I Have A Dream

Kemarin saat pindah-pindah saluran televisi, tidak sengaja saya berhenti pada berita salah seorang artis yang akan menikah. Artis tersebut baru-baru ini menjadi mualaf. Sepintas melihat calon istrinya, masya Allah penampilannya meneduhkan sekali.

Ketika diwawancarai terkait persiapan pernikahan, ia pun menjawab, “Saat ini sudah sampai 70%. Saya maunya acara diadakan sederhana saja karena Islam itu tidak memberatkan kok. Adat-adat yang terkadang membuat ribet. Islam itu simple. Dan yang terpenting persiapan setelah hari pernikahan itu sendiri. Persiapan iman dan hatinya.” Kira-kira demikian yang saya ingat.

Huaaaaa tanpa disadari saya menangis nonton berita itu. Serius, beneran nangis! Karena indah banget melihatnya. Saudara seiman sendiri yang belum lama memeluk Islam berkata seperti itu. Allah berikan nikmat iman dan islam padanya, nikmat semangat mencari ilmu, dan nikmat istri sholihah sebentar lagi insya Allah.

Kemudian saya merefleksi perjalanan diri saya sendiri. Sedari lahir sampai sebesar ini saya adalah seorang muslim. Sudahkah saya benar-benar mengerjakan apa yang menjadi perintah Allah dan tuntunan Rasulullah?

Terkait dengan judul tulisan dan ilustrasi sang artis di atas, saya pun juga memiliki impian dalam melaksanakan pernikahan kelak (please nggak usah tanya kapan hehe). Sungguh-sungguh saya ingin mengharap ridho dan keberkahan Allah dalam segala prosesnya; mulai dari menjemput jodohnya, pelaksanaan akad dan walimahnya, hingga di kehidupan berkeluarga nantinya.

image

I have a dream…

Saat menikah nanti pakaian saya tidak berlebihan. Tetap menjaga kerudung menutupi dada, tidak ketat, tidak transparan. Bahkan saya tidak punya keinginan memakai sepatu hak tinggi. Saya maunya pakai converse selama di pelaminan. Kikikikik~ Karena rasanya pegal dan capek kan berdiri berjam-jam dengan menyiksa tulang kaki kita.

Saya juga tidak ingin riasan saya berlebihan. Sebelum-sebelumnya kalau berurusan dengan mbak-mbak make up saya termasuk yang cukup “rewel”. Jangan pakai bulu mata palsu, warnanya natural aja, jangan ketebalan bedaknya, jangan sampai dicukur alisnya. Itu kata-kata petuah wajib yang keluar kalau saya sedang dirias.

I have a dream…

Saat menikah nanti tamu laki-laki dan perempuan dipisah. Kemudian melibatkan panitia untuk memastikan tidak ada tamu undangan yang makan atau minum berdiri. Dengan begitu ketersediaan kursi harus diperbanyak.

Saya pun juga ingin mengundang anak-anak yatim jika menikah nanti. Mereka yang dalam keseharian belum tentu makan enak. Mereka yang melalui doanya semoga dapat menambah berkah pernikahan.

***

Semoga kesemuanya itu tak hanya sekadar impian, tetapi bisa diwujudkan. Semoga (calon) pasangan saya kelak bisa sepaham keinginannya dengan saya. Atau bahkan bisa semakin meluruskan saya yang memang kadang-kadang suka melenceng keluar “jalur” ini.

Allahumma aamiin…

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 27 Januari 2015. Ditulis selagi menunggu teman baik mengantar undangan pernikahannya ke rumah. 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s