Ketika Ibunda Sakit

Beberapa hari terakhir mama diberi ujian berupa sakit. Qadarullah, beliau pun harus izin bekerja. Otomatis saya yang menggantikan peran mama di rumah sementara. Jangan dibayangkan kalau itu akan sesempurna ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Saya jauh sekali sepertinya.

Sehari mama sakit, satu per satu anggota keluarga lain pun juga tumbang pertahanan fisiknya. Puncaknya hari ini saat adik-adik izin sekolah semua. Tersisa saya seorang diri yang masih diberi nikmat sehat.

Sebenarnya bukan pertama kalinya ini terjadi. Hanya saja dari pengalaman beberapa hari ini, pertanyaan klise itu kembali muncul dalam benak saya. “Yakinkah saya akan kesiapan menjadi seorang istri dan ibu?

Menjadi istri dan ibu. Dua peran itu saja sudah amat luas maknanya, besar amanahnya, berat pertanggungjawabannya. Tidak mungkin dipersiapkan dan dijalankan sekenanya, biasa-biasa saja. Tentu harus sepenuh hati dan segenap jiwa melakoninya.

Menjadi istri dan ibu. Apakah siap dengan segala dinamika yang akan terjadi? Hidup bersama seseorang yang tadinya asing kemudian menjadi seseorang yang paling tahu mengenai kita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Memindahkan taat pada qowwam yang telah Allah pilihkan.

Menjadi istri dan ibu. Akan mengalami perubahan fisik serta psikologis ketika mengandung, melahirkan, dan mengurus anak-anak. Terbangun di malam hari karena tangisan bayi atau anak mengompol. Pagi harinya harus bangun lebih awal meski jam tidur terpangkas dan mata panda semakin terlihat.

Menjadi istri dan ibu. Tanggung jawab bertambah karena tak lagi lambung sendiri yang harus dijaga. Mengurus rumah dan mendidik anak-anak, sudah siapkah? Tak lupa pula harus berpenampilan menawan penuh senyuman menyambut kepulangan pasangan, tidak peduli mood apapun yang sedang dirasakan.

Menjadi istri dan ibu. Harus siap dengan potensi konflik yang mungkin terjadi. Tidak melulu hal-hal menyenangkan yang akan mengisi hari-hari. Kecemburuan, masalah kesehatan, berkurangnya harta, futurnya pasangan, ujian akan perilaku anak, konflik dengan keluarga besar, bahkan perpisahan atau kematian.

Di antara sifat mukminah yang shalihah, dan di antara karakter yang harus dimilikinya adalah bahwa ia harus hafizhat. Apa yang diperbuatnya itu dilakukan bukan karena dirinya, bukan pula karena suaminya, tetapi karena Allah semata yang telah melakukan penjagaan.

(Salim A. Fillah dalam “Bahagianya Merayakan Cinta”, halaman 376)

Yakin sudah siap? Sudah cukupkah bekal ilmu dan mentalnya?

Luar biasa hikmah dari sakit ibunda, membuat putrinya merenungkan hal-hal semacam ini. Hehehe.

Saya akhirnya belajar bahwa setiap ujian, setiap permasalahan yang datang, tak lain tak bukan adalah proses pendewasaan diri. Menjadi istri dan ibu butuh persiapan. Jadi, pastikan untuk terus berusaha meningkatkan kualitas diri dan tidak berhenti belajar demi mencari ridho Allah. Yang terpenting, jangan sampai berlayar dalam bahtera rumah tangga yang berlubang nantinya, alias tanpa bekal ilmu agama.

Ya Rabb, mudahkanlah… 🙂

image

Image source: tumblr

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 18 Maret 2015; 23.13 WITA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s