Repost: Duduk Manis

Di status BBM, saya berkelakar tentang pekerjaan saya yang setiap hari mencoba make up. Statusnya seperti ini, “ini muka saya diasuransi ga ya? Tiap hari trial make up hehehe”. Dari seseorang yang dulu sering bergosip dengan saya, saya mendapat komen kira-kira begini, “enak yaa..kerjanya duduk manis dimake up in dapat gaji.”

Saya ingat, kami dulu sering membicarakan pekerjaan orang lain yang tidak sesuai dengan passion kami. Misalnya kami membicarakan pegawai negeri yang lebih punya waktu luang untuk bersantai. Atau membicarakan customer (biasanya orang-orang dengan posisi brand development) yang pekerjaannya nampak enak, jalan-jalan, mengomentari pekerjaan supplier dan tim lain, dan bisa nge mall di jam kerja.

Pada titik itu, lama-lama saya merasa, saya berada di luar lingkaran mereka semua. Maka apa hak saya mengomentari pekerjaan mereka? Kadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan akan sesuatu, padahal tidak ada pemahaman yang benar pada kita tentang hal yang kita komentari.

Lama-lama saya jengah juga terus membicarakan pegawai negeri atau polisi. Ibu saya pegawai negeri, tapi tidak seenaknya seperti yang kami bicarakan. Ayah saya polisi, tapi tidak bersikap sewenang-wenang dan korupsi seperti yang kami bicarakan.

Pada akhirnya, saya sadar, bahwa pekerjaan orang lain tak semudah dan seburuk yang kita duga. Disini saya melihat teman-teman di brand development, pekerjaan mereka tak semudah yang sebelumnya saya duga. Mereka bertanggung jawab atas image brand di tengah masyarakat, yang kemudian berpengaruh pada angka penjualan.

Pekerjaan orang-orang di bank nampak enak, gaji besar dan duduk-duduk menghitung uang. Tapi kita tidak tahu, seberapa pusing mereka jika data dan jumlah uang tidak cocok. Kita tidak tahu, berapa lama waktu untuk keluarga yang mereka korbankan untuk menghitung uang itu.

Pekerjaan desainer nampak mudah, dia menggambar dengan senang dan sesuka hati. Tapi kita tidak tahu, berapa menit dia tidur setiap hari. Kita tidak tahu bagaimana polahnya untuk bisa mendapatkan inspirasi, dan bahkan kita tidak melihat bagaimana pekerjaannya dicaci maki klien dan terus mengalami revisi.

Pekerjaan penulis nampak mudah, dia tinggal duduk di taman dan mengetik sesuai inspirasi. Tapi kita tidak tahu, untuk menghasilkan tulisan bermutu, pengalaman hidup seperti apa yang sudah dia jalani. Pergolakan batin seperti apa yang dia alami hingga menghasilkan pesan bermoral dan berkualitas.

Setiap pekerjaan kita adalah kesempatan menuju kebermanfaatan diri. Masing-masing dari kita punya porsi untuk memberikan yang terbaik pada penduduk bumi. Menjadi dokter belum tentu lebih baik dari pada menjadi tukang becak. Menjadi model belum tentu lebih mudah daripada menjadi seorang CEO perusahaan besar.

Marilah, saling menghargai. Dan ketika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesulitan sebuah pekerjaan, mari berhenti mengomentari.

Jakarta, 21 April 2015. Kritik untuk diri sendiri.

—————————————–
No offense untuk siapa pun dan yang berprofesi sebagai apa pun. Saya hanya merasa sependapat dengan tulisan ini, terutama kalimat terakhir. Yuk Din, stop judging! :’)

Sumber: Dari sini dengan pengurangan dua paragraf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s