Rindu Kesekian Kali

“Kamu kangen nggak sih Din sama rumah sakit?”

Seorang teman baik menanyakan itu dua minggu lalu. Tentu saja jawabannya IYA. Kangennya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Kemudian seminggu yang lalu sang teman meminta bantuan saya untuk menerjemahkan skripsi dua perawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Dengan sangat senang hati saya membantunya. Meskipun bantuan terjemahan saya bisa jadi tidak seberapa.

Saya pun membaca abstrak salah satu skripsi. Tema besarnya adalah mengenai komunikasi terapeutik perawat pada pasien praoperasi. Saya senyum-senyum karena dulu saya juga hampir mengambil topik ini saat proposal skripsi. Hanya saja karena dosen keperawatan jiwa sudah penuh dengan mahasiswa bimbingan, saya beralih ke topik keperawatan anak.

Komunikasi terapeutik ini adalah salah satu modal besar yang dimiliki perawat. Tidak semua penyakit bisa disembuhkan (hanya) dengan obat. Saat pasien mengalami kecemasan atau gangguan psikososial lainnya, perawat dengan kemampuan komunikasi yang baik tentu akan bisa mengurangi level kecemasan pasien.

Lebih khusus lagi, perawat jiwa lah yang lebih sering menangani masyarakat dengan kemampuan ini. Masyarakat yang sehat jiwanya diberikan promosi, masyarakat yang berisiko diberikan upaya pencegahan, dan masyarakat dengan gangguan jiwa diberikan tindakan pemulihan serta rehabilitasi. Semuanya membutuhkan komunikasi terapeutik.

Upaya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat harus diberikan kepada masyarakat yang sehat jiwa, yang berisiko, dan yang mengalami gangguan jiwa.

(Prof. Budi Anna Keliat, Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia)

Menjadi pendengar yang baik adalah langkah awal memiliki kemampuan komunikasi terapeutik ini.

Saya jadi teringat salah seorang lansia yang menderita gangguan jiwa ketika praktik dulu. Beliau tidak ingin dipanggil dengan nama aslinya. Menurutnya nama itu membuat dia menjadi bodoh. Dia mengucapkan bahwa ada suara-suara dari dalam bumi yang memerintahkannya untuk berganti nama.

Selain itu, dia juga mendapat wangsit tentang julukannya. Saya masih menyimpan julukan-julukan itu di handphone.
1. Pemimpin dunia sepenuhnya
2. Penulis besar dunia
3. Panglima besar angkatan perang tinggi dunia
4. Penguasa bumi langit
5. Tuhan segala bisa

Hehehe jangan pusing atuh ya! 😂 Namanya juga pasien gangguan jiwa.

Jika tidak mendapat pengawasan perawat jiwa secara rutin, lansia ini mustahil bisa sembuh. Lagi-lagi komunikasi yang baik menjadi senjata andalan. Saya pribadi cukup senang karena saat berpraktik dengannya, beliau perlahan mau dipanggil dengan nama aslinya.

Ya Rabb, saya benar-benar rindu…

Tahu tidak mengapa rumah sakit menjadi candu? Mengapa saya begitu merindukan hari-hari praktik di bangsal sebagai mahasiswa keperawatan?

Bukan gelar yang membuat perawat bahagia. Bukan berlembar-lembar sertifikat pelatihan yang membuat perawat bahagia. Bukan, bukan itu!

Mereka bahagia di saat pasiennya merasa nyaman dengannya. Mereka bahagia di saat pasien yakin akan “security” perawatan darinya. Mereka bahagia di saat keluarga pasien dapat pulang sebentar untuk sekedar mandi atau beristirahat dan yakin anggota keluarganya aman bersamanya.

Bagaimana mungkin saya tidak rindu? 🏥

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, Jumat malam yang hening.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s