As Wide As The Ocean

Beberapa hari kemarin perilaku saya sangat hiperbola. Ya mungkin efek PMS juga sih (eeeaaa ada aja excusenya). Saya sedikit sakit hati dengan ucapan seseorang. Seketika ekspresi wajah saya berubah, senyumnya dipaksakan. 😳

Tidak berhenti sampai di situ. Avatar WhatsApp saya berubah jadi hitam. Statusnya emoticon sedih. Allahu Rabbii, kekanak-kanakan sekali saya saat itu.

Segala puji bagi Allah, hal itu tidak berlangsung lama. Kurang dari 12 jam saja. Walaupun kata-katanya masih membekas, setidaknya reaksi saya tidak berlebihan seperti kemarin-kemarin.

Kemudian saya teringat tulisan saya sendiri. Beberapa hari sebelumnya saya menulis status ini di akun facebook saya:

…Toughest times teach us how to survive in a way we never imagine before.

(A piece of status for my dearest friend)

Ternyata asamnya mangga muda yang saya sebutkan di status sedang saya rasakan saat itu. Saya merenung cukup lama hari itu. Bertanya dalam hati, “Apa yang Allah inginkan untuk saya dari peristiwa sakit hati ini?

Dan…akhirnya saya paham sesuatu.

Ya, saya belajar sesuatu.

Hati saya ini lemah. Disindir sedikit kadang goyah, dicerca sedikit kadang gundah. Astaghfirullah.

Padahal saya seharusnya bersyukur. Dengan sakit hati ini Allah ajarkan agar tidak lemah. Karena toh saya manusia biasa, pantas saja untuk dicerca.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia akhlaknya, lembut perangai serta tutur katanya, dan begitu pemaafnya saja tidak lepas dari cercaan.

Allah Sang Penguasa Alam, Dzat Yang Maha Tinggi pun juga teramat sering dicerca oleh makhluk-Nya.

Apalagi saya kan? Yang dosa dan aibnya begitu banyak? 😥

image

Image source: facebook

Allahul musta’an…

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

(Q.S. Ali Imran:139)

Lagi dan lagi, Allah dengan lembutnya mendidik saya agar tak lemah. I NEED TO BE STRONG, even if I don’t want to be. Yes, I should be!

Tiada bosan saya meminta diberikan hati seluas samudera. Lapang selapang-lapangnya. Yang dengan itu, saya bisa memandang segala hal dengan lebih sederhana, juga bisa berprasangka baik terhadap takdir-Nya.

Ah, Allah… Nikmat-Mu yang mana lagi yang kudustakan? Bahkan sakit hati ini juga nikmat dariMu.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Semoga Allah selalu menenangkan jiwa kita, melembutkan hati kita.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 28 Agustus 2015. Ditulis sebelum makan malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s