Potensi Kebaikan

image

Image source: pinterest

Ada seorang kawan baik saya yang semasa hidupnya mau berteman tulus dengan saya. Dia (yang semoga dirahmati Allah) tahu latar belakang saya dan keluarga saya. Dia tahu saya tidak sempurna.

Meskipun saya sering jahil sama dia, dia tetap baik dan mau berteman dengan saya.

Meskipun saya pernah menyakiti hatinya, dia tetap baik dan mau berteman dengan saya.

Meskipun dia mengetahui secara rinci kekurangan keluarga saya, dia tetap baik dan mau berteman dengan saya.

Meskipun saya pernah mendiamkan dirinya, dia tetap baik dan mau berteman dengan saya.

Dialah yang akan menghibur saya di saat kesedihan menghampiri saya. Dialah yang siap di baris terdepan di saat saya dalam kesusahan. Dialah yang menasihati saya diam-diam di saat saya abai dengan prinsip saya.

Hingga ia kembali kepada Allah lebih dulu, hanya kebaikan-kebaikannya yang teringat dalam memori saya. Lalu satu hari Allah memberikan saya mimpi bertemu dengannya dan bercakap-cakap dengannya.

“Kenapa kamu masih mau berteman walaupun keadaanku begini dan begini?”

“Karena kamu punya potensi kebaikan. Terlepas dari kekuranganmu, potensimu menjadi baik lebih mendominasi.”

Saya terbangun. Tersentuh dengan mimpi itu. 😰

Potensi kebaikan.

Ini yang kadang-kadang kebanyakan dari kita suka lupa. Seperti kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah “Setengah Isi, Setengah Kosong”, kita—manusia sebagian besar lebih melihat kepada kosongnya gelas. Kepada apa yang tidak ada, kepada kekosongan, kepada kekurangan. Padahal setengah gelasnya lagi berisi air. Ada kebaikan di dalamnya, ada sesuatu yang bernilai.

Ketika kita kecewa pada saudara kita yang sedikit-sedikit marah, kita fokus pada kemarahannya yang sesaat itu. Toh bisa jadi tanpa sepengetahuan kita, saudara kita gemar berinfak.

Ketika kita kecewa pada teman yang bercandanya kelewat batas, kita fokus pada adab bercandanya. Toh bisa jadi tanpa sepengetahuan kita, di rumahnya ia tak pernah menolak jika ibunya meminta bantuan.

Ketika tetangga tidak sengaja membuat kotor halaman, kita fokus pada perbuatan tidak sengajanya hingga menjadi kesal. Toh bisa jadi tanpa sepengetahuan kita, tiap malam ia terbangun tahajud dan nama kita ada dalam rentetan doanya.

Masya Allah, selalu ada sisi baik dari tiap orang. Sekali pun mereka yang tidak kita suka, atau pun yang kita benci.

“…Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

(Q.S. An-Nisaa’: 19)

Try to see everything from another point of view. Termasuk melihat setiap orang yang kita temui. Saya pun masih teruuuuus belajar sampai saat ini.

Apabila tidak suka dengan perangai seseorang, bersabarlah. Pasti ada sifatnya yang lain yang kita senangi. Jauhkan diri dari penyakit hati. Mungkin kesabaran itu tidak akan kita rasakan dampaknya sekarang. Karena bisa jadi nanti di akhirat kita baru tahu hasil kesabaran itu.

Percayalah, tiap takdir Allah pasti mengandung kebaikan. Jadi, ketika kita dipertemukan dengan siapa pun yang menurut kita karakternya tidak kita sukai, jalani saja. Boleh jadi itu ladang amal bagi kita. Allah yang menakdirkan, maka Allah ciptakan kebaikan bagi kita. Biidznillah.

Terakhir, jangan tinggalkan doa. Doa adalah senjata pertama bagi seorang mukmin. Doakan siapa saja dengan kebaikan, seburuk apapun ia di mata kita.

Hei kawan baik, terima kasih sudah mau bersabar dengan saya! Kata-kata ‘potensi kebaikan‘ itu terus menggema dalam kepala saya. Semoga saya bisa senantiasa menjadi pribadi yang melihat potensi kebaikan orang lain. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 4 Ramadhan 1436 H. Ditulis menjelang subuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s