Book Review: Genap

“Ketika aku dan kamu menjadi kita.”

Seperti itulah tagline pada sampul buku ini. Buku yang sejak spoilernya dimunculkan dalam akun facebook sang penulis sudah mencuri perhatian saya. Alhamdulillah kawan baik semasa kuliah dengan murah hatinya menghadiahkan buku ini ke saya.

Awalnya saya mengira ini adalah buku berisi percikan seseorang yang akan menggenapkan separuh agamanya dari sudut pandang laki-laki. Ya karena penulisnya pun laki-laki. Pikir saya begitu.

Ternyata saya keliru. Dengan cantiknya penulis menggambarkan alur cerita dari sudut pandang orang pertama tunggal: aku, yang mana aku di situ merupakan perempuan. Seolah-olah penulis bisa memahami isi hati para perempuan (bisa jadi karena Bang Nazrul pernah berumah tangga).

Ada 48 kisah-kisah pendek dalam buku ini. Gaya bahasa yang santai membuat buku ini tidak membosankan. Apalagi di beberapa bagian penulis memberi kesan bahwa sosok aku seperti curhat dengan buku hariannya. Sehingga kalimat-kalimatnya pun apa adanya.

Ada yang terlambat aku mengerti, bahwa hidup menggenap bersamamu, artinya aku harus menikahi keseluruhan kamu… Bukan sekedar menikahi fisik kamu, tapi juga yang ada dalam diri kamu, termasuk hati dan pikiran kamu.

(Halaman 22)

Banyak kearifan hidup dalam berumah tangga yang bisa diambil dari buku ini. Nilai-nilai yang menjadikan kita lebih dewasa sejak dalam pikiran. Nilai-nilai yang menjadikan kita lebih bertanggung jawab.

Bagi saya pribadi yang mungkin akan menggenap dengan seseorang nantinya, buku ini menjadi gambaran bagaimana bersikap terhadap pasangan. Menyiapkan saya terhadap hal-hal yang idealnya memang akan terjadi di rumah tangga. Ngambek-ngambekan sama pasangan, kesalahpahaman, dll.

…Dan betapa semua itu terasa indah, ketika aku sampai pada pemahaman bahwa saling menerima adalah syarat mutlak untuk mendapatkan kebahagiaan, bagi sepasang manusia yang saling menggenapi.

(Halaman 124)

Mari mulai sekarang kita melihat pernikahan ibarat lahan kosong, di mana suami dan istri harus menanam apa yang ingin mereka tuai, membangun apa yang ingin mereka nikmati, secara bersama-sama, penuh cinta dan kasih sayang.

Memang, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, kesabaran yang tiada batas, agar visi pernikahan bisa dicapai dan dinikmati. Kesemua itu dimulai dengan proses yang baik tentunya. Semoga semua bisa mendewasakan.

Baca saja buku ini sebelum menggenap bila ada waktu luang. Atau boleh dihadiahkan kalau mau meminang seseorang. 😍

image

Hatur nuhun, Hamdana Eka Putri

Penulis: Nazrul Anwar

Penerbit: Adnara Self Publishing

Tebal: 166 halaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s