Saat Orang Tua Semakin Menua

Ada panti cipayung di t**** tv *info ga penting*
———————
Beberapa minggu lalu grup whatsapp angkatan (kuliah) diramaikan dengan info di atas. Saya pun segera menyalakan tv dan menonton tayangan tersebut. I smiled then laughed, automatically.

Panti itu adalah salah satu panti yang sempat menjadi wahana praktik gerontik saat semester terakhir perkuliahan. Saya pun melihat kakek-kakek dan nenek-nenek penghuni panti di tv. Beberapa masih saya kenali wajahnya.

Saya rindu, rindu serindu-rindunya berhadapan langsung dengan mereka. Saya rindu, rindu serindu-rindunya mendengarkan cerita mereka. Saya rindu, rindu serindu-rindunya melihat keluguan dan kepolosan mereka. Saya rindu, rindu serindu-rindunya menyuapi makan siang untuk mereka. Saya rindu, rindu serindu-rindunya memotongkan kuku mereka.

Mungkin memang ada sebagian orang yang baru pertama kali mengetahui saya tidak melanjutkan profesi kemudian berkomentar, “Sayang banget Din nggak lanjut. Nggak kepake dong ilmunya.” Kalau sudah begitu, saya udah cuma bisa kasih senyum aja. Hihihi. 🙂

Namun dalam hati saya selalu mengatakan: Insya Allah tidak ada ilmu yang sia-sia. Minimal bisa diterapkan ke keluarga sendiri. Ke orang tua, ke adik-adik, ke suami, ke mertua. Eeeaaa~

Saya tidak mau orang tua saya di masa tuanya kelak berakhir di panti wredha seperti kakek-kakek dan nenek-nenek itu. Begitu pun jika nanti saya punya mertua. Bakti saya ke mereka adalah salah satu jalan menuju surga-Nya. Selagi mereka masih ada di dunia, doa mereka lah yang banyak membantu kehidupan saya.

Sekarang bayangkan jika orang tua kita semakin menua…

Apa lagi yang mereka harap dari anak-anaknya saat otot-otot tangan mereka tak mampu lagi menguatkan tubuh mereka? Apa lagi yang mereka harap dari anak-anaknya ketika suara mereka tak lagi jelas untuk menyampaikan kehendak mereka?

Bayangkan jika orang tua kita semakin menua…

Apa lagi yang mereka nantikan dari anak-anaknya meskipun ada pembantu yang mengurusi rumah mereka? Apa lagi yang mereka nantikan dari anak-anaknya walaupun ada orang yang mengusap dan menyeka keringat mereka?

Ketika mereka semakin menua, tak banyak lagi kawan bicara di sampingnya. Teman-teman sebayanya sudah banyak yang tutup usia. Akankah kita siap dan berkenan menemani mereka? Akankah kita sigap mengusap air liur yang mengotori mulut mereka?

Ketika mereka semakin menua, bisakah ketulusan anak-anaknya mereka rasakan sebagaimana tulusnya mereka merawat kita saat kecil dulu? Bisakah kita menjadi anak-anak yang dirindukan oleh mereka?

Mereka tua, semakin tua, dan renta. 😥

Saya bisa menuliskan ini tentu karena saya merasakan betapa besar kasih sayang orang tua saya. Sepanjang hidup saya, saya yakin takkan pernah mampu membalas segala pengorbanan mereka. Ya Rabb, jaga mereka selalu dalam rahmat dan kasih sayangMu.

Bertahun-tahun mendatang saat saya memiliki anak, saya tentunya akan memiliki pertanyaan terbesar: Orang tua macam apakah saya?

Ada tiga bekal yang perlu kita miliki dalam mengasuh anak-anak kita. Pertama, rasa takut terhadap masa depan mereka. Kedua, takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketiga, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan).

(M. Fauzil Adhim dalam “Segenggam Iman Anak Kita” halaman 51)

Semoga Allah perkenankan diri ini untuk terus menjadi baik, sehingga bisa mendampingi masa tua orang tua (dan mertua nantinya). Allahumma aamiin.

—Dini Fitriani Tjarma
Samarinda, 7 Februari 2015. Ditulis di rumah nenek sambil menatap beliau dan mama. 💛

Advertisements

3 thoughts on “Saat Orang Tua Semakin Menua

  1. Pingback: 10K Hits | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s