“Seni” di Sabtu Sore

Pernah ketika kuliah saya mengikuti seleksi beasiswa kepemimpinan. Saat tahap interview pewawancara bertanya, “Pernahkah Anda memimpin sesuatu dan berhasil mencapai tujuan? Bagaimana peran Anda ketika menjadi pemimpin?” Saya yang tidak memiliki banyak pengalaman sebagai pemimpin pun mengeluarkan jawaban sederhana.

Saya menjawab bahwa kepemimpinan saya dimulai dari dalam rumah ketika memimpin adik-adik saya. Saya menerapkan aturan pada mereka dan mereka bisa mengikuti, maka di situ saya merasa berhasil sebagai pemimpin. Hehe mungkin terdengar konyol dan tidak seperti harapan pewawancara. πŸ˜€

Ada seni tersendiri untuk menjadikan adik-adik mematuhi aturan yang telah dibuat. Terutama yang jarak lahirnya terlampau jauh seperti saya dan adik-adik saya. Seninya dibalut kesabaran, kedewasaan, menahan emosi, dan pendekatan interpersonal (duileh bahasa aye).

Weekend kemarin saya mengajak kedua adik saya dan kedua adik sepupu saya berolah raga di salah satu stadion di kota saya. Sudah sejak lama sebenarnya mau mengajak mereka, tetapi baru sempat Sabtu sore lalu. Kami berencana untuk bersepeda sore itu.

image

Sepeda gandeng favorit pengunjung

Awalnya saya ingin menyewa dua sepeda. Namun, para bocah itu pun protes. Mereka tidak berani kalau tidak ada saya yang membawa sepeda. Rencana pun harus berubah.

Sepeda yang disewa akhirnya hanya satu dengan dua kursi. Saya membuat kesepakatan bahwa masing-masing akan bergantian bersepeda dengan saya keliling stadion sebanyak satu putaran. Mereka pun sepakat.

Bukan hal yang mudah membawa keempat bocah yang masing-masing masih duduk di kelas 5, 3, 2, dan 1 SD sore itu. Tidak mudah membuat kesepakatan dengan mereka, menengahi masing-masing permintaan mereka, menentukan urutan bersepeda, dan menjaga keamanan mereka di tempat umum. Apalagi hanya saya sendiri orang dewasa saat itu.

Ah, tapi itulah seninya. Menjadi satu-satunya orang dewasa yang berperan sebagai kakak dan teman mereka.

Sore itu pun dilalui dengan riang. Meskipun cukup lelah harus mengayuh sepeda beberapa putaran dan rok tersangkut berkali-kali. 😝

Saat masing-masing anak duduk di belakang saya sambil mengayuh, saat itulah kesempatan saya mengobrol ringan untuk mendekatkan diri dengan mereka. Masing-masing saya tanya dengan pertanyaan serupa dan jawaban yang dikeluarkan surprisingly sama.

“Enak nggak naik sepedanya?”

“Enak.”

“Sudah pernah belum naik sepeda gandeng begini?”

“Belum.”

“Senang nggak keliling sama Kakak Dini?”

“Senang!”

“Yang bener?”

“Iya, iya, iya, senang!”

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimushshalihaat. πŸ™‚

Terima kasih adik-adik sudah memberi kesempatan kakak merasakan nikmatnya (dan repotnya) “seni” mengurus kalian seorang diri. Hihi.

Inilah kepemimpinan sederhana versi saya. Dimulai dari keluarga.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 28 April 2015. Ditulis sebelum tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s