Sehari Bersama Papa #3

Sejak 2005, kebersamaan kami memang tidak banyak. Namun beliau dengan sangat indah mengukir kenangan di masa-masa penting perkembangan kedua putrinya.

Memutar kembali memori lampau di mana papa ada dalam goresan kisah pendidikan saya. Saya lancar membaca sebelum duduk di bangku TK. Saat guru masih mengajarkan “Be-U-Bu… De-I-Di… Bu-Di“, saya sudah bisa membaca kalimat. Hal ini sampai membuat guru sedikit kesal karena saya menjadi distraksi anak-anak lain.

Di umur empat tahun, papa mengajari saya angka-angka dalam bahasa Inggris. Bukan karena beliau terlalu ambisius, tetapi karena saya yang antusias bertanya dan minta diajarkan saat itu. Saya masih ingat dengan jelas, di belakang rumah kontrakan kami duduk berdua. One, two, three, four, sampai one hundred, one thousand, one million, saya hafalkan dan ingat baik-baik agar saya lebih dulu tahu dibanding yang lain.

Masuk usia SD, saya sempat tidak percaya diri ketika ditunjuk mewakili TPA dekat rumah untuk lomba hafalan sebagian juz 30. Papa dengan sabar membangkitkan percaya diri anaknya dan membiarkan saya menghafal dengan tenang. Kepercayaannya pada saya yang begitu tinggi membuat saya tak ingin mengecewakannya. Saya persembahkan juara dua untuknya.

Seleksi murid beasiswa salah satu SMP ternama di kota saya adalah potongan kisah berikutnya yang masih terekam jelas di benak saya. Sejak awal prosesnya, papa selalu setia mengantarkan anaknya. Sewaktu melihat daftar peserta lolos wawancara, papa berlari menuju saya yang menunggu di tempat parkir. Dia memeluk dan mencium saya. Rupanya kejadian ini terlihat oleh salah seorang pewawancara dari jendela kantornya. Sampai sekarang selalu menjadi bahan “lelucon” jika kami bertemu.

Papa yang membantu segala keperluan orientasi sekolah. Papa yang memberikan ide ketika ada lomba penulisan puisi. Papa juga yang menjadi teman berlatih di saat akan mengikuti lomba scrabble. Selalu ada papa di sana.

Papa yang gemar menceritakan cerita sebelum tidur. Papa yang mengajarkan memelihara hewan. Papa juga yang menemani bermain layangan. Selalu ada papa di sana.

Papa yang mengantar mengecek lokasi tes SNMPTN. Papa yang menunjukkan UI pertama kali. Papa juga yang sigap membantu jika saya harus mencetak spanduk keperluan kampus. Selalu ada papa di sana.

Meskipun jarak memisahkan dan sangat jarang waktu dihabiskan bersama, papa sudah sukses membuat hal-hal memorable dengan saya. Seolah-olah beliau paham, bahwa masa-masa emas anak takkan pernah terulang jika tidak dilewati dengan baik. Maka dari itu pendampingannya teramat luar biasa, walau tidak lama dirasa.

Terima kasih, papa. :’)

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 5 Maret 2015. 14:41 WITA, ditulis ditemani sisa hujan sejak pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s