Tentang Kematian

Ataghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Baru saja, bener-bener baruuuuu banget, kajian di radio selesai. Yang saya dengar barusan adalah mengenai ‘Perjalanan Menuju Kampung Akhirat’. Sebelum ilmunya menguap, otak memerintahkan tangan untuk menuliskannya di sini.

Yang mau saya tuliskan sebagai pengingat diri sendiri adalah mengenai bagaimana kita diwafatkan oleh Allah. Pemateri menjelaskan bahwa Allah mewafatkan seseorang sesuai dengan kebiasaannya. Betapa beruntungnya jika seseorang terbiasa mengerjakan amal sholih dan Allah akan mewafatkannya dalam keadaan mengerjakan amal sholih.

Sekarang coba kita bayangkan apabila yang menjadi kebiasaan adalah sebaliknya. Melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, yang dimurkaiNya. Semisal ia senang meminum khamr, kebut-kebutan di jalan, di tempat (maaf) pelacuran, dan kebiasaan bathil lainnya, lalu Allah wafatkan dia dalam keadaan melakukan hal-hal itu. Naudzubillah. 😦

Dalam kajian tadi dijelaskan bahwa yang disebut kebiasaan bukan yang ditampakkan di depan orang lain. Kebiasaan itu adalah apa yang dikerjakan saat sendiri. Bahkan dulu ada periwayat hadits yang diwafatkan ketika sedang meriwayatkan hadits. Betapa baik kondisi terakhirnya! Tidakkah kita ingin seperti dia?

Saya pun berkaca pada kebiasaan saya sendiri. Ya Rabb, apa saja yang sering saya lakukan? Apakah banyak kebaikan? Karena saya merasa masih jauh dari kata baik. Yang telah saya kerjakan masih jauh untuk bisa sebanding dengan surga-Mu. Saya masih belum siap untuk diwafatkan dengan semua kebiasaan yang harus dipertanggungjawabkan. 😥

Terdengar aneh sebenarnya. Toh seharusnya kematian kita sambut dengan kebahagiaan karena pada akhirnya kita akan bertemu dengan Allah. Tapi tetap saja merinding ngeri saat membayangkan malaikat pencabut nyawa sudah siap di samping kita untuk memutus kenikmatan di dunia. Maka saat itu pula habis waktu kita. Hilang sudah kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S. Al-Hasyr: 18)

Halooo Dini Fitriani Tjarma, bekal apa yang sudah kamu siapkan untuk hari esok?

image

Siapa pun kita, semoga diwafatkan dalam keadaan islam dan di atas keimanan. Semoga kita dijauhkan dari keburukan diri sendiri dan keburukan yang menjadi sebab su’ul khatimah. Semoga kita termasuk dalam orang-orang bertakwa dan mendapat rahmat Allah di hari akhir kelak.

Aamiin. Allahumma aamiin.

Yuk, sama-sama terus memperbaiki diri! 💗

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, awal Februari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s