Teladan

Anak-anak yang tumbuh dan berkembang di era 90-an tentu akrab dengan Sherina dan lagu-lagunya. Bagi yang masih ingat lagu “Kembali ke Sekolah” mungkin akan terbayang video klip Sherina dan teman-temannya di sekolah. Di akhir video, mereka menunjukkan karya “mural” di dinding sekolah pada ibu gurunya. Dulu saat SD setelah menonton video itu, saya selalu terpacu untuk membuat kejutan serupa untuk wali kelas saya. Alhamdulillah tidak ada teman-teman yang mau diajak “melukis” dinding sekolah. 😂

Saya juga heran mengapa Sherina begitu mudah mempengaruhi imajinasi saya ketika itu. Selepas menonton film Petualangan Sherina, saya selalu ingin berpetualang di hutan dan berharap ada yang menculik hingga saya bisa kabur kejar-kejaran. Atau ketika memiliki CD konser Sehari Bersama Sherina, saya selalu ingin bergabung bersama anak-anak pengisi acara di atas panggung.

Setelah mencoba mengenal diri saya sendiri lebih jauh, ternyata saya membutuhkan contoh atau role model dalam melangkah. Untuk hal apa saja. Mereka berfungsi sebagai motivator semu saya. Bahasa kerennya pseudo- supporter hehehe ngasal. Sebagai “cambukan” agar menjadi lebih baik dari versi saya sebelumnya.

Seperti contoh misalnya: saat diamanahi sebagai pengurus inti BEM fakultas zaman kuliah dulu, saya harus memiliki seseorang yang dijadikan contoh dalam bertindak. Dari wakil ketua periode sebelumnya lah saya banyak belajar. Belajar mengenai gaya kepemimpinannya, cara pendekatan interpersonalnya, alokasi waktunya untuk seluruh program kerja, bahkan hingga pengerjaan skripsinya (hihi thanks a lot kakak).

Seiring bertambahnya usia saya, maka saya selalu berharap semakin dewasa dalam pemikiran, dalam emosi, dan dalam memaknai kehidupan. Dengan begitu saya pun harus memiliki teladan untuk membimbing saya. Siapa lagi jawabannya selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah dengan akhlak yang sangat mulia.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”

(H.R. Ahmad)

Entah sudah sejauh apa saya selama ini memalingkan wajah dari beliau, kekasih Allah. Padahal ia sudah menangis, dihina, dicerca, disakiti, diancam, dan diusir, tak lain demi kita—umatnya tercinta.

Sudah saatnya saya kembali. Kembali menjadikannya teladan. Menjadikannya contoh bagi keselamatan saya di dunia, juga kehidupan sebenarnya nanti di akhirat. Oh, bahkan bukan hanya saya, tapi kita semua. Keselamatan kita semua! :’)

—Bontang, 28 Februari 2015; 22.45 WITA. Ditulis sebagai muhasabah diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s