Dua Nol Satu Lima

Ada yang berbisik terus-menerus dalam dadaku. Ketidaktahuan membuat rasa cemas dan khawatir menderu.

Terima kasih sudah memilihku, suamiku…

Sehingga sejak tahun lalu, tanggal manis ini akan selalu tersimpan rapi di ruang memoriku.

***

Tahun 2015 benar-benar menjadi tahun yang berkaitan dengan ‘jodoh’. Ups, hehe. Awal tahun dibuka dengan perkenalan keluarga, dilanjut khitbah pertengahan tahun, dan akhirnya terucap akad nikah pada caturwulan ketiga. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat.

Bagi teman-teman yang belum menikah, cermatilah siapa lelaki yang datang padamu. Apakah ia yang akan mengajak ke surga, atau justru menggiring ke neraka. Apakah ia yang selamat aqidahnya, atau justru rusak aqidahnya. Pilihlah dengan memohon bantuan Allah, kepada siapa teman-teman shalihah semua akan taat.

Ada kalimat yang sangat saya suka ketika suami (saat itu masih calon) ditanya oleh mama seperti apa konsep pernikahan yang diinginkan. Singkat beliau menjawab, “Untuk nuansa warna saya terserah Bu, yang penting tidak ada ikhtilath.” Saya tersenyum mengetahui jawabannya karena itu pun impian saya. Kalau bahasa anak zaman sekarang: elu gue banget deh! Oh iya, ikhtilath itu bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Mengapa impian?

Karena biasanya saat menghadiri pernikahan, tamu perempuan akan berdandan, mengenakan pakaian yang bagus (atau bahkan terbagus), memakai parfum, dan lain sebagainya agar terlihat cantik. Begitu pula mempelai perempuan akan dirias. Kemudian di Indonesia akan ada ucapan selamat pada kedua mempelai, juga saling bersalaman. Saya jujur saja tidak sanggup kalau suami saya berkali-kali melihat dari jarak dekat seluruh tamu perempuan yang sudah berdandan tadi. Apalagi ketika bersalaman resiko bersentuhan sangat besar. Oh, tidaaaaaaak. šŸ˜¦

Demikian halnya yang dirasakan suami saya. Bagaimana ia tidak cemburu ketika perempuan yang belum genap sehari dinikahinya menjadi tujuan pandang beratus pasang mata yang bukan mahramnya? Bagaimana ia tidak cemburu jika istrinya harus bersalaman dengan lelaki ajnabi?

Singkat cerita pelaminan kami terpisah sejak akad hingga walimatul ‘ursy. Saya hanya bersalaman dengan tamu perempuan, begitu pun suami hanya bertemu tamu laki-laki. Alhamdulillah semua dimudahkan.

image

Pelaminan untuk saya, mama, & ibu mertua

image

Pelaminan untuk suami, abi, & bapak mertua

Bahtera kami sudah angkat sauh sejak hampir delapan bulan lalu. Ke depannya akan ada bermacam episode yang akan kami lalui dalam samudera hidup. Namun satu yang harus diingat, ini semua tentang kami dan Allah. Ini semua tentang kami yang mengharap rahmat Allah.

Saya akhirnya paham mengapa Allah tidak menakdirkan saya terbang ke Swedia dua tahun lalu. Saya paham mengapa Allah juga tidak menggariskan perjalanan hidup saya kembali ke Depok atau Jakarta. Ternyata ada hal yang lebih indah yang Allah siapkan dengan sebaik-baik kisah untuk saya. Di sini, di kota ini.

***

Ada yang berbisik terus-menerus dalam dadaku. Ketidaktahuan membuat rasa cemas dan khawatir menderu. Namun denganmu, aku berani mengambil keputusan besar itu.

Keputusan menerima pinanganmu setahun lalu. Keputusan ikhlas taat padamu. Keputusan berjuang menuju surga menggenggam tanganmu.

Semangat melanjutkan perjalanan, suamiku! šŸ’›

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, di mana hatiku tertambat & berlabuh pada orang yang tepat.

15 Mei 2016, setahun setelah khitbah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s