Pintu Surga Suamiku

mom

image source: yourtango.com

Ibu mertuaku, ibu yang luar biasa. Dialah yang mengandung suamiku selama sembilan bulan dalam kepayahan. Dialah yang lebih dulu mencintai suamiku dengan seluruh hatinya bahkan sebelum suamiku terlahir ke dunia.

Ibu mertuaku, ibu yang luar biasa. Dialah yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku. Dialah yang lebih dulu mengutamakan suamiku agar terpenuhi gizinya meskipun perutnya dalam keadaan lapar.

Ibu mertuaku, ibu yang luar biasa. Dialah yang mendidik dan membesarkan suamiku hingga menjadi lelaki penyayang seperti sekarang. Dialah yang lebih dulu mengajarkan akhlak yang baik pada suamiku sampai aku merasa nyaman di sisinya.

Ibu mertuaku, ibu yang luar biasa. Dialah yang pengorbanannya tiada henti untuk suamiku. Dialah yang segala jasanya takkan mampu kubayar sampai akhir hayat sekali pun.

Teringat aku dengan nasihat mama sebelum menikah, “Kak, bantu suamimu untuk berbakti sama orang tuanya. Dahulukan mertuamu, harus sayang sama mereka seperti kakak sayang orang tua sendiri.”

Aku, perempuan asing yang hadir di kehidupan anak laki-laki ibu mertuaku. Lalu kini menjadi yang disayang-sayang oleh anak laki-lakinya. Dia pasti cemburu.

Maka, kupinta pada Rabb Semesta Alam agar memudahkan suamiku untuk selalu mengutamakan orang tuanya, terutama ibunya. Ibunya, ibuku juga. Pintu surga tengah suamiku masih terbuka. Aku tak boleh jadi penghambat.

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 25 September 2016. Ditulis selepas menelpon ibuk di Jawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s