Hikmah Tersembunyi

Warning: Tulisan ini terindikasi 'curhat colongan'. Dimohon pengertiannya. 😜

Empat hari yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang kawan di daerah Bintaro. Kawan yang sudah seperti kakak sendiri. Padahal kami hanya bertemu sekali, sebagai teman safar. Sebut saja beliau Mbak F1.

Saya pun dijemput di titik janjian oleh teman safar lainnya yang juga tinggal di kawasan Bintaro. Sebut saja beliau Mbak F2. Mbak F2 juga sudah seperti kakak sendiri. Allahu yubarik fiikuma.

Awal mula pertemuan kami bertiga adalah bulan Juni lalu. Betul-betul hanya sebagai teman sepanjang perjalanan selama 17 hari. Namun, sepanjang dua minggu lebih itulah begitu banyak pelajaran yang Allah berikan untuk saya yang keseringan baper ini. Melalui mereka, melalui kedua kawan seiman.

“Gimana Din, sudah isi belum?”

“Kapan nih kita jadi tante?”

“Memangnya nggak pengen punya anak, Mbak?”

Kira-kira beberapa jenis pertanyaan seperti itu dan sejenisnya yang suka membuat saya menjadi insan baper. DULU. (pertanyaan terakhir itu sedikit “kejam” ya, tapi percayalah ada yang bertanya seperti itu pada saya)

September nanti saya dan suami akan memasuki usia setahun pernikahan kami. Bagi kebanyakan orang mungkin saya seharusnya sudah melahirkan atau setidaknya sedang hamil besar. Idealnya begitu.

Jujur di awal-awal pernikahan saya memang seringkali bersedih jika mendapati pertanyaan atau bahkan sindiran tentang mengapa belum juga hamil. Saya terlalu sibuk memikirkan hal itu. Semua karena saya termasuk perempuan yang ingin segera memiliki anak selepas pernikahan.

Qadarullah wa maa syaa a fa’al… Hingga detik ini saya masih berdua dengan suami. Masih menikmati masa-masa berdua kami yang mungkin saja akan sulit kami dapatkan jika memiliki anak. Alhamdulillah saya dianugerahi suami yang bisa meluruskan jika saya bengkok, menguatkan jika saya rapuh, dan menggembirakan jika saya bersedih. Baarakallaahu fiik, Mas.

holding-hand

As long as I’m with you, I’m happy (image source: tumblr)

Hingga akhirnya Allah izinkan saya mengenal Mbak F1 dan Mbak F2, yang kemudian banyak hikmah tersembunyi di balik perkenalan itu. Mereka berdua sama-sama sudah menikah selama sepuluh tahun, tetapi sama-sama belum diberi keturunan. Namun tidak sedikit pun saya menemukan kesedihan dalam diri mereka. Padahal secara kasat mata usia keduanya tak lagi muda.

Mbak sama Mas H ke mana-mana selalu berdua, Dek. Kalau ada anak belum tentu kan bisa begini, berdua ke sini“, ucap Mbak F1.

Tenang aja, Dek. Berarti kan kita bisa fokus ibadah kalau masih berdua“, lanjut Mbak F2.

Jleb, jleb, jleb! Bagai tertusuk ribuan belati. Da aku mah apa atuh, menikah belum genap setahun udah baper. Bagaimana mereka yang sudah sepuluh tahun? Atau bahkan pasangan-pasangan lain yang menanti lebih dari itu?

Di rumah Mbak F1 saat itu sedang ada dua orang temannya yang sedang berkunjung. Rupanya mereka berdua pun juga masih berdua dengan suaminya, masing-masing usia pernikahannya 12 dan 16 tahun. Makin jlebbb!!!

Pernah mikir nggak Dek kenapa kita dikumpulkan sama teman-teman yang belum punya anak?“, tanya Mbak F1.

Saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Saya sedang jatuh cinta dengan bagaimana Allah merancang pertemuan ini untuk memberikan pelajaran hidup pada seorang Dini. Look at them, Din! You’re not the only one who are being tested by Allah.

Sudahkah lupa dengan Nabi Zakaria yang pernah berkata, “Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” Beliau pun berdoa bukan hanya sehari atau dua hari. Bertahun-tahun lamanya bayangkan! Bahkan beliau imannya jauh di atas saya, amalnya jauh lebih unggul di atas saya. Beliau tidak bosan, tidak pernah kecewa untuk merendahkan diri di hadapan Rabb Semesta Alam.

Bagaimana dengan saya? Dengan kita semua?

Berdoa baru sebentar, amal tidaklah berlimpah juga belum tentu diterima, tetapi teramat sering mempermasalahkan secuil cobaan. Seperti ‘belum memiliki anak’ ini misalnya. Padahal ada nikmat-nikmat lain yang Allah turunkan dengan cuma-cuma pada kita. Astaghfirullah wa atubu ilaih.

~~~

Rupanya ini hikmah tersembunyi yang Allah simpan. Saya terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain hingga abai terhadap penilaian Allah pada saya. Di hadapan manusia mungkin sebuah kekurangan ketika belum memiliki buah hati. Namun bukankah akan indah di mata Allah saat kita menghadapinya dengan syukur dan sabar? Bukankah tiap ketetapan Allah selalu baik untuk makhluk-Nya?

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshaalihaat…

Merupakan kebahagiaan memiliki teman yang membantu menaikkan iman dan takwa. Apalagi saat mengetahui mereka menginginkan kebaikan untuk diri kita sebagaimana mereka ingin kebaikan untuk diri mereka sendiri. Itulah yang saya dapatkan dari Mbak F1 dan Mbak F2.

Allah, terima kasih telah memberikan jalan terjal untuk saya. Jalan yang tidak landai, tidak mulus, bisa jadi berkelok dan berbatu.

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”

(Q.S. Al Hajj : 70)

Allah yang paling tahu tentang segala sesuatu. Ingat, matematikanya Allah berbeda dengan matematikanya manusia! Semua sudah Dia tuliskan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Allah telah tetapkan kapan tiap wanita akan hamil. Jika itu terjadi, kehamilan tidak akan terlambat atau terlalu cepat datang. Selalu tepat waktu.

Jika mengaku beriman pada takdir Allah, sudah sepantasnya kita memiliki hati yang lapang dan tenang terhadap apapun yang menimpa kita. No more sadness, no more complaint.

Jadi, sudah lebih mantap untuk terus menjadi muslim/ah yang beriman?

—Dini Fitriani Tjarma

Subang, 31 Juli 2016. Selamat tinggal Dini “baperan”!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s