Nikmati Saja

Somebody says, “Enjoy and appreciate what you have, while you can.

Karena jangan sampai baru sadar akan nikmat sesuatu setelah sesuatu itu tak lagi kita miliki. Termasuk menjadi ‘single’. Ehem.

image

Image source: google

Dulu saat saya kuliah, pernah ada teman yang tidak sengaja nyeletuk seperti ini. “Dindin kok elo sendirian mulu sih ke mana-mana?” Saya hanya tersenyum kemudian tertawa pelan. Memangnya kenapa? Ada yang salah? Hehehe.

Saya senang menikmati kesendirian saya. Berangkat kuliah sendiri, cari sarapan sendiri, beli keperluan kosan sendiri, dan lain sebagainya. Saya merasa baik-baik saja. Karena menjadi ‘single’ juga pantas untuk bahagia kan? Memangnya kebahagiaan itu monopoli yang berpasangan saja, apalagi yang tidak halal? Huh. Nggak dong yaaa…

Lucu ketika dulu pergi ke hyperma*t sendirian dan sering melihat pasangan muda belanja bulanan keperluan rumah mereka. Saya suka sekali mengamati mereka. Suami mendorong trolly, istri mencari-cari barang. Lalu setelahnya saya selalu mencoba berkata dalam hati, “Akan tiba waktunya bagi saya menjadi seperti mereka.” Sabaaaaarrr.

Semakin ke sini saya semakin paham. Nanti akan ada masa-masanya kita merindukan menjadi ‘single’. Merindukan ‘me time’ yang cukup banyak. Merindukan kesendirian itu.

Kapan? Mungkin nanti ketika kita sudah memiliki pasangan (suami atau istri ya, bukan pacar 😒) dan diamanahi anak-anak.

Ada hal-hal yang leluasa dilakukan saat masih sendiri. Waktu membaca buku masih sangat banyak, baju yang dicuci hanya milik sendiri, belanja ke pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan sendiri, datang kajian masih bebas mencatat, dan hal lainnya yang bisa jadi tak terpikirkan.

Ya, saya menyaksikan sendiri.

Contohnya ketika ta’lim saya melihat ummahat yang membawa serta bayi-bayi dan/atau balita mereka. Tidak seperti saya yang hanya membawa tas berisi perlatan tulis, dompet, dan handphone, bawaan mereka tentu lebih banyak. Mulai dari cemilan anak-anak, mainan, buku mewarnai, dot susu. Tujuannya agar ibu bisa fokus mendengar kajian sembari sang anak sibuk dengan makanan atau mainannya. Kalau mulai rewel, terpaksa mereka membawa anaknya keluar untuk menenangkan. Dengan demikian, kajian terlewatkan beberapa saat.

See? Hal itu tidak akan terjadi pada si ‘single’.

Makanya saya suka heran sama orang-orang yang merasa hidupnya (terlihat) suram sekali dengan menjadi jomblo. Hey, ayuk atuh ah disyukuri dan dinikmati aja! Isi waktu kita dengan hal-hal bermanfaat. Jadi, penantian kita pun berguna tanpa perlu menye-menye apalagi mengeluh tiada henti.

Be mature, be wise. Take your time and use it well. 😉

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 20 Juli 2015; 15.50 WITA. Efek pertanyaan mainstream lebaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s