Kontemplasi Malam

image

Status facebook seorang senior

Apa yang terlintas dalam benak teman-teman saat membaca status di atas? Apakah sama seperti yang saya rasakan? Salut? Kagum? Haru?

Masya Allah, memang luar biasa pendampingan kakak senior saya itu sebagai seorang istri. Maha Besar Allah yang memberikan ujian untuk memperkuat ikatan keduanya. :’)

Saya selalu percaya bahwa kesejatian cinta teruji melalui pernikahan dan komitmen yang dibuat bersama. Penyatuan visi dan misi suami-istri di awal adalah pondasi sebelum memasuki gerbang demi gerbang tantangan.

Lagi-lagi menurut saya, cinta dalam pernikahan adalah cinta yang sesungguhnya antara manusia dengan manusia. Tentunya setelah cinta ibu dan ayah pada anaknya. Cinta itu bagi saya nyata, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat.

Niat yang baik akan menumbuhkan komitmen pernikahan yang kokoh. Ketika seseorang dikuasai oleh komitmen yang mantap, hatinya akan disibukkan untuk melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Ia menjadikan keluarga sebagai tempat menyemai kebaikan.

(Salim A. Fillah dalam “Barakallaahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta” halaman 216)

Di buku yang lain (Jodoh Dunia Akhirat), Canun dan Fufu mengatakan bahwa proses “cleansing” niat sangat penting. Harus dipastikan bahwa niatnya bukan karena dendam masa lalu, bukan karena ingin segera keluar dari rumah orang tua, bukan karena hal-hal lain yang tidak syar’i.

Saya rasa senior saya paham betul mengenai ini. Maka itulah yang membuatnya dengan penuh cinta mendampingi suaminya dalam kondisi tersebut. Atas kesabarannya, Allah berikan hadiah indah dengan kelulusan membanggakan dari University of Glasgow.

Yup! Saat menikah, tidak melulu kesenangan yang akan ditemui. Seperti isi ceramah akad nikah seorang teman yang saya hadiri tadi pagi. Ustadznya mengatakan bahwa biasanya setelah setahun menikah, “bumbu-bumbu” dalam pernikahan mulai bermunculan. Semua bisa teratasi hanya jika suami dan istri sejak awal paham akan hak serta kewajibannya.

Itulah indahnya islam. Ilmu mendahului amal. Menikah pun butuh ilmu. Dengan ilmu itulah segala konflik, ujian, atau pun masalah yang sekiranya akan menghampiri bisa menjadi ‘bumbu’ menyedapkan dalam kehidupan rumah tangga. Aiiiiiih…

Dalam pernikahan, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Ada ketulusan yang bisa dirasakan. Ada cinta yang tak bisa dipalsukan. Ada komitmen yang harus dibuat serta dijaga. Juga tentunya ada kebahagiaan yang semakin terasa sempurna. *uhuk kayak paham banget aja lu, Din* ✌

Entah saya sedang kenapa sampai menuliskan ini. Mungkin ini efek menghadiri pernikahan pagi tadi. Atau karena tumpukan buku yang dibaca seputar hal ini. Entahlah. Yang jelas saya berterima kasih pada senior saya tersebut karena melalui mereka saya belajar cinta yang sesungguhnya. Cinta yang boleh jadi tidak dirasakan sebelum adanya ikatan halal dan resmi. Wallahu a’lam.

“Orang suci, menjaga kesuciannya dengan pernikahan, menjaga pernikahannya dengan kesucian.” (Salim A. Fillah)

Semoga kelak jika diizinkan Allah merasakan cinta itu, kita benar-benar membangun cinta karena-Nya. Kita mencinta dalam keridhaan-Nya. Allahumma aamiin.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, di satu malam penghujung Januari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s