Menikah dan Perubahan

Menjelang pernikahan, saya tidak henti-hentinya mendapat support dari sahabat-sahabat terbaik saya. Dimulai dari dukungan moril seperti nasihat agar tetap sehat dan tidak stress, sampai alokasi waktu serta bantuan dalam bentuk apapun untuk saya dan keluarga. Terkadang binar mata mereka sangat penuh arti jika tema obrolan sudah menyinggung ke arah pernikahan. “Cieee bentar lagi bakalan ada yang susah ditemuin nih”, kurang lebih demikian candaan mereka.

Setelah resepsi selesai, ada sedikit rasa kehilangan dalam diri saya. Saya rasa sahabat-sahabat baik saya pun merasakan demikian, meskipun mereka tidak pernah mengatakannya. Akan ada yang berbeda selepas saya menjadi seorang istri.

Memang benar seperti itu. Saya menikah dan akhirnya ada yang berubah. Perubahan hierarki ketaatan yang tadinya pada orang tua menjadi pada suami, hingga perubahan prioritas. Dan bagi saya, perubahan itu sebuah keniscayaan. Terutama perubahan ke arah lebih baik. Jika setelah menikah dan sama sekali tidak merasa ada perubahan, mungkin perlu dipertanyakan seperti apa pernikahannya.

Peran saya bertambah menjadi seorang istri. Namun, peran yang sebelumnya tetap tidak akan berubah. Saya tetap seorang anak, kakak, cucu, keponakan, sepupu, dan teman. Hanya saja prioritas tidak bisa tetap seperti saat sendiri dulu.

Yang tadinya izin orang tua kalau pergi ke luar rumah, sekarang harus mengantongi izin suami jika pergi ke mana pun. Yang tadinya obrolan seputar kegiatan dengan teman-teman, sekarang obrolannya tentang urusan rumah tangga. Yang tadinya mengambil keputusan hanya sendiri, sekarang harus didiskusikan dengan pasangan.

Saya berubah, keadaan berubah. Orang lain berubah, kepentingan berubah. Berubah itu pasti, dan tidak semua orang bisa menerima perubahan itu. Segelintir saja yang memahami dan tetap membersamai saya.

Meskipun telah menikah, saya tetap diri saya yang dulu. Saya tetap membutuhkan teman baik. Ya, karena menikah bukan hanya mengenai saya dan pasangan saja. Saya tetap bagian dari masyarakat, begitu pula suami saya.

Maka setelah menikah, tidaklah elok jika pernikahan dijadikan alasan sebagai “penjara” kebebasan. Saya tidak pernah melarang suami saya untuk berkumpul dengan teman-temannya, pun sebaliknya. We need friends. 🙂

Mungkin memang akan ada banyak hal yang tidak sama seperti saat sebelum menikah dulu. Namun, saya yakin tangan-tangan para sahabat tidak akan melepaskan saya dan membiarkan saya terjatuh. And if we’re meant to meet again, we’ll meet again. I believe.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 5 Desember 2015. Ditulis sambil menunggu suami pulang dari mengantar sahabatnya ke bandara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s