Belajar Menghargai Proses

Kakak Dini, Kakak Dini, yang bahasa Inggrisnya kemarin dapat 97. Aku paling tinggi sama ada satu orang temanku juga.

Kurang lebih dua minggu lalu murid les saya laporan dengan girang tentang hasil tugas Englishnya. Seminggu kemudian saya melihat buktinya di buku sang anak.

image

Congratulations!

Saya ingat betul murid ini mengerjakan tugas tersebut tiga hari berturut-turut setelah sesi belajar dengan saya selesai. Dia menyicilnya sebelum dikumpulkan.

“Kak, ada tugas yang bab clothes disuruh cari 20. Gambarnya boleh dari internet atau gambar sendiri. Bantuin ya, Kak. Kalau lebih dari 20 nanti nilainya lebih bagus.”

Tadinya saya menawarkan untuk di-print saja dari laptop. Namun dengan penuh semangat dia mau menggambarnya sendiri. Saya dibuat salut dengan antusiasnya!

Saya pun berusaha menambah semangatnya dengan merinci jenis-jenis clothes hingga mencapai lebih dari 30. “Za, ini sepatu aja ada banyak jenisnya. Kalau mau dilanjutin bisa sampai 50 nih.” Hihihi tapi akhirnya hanya mencapai 30 karena orang tuanya sudah menjemputnya pulang.

Belajar dari pengalaman dengan adik-adik saya, dengan murid les, atau bahkan pengalaman saya sendiri, saya semakin ingin menghargai proses seseorang. It’s not as easy as it seems, I must say.

Untuk belajar menjadikan “proses” sebagai “value” tidaklah mudah. Tidak berorientasi hasil dalam mengajarkan anak-anak tidaklah mudah. Apalagi jika sedari lama hidup kita penuh dengan doktrin untuk fokus pada hasil yang biasanya terukur oleh angka-angka.

Saya sebenarnya tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa saya begitu senang ketika melihat angka ’97’ di buku murid. Hanya saja saya juga harus tetap tidak bersedih seandainya angka lain yang tertulis di sana. Kenapa? Karena saya melihat sendiri prosesnya. Dan itu jauh lebih berharga dari sekedar angka-angka.

Sekali lagi ini tidak mudah. Saya harus terus berlatih, sebelum diterapkan pada anak sendiri. Yup, ini cita-cita saya untuk bisa menghargai proses pembelajaran anak-anak saya nantinya. Untuk hasil, ah itu hanya konsekuensi dari proses mereka dan tentu ada peran Allah di sana. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 22.58 WITA. Ditulis khusus untuk murid les yang hari ini tidak hadir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s