Karena Kita Tidak Tahu #23

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan bertemu sebagian teman semasa SMA. Kami berencana berbuka puasa bersama di salah satu pondok pesantren. Di sela-sela menunggu yang lain datang, terjadilah obrolan ini.

Teman X: Berapa ya harga go pro begitu? (Sambil menunjuk go pro teman lain di dekat kami)

Saya: Nggak tahu. (Sambil nyengir)

Teman X: Paling bentar lagi turun harganya. Sebentar aja itu trend-nya. Nggak pengen, Din?

Saya: Hehe bukan kebutuhan.

Teman X: Memang calon ibu yang baik nih.

Dalam hati saya bertanya sendiri, nggak salah ngomong apa ya temen aye ini?

Selanjutnya di perjalanan pulang dia tiba-tiba berkata…

Teman X: Kayaknya aku harus sering-sering berteman sama Dini deh biar ketularan baik.

Jleb!!! Jedaaaaaarrrrr!!!

Teman saya tadi sedang menurun kesadarannya nggak ya berkata seperti itu? Karena demi Allah, saya ini banyak kurangnya. Allah saja yang masih dengan baiknya menutupi segala aib saya. Sesaat saya diliputi rasa khawatir yang berlebihan.

Namun kemudian saya seperti disadarkan bahwa ini adalah celah kebaikan untuk saya. Kalau saya justru menghindar dari teman saya itu, lantas siapa yang akan menemaninya bersama-sama menuju jalan kebaikan? Iya bersama-sama, saling beriringan, karena saya pun juga harus terus berbenah diri. :’)

Saya paham bagaimana rasanya seperti dijauhi ketika dulu cara berpakaian saya masih jahil. Bercelana, juga kerudung tak sepanjang dan selebar senior lainnya meskipun menutupi dada.

Saya paham bagaimana rasanya dibicarakan teman-teman sendiri di belakang. Si Dini sudah pakai kaos kaki, pakai rok, tapi begini dan begitu. Si Dindin pakaiannya panjang, tapi begini dan begitu.

Saya paham hal-hal itu. Ketika segan mendekat hanya karena rasa minder tak masuk akal. Ketika bingung harus bertanya pada siapa untuk menjadi lebih baik.

Ah, tapi sesungguhnya itu hanya oknum. Hanya segelintir yang demikian. Karena jiwa-jiwa baik dan tulus itu masih lebih banyak. Mereka yang ikhlas merangkul orang-orang seperti saya agar merasakan indah serta damainya Islam yang sesungguhnya.

Allah tidak perlu bantuan kita untuk menilai hati orang lain. Terutama hati yang sungguh-sungguh ingin hijrah menemukan kebaikan.

Jika diingat-ingat lagi bagaimana proses hijrah kita dulu, tentu kita akan menghargai proses perubahan orang lain.

Jika diingat-ingat lagi bagaimana cara berpakaian kita dulu, tentu kita akan menghindar untuk mencerca cara berpakaian orang lain.

Jika diingat-ingat lagi ketidaktahuan kita dulu, tentu kita akan menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang lain yang belum tahu.

Maka sekarang, saya berusaha menjadi seperti kawan-kawan terdahulu yang jiwanya begitu tulus merangkul saya. Dengan sabar mereka menemani proses saya. Tidak terburu-buru ingin melihat saya berubah.

Saya akan mencoba pada teman SMA saya ini. Bismillaahirrahmaanirrahiim… Saya akan berusaha menemaninya jika dia mengizinkan, jika Allah menakdirkan.

Proses perbaikan diri seseorang tidaklah sama. Ada yang sebulan, setahun, dua tahun, bahkan berpuluh tahun. Saya saja berproses, maka orang lain tentu boleh berproses.

Kita tidak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita. Apakah kita selamat dari syirik? Dari rasa sombong? Tanyakan pada hati masing-masing. 😥

Se(merasa)lebih baik apapun kita dari orang lain, belum tentu di akhir hembusan nafas kita lebih baik darinya. Allah pemilik hati kita. Allah pemberi hidayah bagi kita semua.

Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit hati bernama ujub. Karena baik atau tidaknya seseorang dilihat di AKHIR hidupnya. Bukan di awal atau pertengahan.

Sebagaimana tangan saya digenggam kawan saya yang tak lelah menasihati dulu, saya ingin menggenggam pula tangan kawan SMA saya. Saling menemani dan menasihati dalam kebaikan ya, kawan! 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 12 Juli 2015. Minutes before bed time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s