Sosok Istimewa Guru

Saya: Assalamu’alaikum, Ibu. (sambil salim tangan)

Bu L: Wa’alaikumussalam. Eh, kamu! Kok kurus sih, Din? Perasaan dulu SMP gemuk. Main-main lah ke sekolah.

Begitulah kira-kira cuplikan percakapan dengan guru matematika saya semasa SMP beberapa jam lalu. Ibu guru yang karakternya pernah saya perankan saat parodi operet di perpisahan kakak kelas 9 tahun 2005. Karena itu kami berdua sempat disebut “kembar”, terutama oleh kepala sekolah hehe.

Seperti halnya guru yang senang jika anak muridnya mengingat dirinya, seperti itu pula saya teramat senang apabila guru-guru saya mengingat saya. Padahal saya bukan termasuk anak populer di sekolah. Tetapi ketika sang guru masih mengingat dengan jelas nama saya, bahkan kebiasaan saya, saya tidak bisa bohong bahwa saya begitu bahagia.

Berbicara tentang guru, saya selalu mengagumi sosok profesi yang satu ini. Mereka berdedikasi tinggi dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. Mereka bekerja untuk membagi ilmu yang dimiliki pada murid-muridnya. Bagaimana tidak mulia?

Bagi saya, menjadi guru berarti memiliki stok kesabaran yang luar biasa banyak. Hal itu sangat diperlukan karena bermacam-macam karakter anak akan dihadapi setiap harinya. Emosi pun harus terkendali.

Kalau boleh lebih spesifik, guru TK adalah sosok yang sangat mengagumkan. Mereka harus sabar dan telaten dalam membimbing anak-anak yang sepenuhnya masih bergantung pada orang dewasa. Setiap hari berhadapan dengan bocah-bocah dengan jiwa yang lugu, polos, dan jujur apa adanya. Sedikit-sedikit ingin ini, semenit kemudian ingin itu.

Kalau ada yang berkata siapa pun bisa menjadi guru TK, saya tak sepenuhnya sependapat. Banyak yang harus dipelajari dan tidak sembarang orang yang bisa berprofesi sebagai guru TK. Bayangkan selalu saja ada kejutan dari pola tingkah laku anak-anak dan guru TK dituntut untuk selalu kreatif agar membuat kondisi senantiasa tertib. Menurut saya tidak semua orang mampu akan hal itu.

Bagaimana pun kita banyak belajar dari guru-guru kita. Sebagian besar banyak yang mulai lupa akan sosok gurunya. Semoga kita tidak termasuk dalam bagian itu. Karena dari guru lah kita mengenal huruf, angka, dan warna, kita pandai berhitung, kita lancar membaca, kita terlatih motoriknya untuk menggunting, terlatih kognitifnya untuk berlogika, terasah kemampuan berbahasanya, dan lain sebagainya.

Memori saya akhirnya tersedot ke hari di mana saya diwisuda. Perwakilan wisudawan membawakan lagu yang cukup membuat saya menahan haru.

…Engkaulah pelita, penerang dalam gulita. Jasamu tiada tara~

Terima kasih, Bapak dan Ibu Guru saya. Terima kasih, mama dan papa.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 27 Februari 2015. Ditulis menjelang tidur.

*Didedikasikan bagi guru saya (rahimahullah) yang meninggal pagi tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s