Sertakan Allah dalam Segala Sesuatu

Tercatat dua kisah yang takkan bisa dilupakan dalam elegi perjalanan saya menggunakan kendaraan umum. Ah, ada banyak sebenarnya. Namun yang dua ini cukup membuat saya berkontemplasi dan meninggalkan pelajaran berharga.

Di awal bulan Mei 2012, saya dan seorang kawan baik janji bertemu di Stasiun Pondok Cina untuk sama-sama berangkat menuju Stasiun Gambir. Dua orang adik tingkat berangkat dari rumahnya masing-masing. Kami berempat harus menuju Surabaya karena menjadi finalis salah satu lomba karya tulis ilmiah.

Entah apa pasalnya, pagi itu saya terlalu santai untuk bersiap. Sungguh mengherankan karena mungkin saat itu saya terlalu menikmati (dan merasa bahagia-bahagia saja) menjadi seorang deadliner. Oleh sebab itulah akhirnya saya dan kawan baik tertinggal kereta menuju Stasiun Gubeng Surabaya tersebut. Kami pun harus merogoh “uang saku” dari fakultas untuk dibelikan tiket pesawat.

Dua tahun berikutnya pada akhir Januari 2014, saya harus terbang dari Jakarta menuju Balikpapan. Jadwal pesawat pukul 11.55 WIB membuat saya berencana berangkat dari Depok selepas subuh. Pengalaman kereta sebelumnya tidak boleh terulang!

Namun takdir berkata lain. Saya lupa saat itu Jakarta dilanda banjir. Hingga pukul 09.00 WIB saya bahkan belum masuk daerah Pasar Minggu! Macetnya keterlaluan, banjir di mana-mana. Saya sampai di bandara tepat pukul 12.00 WIB dan pesawat belum boarding! Dengan penuh keyakinan saya mencoba check-in walaupun sudah sangat terlambat. Petugasnya keukeuh tidak mengizinkan saya. Ternyata tak hanya saya yang telat karena banjir hari itu. Nasib saya pun berakhir dengan membeli tiket pesawat lainnya yang berangkat sore hari.

Jujur sebenarnya saya termasuk tipe yang sangat tidak suka dengan keterlambatan. Saat rapat, saat bepergian, saat janjian dengan siapa pun. Saya pasti gusar sendiri kalau belum sampai tujuan ketika waktu menunjukkan jam yang sudah disepakati. Bahkan dulu saat kemah PMR, saya selalu memimpin tim di tenda perempuan untuk hadir di agenda paling pagi sepuluh menit sebelum jam yang tertera di jadwal. Saya masih ingat wajah-wajah kesal itu hehehe. ✌

Dalam kasus berkendara umum, saya pun biasanya berhasil melewati masa-masa kritis. Berlari mengejar kereta yang nyaris berangkat, menyempil di bis kampus yang sudah penuh sesak, atau tiba di bandara saat “critical time”. Allah selalu menyelamatkan saya.

Berbeda untuk kedua kasus ini. Sepertinya Allah benar-benar melimpahkan kasih sayangNya untuk saya dan ingin berbicara pada saya dengan kejadian tersebut. Saya sudah berbuat kesalahan apa? Allah mau mengajarkan saya apa?

Perlahan-lahan saya mendapatkan jawabannya. Hati saya sedang tidak terkoneksi secara baik dengan Allah. Terkhusus di kedua kejadian itu. Mungkin saya terlalu sibuk memikirkan dunia. Hingga saya tidak tenang, merasa terburu-buru, grusa-grusu. Padahal Allah ada. Allah tidak ke mana-mana.

Benar adanya jika dunia itu sebaiknya diletakkan di tangan, bukan di hati. Ibarat menggenggam bara api. Fokuskan hati pada Allah. Dengan doa, dengan dzikir.

Elegi itu meninggalkan pelajaran berharga. Menyertakan Allah dalam segala hal adalah keharusan. Tak akan bisa ditawar. Karena dengan itulah hati akan senantiasa tenteram. Biidznillah. 💟

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 30 Maret 2015 ; 23.45 WITA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s