintu surga bersama yang kita cinta?

Semoga hari ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali bahwa muara dari pernikahan ini adalah akhirat yang bahagia. Ridha-Nya semata. Rahmat Allah untuk menyelamatkan kita dari api neraka. Juga syafaat Rasulullah untuk bisa ke telaganya.

You have lived 10,008 days. I have loved you 365 of them.

Terima kasih untuk segalanya.

—Dini Fitriani Tjarma, seorang istri

Bontang, 26 September 2016. Hanya tulisan, bukan perayaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s