Belajar Sambil Bermain

Seharian ini hujan terus-menerus membasahi bumi Kota Taman. Kalau kata pujangga, hujan itu membuat orang menjadi romantis. Benarkah?

Ternyata saya membuktikannya hari ini. Saya pun menjadi romantis! Eiiiiits, tapi ini mah romantisnya bukan ke pasangan (uhuk masih single uhuk), melainkan ke adik-adik sendiri.

Kebetulan selama di rumah, saya bertanggung jawab mendampingi adik-adik saya untuk belajar setiap hari. Ditambah dengan murid les, total ada tiga orang yang harus didampingi.

Saat seusia mereka (usia sekolah dasar), saya hobi belajar. Super weird, I know. Siapa sih yang punya kegemaran belajar?!! Hanya saja dulu saya memang termasuk anak kecil yang ambisisus terhadap prestasi akademis. Pengasuhan dari orang tua pun mendukung terciptanya kondisi “rajin belajar setiap hari”.

Saya sadar selama ini saya banyak meniru gaya belajar saya sewaktu kecil itu yang kemudian saya praktikkan pada adik-adik saya. Hingga saya paham, bahwa setiap anak itu unik. Karakternya, cara belajarnya, kemampuan kognitifnya, tidak ada yang sama. Maka, tidak bisa saya menyamakan metode baheula dengan kondisi zaman sekarang.

Seorang pakar parenting pernah mengatakan bahwa anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan kreatif. Imajinasi mereka terus berkembang. Jadi, dalam menghadapinya, orang tua/guru lah yang seharusnya “lebih kreatif” untuk bisa mengarahkan mereka.

Sore tadi pun adalah salah satu moment kreativitas saya diuji. Inilah romantis yang saya sebutkan di atas.

Sedari siang saya menyiapkan media permainan yang akan digunakan adik-adik (+murid les) untuk belajar. Sebelum-sebelumnya kegiatan belajar sambil bermain sudah saya terapkan pada mereka, tapi memang tidak rutin setiap hari. Hari ini kebetulan moodnya lagi oke buat gunting-gunting, tempel-tempel, dsb. Hehehe. 😛

Sore tadi kami bermain Mencari Harta Karun! Mata pelajarannya matematika untuk dedek perempuan dan agama islam untuk dedek laki-laki. Kebetulan tiga anak ini semuanya masih dalam tahap perkembangan anak usia sekolah dasar, jadi mereka masih memiliki sifat tunduk pada peraturan permainan (cieee yang skripsinya tentang anak usia SD). Intinya all they wanna do is play, actually.

Jadilah sepanjang sore hingga sesaat sebelum adzan maghrib mereka sibuk berkeliaran di dalam rumah mencari “harta karun” yang merupakan jawaban dari soal-soal yang diberikan. Selepas shalat maghrib, belajar dilanjutkan dengan metode “lomba cerdas cermat”. Sisanya tetap dengan metode konvensional. 😀

Kak, minggu depan main harta karun lagi ya. Buat pelajaran yang lain, jangan matematika lagi”, ucap dek Asma dan dedek les.

Nah loh pada ketagihan!

Rempong sih, tapi menyenangkan melihat mereka senang. Ribet sih, tapi membahagiakan mengajari mereka dengan gembira. Riweuh sih, tapi ini salah satu cara menunjukkan romantisme saya sebagai kakak.

Jadi, tugas kita yang paling penting dalam kaitannya dengan menumbuhkan minat belajar pada anak adalah membangun sikap positif terhadap belajar.

(M. Fauzil Adhim dalam “Segenggam Iman Anak Kita” halaman 231)

Sikap positif itu bisa ditumbuhkan dengan memberi pengalaman belajar yang menyenangkan pada anak. Sebelum dipraktikkan ke anak sendiri kelak, sekarang dikasih kesempatan untuk praktik ke adik-adik sendiri. Semoga masih Allah beri waktu untuk terus memperbaiki diri (soalnya kadang-kadang masih demen ngomel heuheu).

Yup! Bukan hanya tiga dedek-dedek itu yang belajar. Saya pun juga belajar banyak dari mereka. Selalu. Setiap waktu.

Alhamdulilahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat…

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 4 Februari 2015. 22:12 WITA, ditemani udara dingin sisa-sisa hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s