Sebuah Pelajaran di Tanggal 26

Pagi tadi teman jauh saya di Malang akhirnya menggenapkan separuh agamanya. Hierarki ketaatannya berpindah sudah dari orang tua pada suaminya. Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Allahumma aamiin.

Kira-kira 16 hari menjelang hari ini, saya menghubunginya.

S: D-16 gimana rasanyaaaa ituuuuu???

T: Rasanya repot dindiin.. ahahaha. Krn pernikahan ga sesimple yg kita mau. Yg nikah ga cm berdua tp 2 keluarga besar haha.

Betul, saya sepakat. Karena ketika menikah, bukan hanya dua individu yang saling bersatu. Melainkan dua keluarga yang berbeda latar belakang, karakter, kebiasaan, dan lain sebagainya yang juga disatukan. Tentu tidak mudah.

Rumah tangga yang bahagia tidak akan lepas dari bimbingan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sang Mentor keluarga sakinah. Beliau lah teladan. Termasuk dalam mengelola rumah tangga sejak awal proses mencari pasangannya.

Indah rasanya jika kita menggali nilai-nilai kearifan sunnah beliau. Apalagi yang berkenaan dengan bagaimana hubungan kita dengan orang tua dan keluarga calon pasangan.

Saya jadi ingat saat Ramadhan kemarin saya sempat diajak sahabat saya mengikuti seminar pra nikah. Dalam sesi tanya jawab, tiba-tiba ada penanya yang mendadak “curhat”. Dia menceritakan seorang laki-laki yang ketika menikah dan sukses, ia melupakan bahkan menelantarkan ibunya serta keluarganya. Hanya istrinya yang ia pikirkan. Mbak penanya bercerita sambil sedu sedan menahan air mata.

Subhanallah. Wal ‘iyadzu billah. Semoga kita terhindar dari sifat demikian.

Kenapa?

Karena kalau laki-laki itu tahu ilmunya, ia tidak akan tega berbuat seperti itu pada ibunya. Kalau istrinya pun paham hubungan indah Rasulullah dengan Abu Bakar yang tak lain adalah mertuanya, tak akan berani ia membuat jarak dengan ibu suaminya. 😦

Memang menyedihkan kondisi di tengah-tengah masyarakat. Seolah-olah hubungan mertua dan menantu bagaikan air dan api. Layaknya hubungan konflik saja. Belum lagi digenapkan dengan tontonan media yang semakin rusak.

Padahal mertua adalah orang tua dari seseorang yang kita cinta. Mertua adalah orang yang melahirkan dan membesarkan calon ayah/ibu anak-anak kita. Tidakkah bisa dipinjam sebentar mata hati pasangan untuk mencintai orang tuanya sebagaimana pasangan kita mencintai mereka?

Hiyaaaa maaf maaf, yang menulis pun sesungguhnya belum punya pasangan. 😂

Tapi sungguh, pengalaman saat seminar dan perbincangan dengan teman yang menikah hari ini menjadi pengingat saya. Apalah guna ilmu tanpa diamalkan. Merugi sekali rasanya.

Sekarang saya memang tahu bahwa ketika menikah bakti saya pada suami yang utama, dan bakti suami pada ibu serta ayahnya yang utama (setelah pada Allah dan Rasulullah tentunya). Sekarang saya memang tahu bahwa bersahabat dengan mertua lebih mulia. Sekarang saya memang tahu untuk selalu mengingatkan suami agar tetap memperhatikan orang tuanya. Namun, ilmu itu tiada guna jika tidak saya amalkan kelak.

Maka alangkah indahnya bersahabat dengan mertua, sebagaimana kita telah merasakan agungnya bersahabat dengan orang tua. Ada pengenalan yang lebih dalam terhadap kekasih hati dari sumber yang telah mengalirkan ruh dan akhlaknya pada sang putra.

(Salim A. Fillah dalam “Bahagianya Merayakan Cinta”, halaman 270-271)

Bismillaah… Semoga Allah mudahkan.

Maka, jangan ragu untuk mengatakan ini pada pasangan kelak:

Orangtuamu adalah orangtuaku juga.

Sambil pasang senyum paling indah untuk pasangan masing-masing. 🙂 🙂 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 26 Juli 2015. Say YES ke hubungan baik menantu-mertua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s