Hope

Semalam selagi saya menyetrika, suami menunjukkan sebuah video. Seorang anak yang dari perawakannya seperti anak Indonesia (berusia kurang dari 10 tahun nampaknya) menangis saat membaca ayat quran tentang kematian. Tak sadar saya pun ikut menangis (suami juga deh kayaknya 😆) ketika menonton. Bayangkan anak sekecil itu sudah baper (bawa perasaan) ketika membaca firman-firman Allah. Tidak mungkin dia menangis kalau ia tidak paham maknanya.

Seusai menonton saya spontan bicara seperti ini ke suami, “Malu sama anak kecil sampai nangis begitu bacanya. Semoga abang nanti begitu ya.” Suami mengaminkan sambil tersenyum. Selanjutnya tertawa melihat istrinya menyeka ingus selepas nangis lebay. *lah

Sebagai informasi saja, ‘abang’ itu panggilan kami untuk calon buah hati. Belum kok, yang nulis belum hamil hehe. Ya, sebegitu besarnya kami mengharapkan kebaikan untuk siapa pun yang Allah amanahkan nantinya menjadi anak-anak kami. Sebegitu besarnya kami menginginkan kebaikan agar anak-anak kami menjadi aset berharga bagi kami setelah kehidupan fana berakhir.

Lantas saya pun teringat dengan hadits ini:

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan pahamkan ia dalam agamanya.” (Shahih, Muttafaqun ‘alaihi)

Paham dalam agama.

Pondasi dari kehidupan. Akar dari segala kebaikan. Benteng dari maksiat dan keburukan.

Darinya iman bertumbuh, akhlak terjaga, lisan terkendali, senyum merekah, hati melapang, jiwa merasa tenang. Ah, indah!

Jadi, sebagai suami istri yang memiliki harapan-harapan besar bagi kebaikan anak-anaknya, sudah sepatutnya saya dan suami terus-menerus mempelajari agama ini. Agama sejak kami lahir yang seluruh segi kehidupan diatur di dalamnya.

Bang, hari ini Hari Anak Nasional. Hari untuk abang kalau abang sudah hadir di dunia nantinya, kapan pun itu. Hari untuk abang yang tentunya menjadi sumber kebahagiaan abati dan ummi.

Bang, belum ada di rahim ummi saja abang sudah ajarkan kebaikan untuk kami. Berpikir untuk terus memperbaiki diri agar tercipta generasi yang bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dan layak huni. Dengan apa, bang? Dengan mematuhi apa yang Allah perintahkan dan melakukan yang Rasulullah contohkan.

Bang, kita jadi baik sama-sama ya. Baik bersama keluarga, juga bersama anak-anak lain teman-teman abang. Yuk, kita duplikasi kebaikan di mana-mana!

—Dini Fitriani Tjarma

Jakarta menuju Depok, 23 Juli 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s