Ibumu, Ibumu, Ibumu

Bismillaah…

Sudah hampir tiga minggu ini nenek (ibu kandung mama) tinggal di rumah. Kelemahan salah satu anggota geraknya mengharuskan beliau menjalankan terapi. Beliau pun memilih tinggal di rumah karena beberapa alasan.

Saya banyak belajar dari mama dengan melihat bagaimana baktinya mama ke nenek. Mama sangat memuliakan ibunya. Perhatiannya begitu besar pada ibunya.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’”

(H.R. Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa hadits tersebut memberitahukan kasih sayang dan kecintaan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada ayah. Hal ini dikarenakan ibu mengalami tiga kepayahan, antara lain: saat sedang hamil, melahirkan, dan saat menyusui serta merawat anak. Mama memahami benar makna penghormatan dalam hadits tersebut.

Memang ketika menikah, seorang perempuan berpindah bakti utamanya kepada suami. Namun pasangan yang baik tidak akan menghalangi suami atau istrinya untuk tetap berbakti pada orang tuanya, terutama ibunya. Mereka yang paham akan tahu bahwa birrul walidain adalah salah satu jalan menuju surga.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

(Q.S. Lukman: 14)

Anak adalah peniru ulung. Ia mencontoh apa-apa yang dilakukan orang tuanya. Bahkan hingga mereka dewasa. Saya salah satunya.

Saya mengamati betul-betul mama tidak pernah meninggikan suara di depan nenek. Mama meladeni setiap pertanyaan nenek dengan santun. Mama mencoba memenuhi apapun keinginan nenek. Mama juga berusaha menemani nenek tiap kali terapi. Semua dilakukan mama dengan mengabaikan kelelahan yang mungkin terasa.

Itu semua tertanam dalam alam bawah sadar saya juga dalam kesadaran otak saya. Hingga saya bertekad akan melakukan hal serupa selama mama masih di dunia. Berbakti padanya, tidak menyakiti hatinya, membuatnya tertawa bahagia, dan senantiasa mencari ridhanya.

Allah, Allah, Allah…

Tulisan ini tidak sedang membesarkan apa yang ada dalam keluarga saya. Karena benang merah dari tulisan ini adalah: the way you treat your mother will be the same way how your children treat you. 🙂

Ingat, salah satu doa yang akan dikabulkan oleh Allah adalah doa orang tua pada anaknya. Berbuat baiklah pada mereka, terutama ibu. Semoga kebaikan yang akan kita dapatkan yang berasal dari doa-doa baik orang tua kita.

image

Imahe source: tumblr

Berbaktilah!
Selagi masih ada waktu.

Alhamdulillah…

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 18 Agustus 2015 ; 22.30 WITA. Just for you, mom. 💟

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s