Do Good Things, Speak Good Words

image

Jika bertemu dengan anak-anak yang baik, saya selalu kagum. Anak-anak yang sopan pada yang lebih tua, yang percaya dirinya tinggi, yang tidak pernah berbicara kasar pada orang lain, yang menyayangi saudara-saudaranya, dan berbagai hal positif lainnya. Seketika itu pula saya selalu bertanya dalam hati, “Siapa orang tuanya? Bagaimana pengasuhannya?

Anak-anak adalah peniru ulung, terutama usia prasekolah. Orang tuanya adalah teladan terdekat mereka. Maka, apa-apa yang dilakukan orang tuanya akan mereka contoh di kehidupan mereka.

Namun, begitu keluar rumah, paparan lingkungan akan mulai mempengaruhi sikap anak-anak. Perilaku masyarakat, juga pergaulan dengan teman sebaya. Oleh karenanya, pondasi iman dan benteng akhlak sejak di dalam rumah sangatlah penting. Jadi ketika anak terpapar hal-hal negatif, mereka akan mudah melakukan filterisasi untuk tidak menirunya.

Kemudian hati saya serasa teriris tiap kali melihat anak-anak dengan sikap berkebalikan dari yang saya kagumi. Mereka dengan mudahnya mengatai teman-temannya dengan sebutan ‘bod*h’, atau terbiasa mengucapkan deretan nama-nama hewan bonbin. Tidak tega kalau saya bertanya hal serupa, “Siapa orang tuanya? Bagaimana pengasuhannya?

Ya, saya kejam sekali kalau bertanya hal tersebut, bahkan jika hanya dalam hati. Ini karena saya percaya tiap orang tua selalu melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. By default.

It takes a village to raise a child.

(Pepatah lama Afrika)

Maksudnya adalah, jika menginginkan seorang anak berperilaku baik, maka dibutuhkan satu desa untuk berperilaku baik pula.

Psikolog pakar parenting, Ibu Elly Risman, mengatakan hal senada dalam sebuah acara talkshow. Anak-anak adalah amanah dari Allah. Orang tua sebagai baby sitter yang dipercaya Allah harus melakukan pengasuhan tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan sejatinya saat mengasuh anak, anggota keluarga lain pun dilibatkan. Mulai dari kakeknya, neneknya, tantenya, omnya, dll. Karena anak-anak kelak tak hanya berinteraksi dengan kedua orang tuanya.

Saya pun berpikir…I’m part of society. Jika ada anak-anak di sekitar saya yang berperilaku negatif, sudah sepantasnya saya mengintrospeksi diri saya dulu. Apakah saya mencontohkan hal buruk? Apakah saya berkata kasar? Apakah saya mudah emosi? Karena saya turut ambil bagian dalam faktor eksternal yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.

Sekali lagi, anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat akan mereka tiru. Keimanan para orang tua akan melahirkan keteladanan (I wish I’ll never forget this one). Semoga semakin banyak anak-anak mengagumkan yang dibesarkan dari orang tua yang tak kalah mengagumkan. Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tetapi bisa dipersiapkan sebaik-baiknya dan diasah menjadi lebih baik. A never ending process.

Jangan lupa bahwa kita bagian dari masyarakat. Meminjam formula Aa Gym 3M: mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga, dan mulai dari hal kecil. So come on, start doing good things and saying good words!

Salam sayang untuk seluruh anak-anak Indonesia! Yuk jadi muslim dan mukmin seutuhnya. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 18 Februari 2015; 22.24 WITA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s