Jangan Berkecil Hati

Akhir-akhir ini saya sering berpikiran bahwa teman-teman di sekitar saya semakin keren. Apalagi ketika melihat teman-teman dekat semakin menghebat di jalannya masing-masing. Hal itu membuat saya melihat diri sendiri seolah-olah tidak memiliki kelebihan berarti. Tidak ada yang signifikan.

Kadang-kadang saya lupa bahwa tiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Bahkan boleh jadi apa yang kita anggap sesuatu yang tidak ada apa-apanya pada diri kita adalah kelebihan di mata orang lain. Padahal sudah seharusnya kita fokus dan bersyukur pada apa-apa yang sudah Allah beri.

Ah, ternyata selama ini yang salah adalah pemikiran saya sendiri. “Saya nggak ada apa-apanya, da aku mah apa atuh.” Rupanya saya melewatkan bahwa ada Sang Maha Pemilik Kekerenan, Dia yang Maha Hebat. Pemikiran “tidak ada apa-apanya” itu baru boleh terucap kalau yang dikerjakan tidak mendapat ridho dari-Nya.

Lalu, semalam Allah seakan mendidik saya lagi untuk keluar dari pemikiran ini. Karena tidak sekali dua kali saya berpikiran demikian. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Semoga saya dijauhkan dari keburukan diri sendiri.

Diiiin, doakan aku yaa
besok aku flight ke Jakarta buat presentasi poster di I***H πŸ™‚

Demikian bunyi pesan sahabat baik saya ketika di bangku kuliah. Saya tidak pernah bersedih ketika dia berhasil menggapai satu demi satu prestasinya. Saya selalu ikut bahagia akan pencapaiannya. Sampai tadi malam saya akhirnya berpikir, “Ya Allah, dia masih mau berteman baik dengan saya meskipun saya orang yang biasa-biasa saja. Bahkan minta didoakan. Sama sekali tidak dilupakan.

Saya tertampar. Tertampar karena pemikiran saya sendiri. Sadar kan Din, Allah lagi mendidik kamu dengan cara terbaik-Nya?

Akhirnya saya membalas pesan sahabat saya tersebut:

Laa haula wa laa quwwata illa billaah. πŸ˜‡Β  Teruuuuuusss melesat tinggi ya Ce. Aku akan jadi temen baik yang setia yang bangga & bahagia buat kamu. 😘

Iya, bagi siapa pun yang barangkali memiliki pemikiran serupa dengan saya, jangan berkecil hati! Apapun yang Allah ciptakan di bumi dan di langit, insya Allah memiliki manfaat. Apalagi kita sebagai manusia, khalifah di muka bumi.

Iya, dunia membutuhkan orang-orang biasa seperti saya. Kalau semua melesat hebat, tidak ada lagi orang-orang biasa yang dengan tulus berdoa dan mengucap rasa bangga. Tidak ada lagi yang tulus mendoakan dan menanti untuk memberi pelukan.

Jadi, jangan berkecil hati! Menjadi orang biasa lah yang bermanfaat. Jika tidak bisa pada seratus orang, bermanfaatlah pada sepuluh orang. Jika tidak bisa, bermanfaatlah bagi satu orang. Karena itu lebih baik dibanding memiliki kelebihan spektakuler, tetapi hanya untuk diri sendiri.

Jadi, jangan berkecil hati! Biarpun rumput tetangga terlihat lebih hijau, toh kita bisa membuat taman bunga kita sendiri. Karena sebenarnya rumput mereka hanya berbeda dengan kita. Meskipun biasa, apa saja perannya, lakukan dengan sebaik-baiknya.

Ya Rabb, terima kasih untuk kesekian kali karena telah mendidik saya dengan penuh kelembutan. Rasanya hina sekali selama ini suka berpikiran demikian, hingga abai dengan aktivitas mengagungkan diri-Mu. Astaghfirullah wa atubu ilaihi.

image

Untuk teman-teman yang hebat, saya tiada bosan mengucapkan ini pada kalian: I AM READY TO WITNESS YOUR SUCCESS! Allaahu yubarik fiikum. Terbang terus yang tinggi, saudara-saudariku. πŸ’–

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 27 Mei 2015 ; 12.40 WITA. A self reminder, actually.

*terinspirasi dari postingan Ummu Balqis.

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Berkecil Hati

  1. Pingback: 10K Hits | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s