My Sister, My Best Friend

Rasanya baru kemarin menikah, baru kemarin lulus kuliah, baru kemarin masuk SMA, baru kemarin tes masuk SMP, baru kemarin semangat hari pertama SD, baru kemarin diantar ke TK, dan seterusnya. Kadang kala segala kenangan mampir dengan santainya ke dalam pikiran. Mengajak kita berkelana sejenak menembus lorong waktu.

Seperti hari ini misalnya. Rasanya baru kemarin saya cerita ke seluruh teman sekelas A3 di TKIT kalau adik saya baru saja dilahirkan. Tahun 1995 saat itu. Saya tidak sabar untuk melihat kulitnya yang kemerahan ketika pulang sekolah.

Kami pun resmi menjadi sepasang saudara kandung. Makin hari si adik tumbuh membulat dan pipinya seperti bakpao. Ada mainan baru di rumah yang bisa dicium dan dicubit kalau bosan.

Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Bermain, mengaji, belajar, bahkan lomba, selalu bersama-sama. Jika lebaran tiba, mama akan membelikan kami dua baju kembar yang berbeda ukuran.

Tidak jarang kami juga bertengkar. Kemudian baikan, lalu bertengkar, baikan lagi. Ya sebagaimana normalnya adik-kakak pada umumnya (eh, atau kami saja ya?). Kalau boleh diberi julukan, love-hate relationship sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi kami. 😁

Namun, hal itu yang sejujurnya paling dirindukan. Kebersamaan dengan adik perempuan setiap hari. Tidak peduli seberapa sering bersitegang atau adu argumen dengannya, she’ll be there for me. I always got her back and she always got mine.

Ketika akhirnya saya harus jauh dari rumah, ketika itu pula saya tidak bertemu dengannya setiap hari. Saat saya lulus dan kembali ke rumah pun gantian sang adik yang merantau. Hingga saya menikah. Semakin tidak akan mungkin setiap hari bertemu dengannya.

We fight, but we never break up. We share foods, clothes, jokes, books, etc. She’s not just my lil sister by blood. She’s my very first and best friend I could’ve asked for, though she doesn’t seem to be. 😛

Jazaakillaahu khayran, adikku.

Meskipun raga tidak bisa dekat seperti dulu, semoga hatinya selalu terikat. Meskipun saat bertemu tidak akan banyak kata yang terucap, semoga doanya selalu melangit dengan rahasia. Tentunya termasuk doa agar Allah merahmati kita untuk berkumpul kembali di surga-Nya nanti.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, penghujung Mei 2016. Selepas hujan malam hari.

Advertisements

2 thoughts on “My Sister, My Best Friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s