Karena Kita Tidak Tahu #21

Sebut saja teman saya fulan. Hari ini di grup salah satu media komunikasi, kami mendapat kabar bahwa ia lulus CPNS di daerah Batam. Kebetulan saat ini Fulan berstatus mahasiswa pascasarjana salah satu PTN ternama. Ketika pengumuman itu diterima, maka ia memutuskan untuk berhenti S2 dan mulai merintis karier agar “maisyah” untuk “Aisyah” segera terkumpul. *ups*

Sebenarnya dari jauh-jauh hari, kami selaku rekan di grup tersebut, sudah mengetahui rencananya. Hal itu pun juga amanah dari orang tuanya bahwa kerjaan sebaiknya dipilih jika salah satu usahanya melamar kerja berhasil. Namun ternyata beberapa teman di grup ada yang lupa hingga berkata, “Jadi S2nya nggak dilanjutin nih? Yah SAYANG BANGET.”

Sayang banget.

Sering kan ya kita mendengar orang lain mengatakan itu untuk menanggapi keputusan seseorang yang lain. Atau boleh jadi kita sendiri yang pernah berkata demikian. Seolah-olah kita yang paling paham kondisi orang tersebut. Astaghfirullah.

Saya juga pernah mengalami hal serupa seperti cerita Fulan di atas. Terjadi beberapa tahun silam di tahun-tahun awal perkuliahan.

Somebody: Kuliah di mana, Din?
Saya: Di UI.
Somebody: Ambil jurusan apa?
Saya: S1 Keperawatan.
Somebody: Ih sayang banget. Kamu kan pintar, kenapa nggak ambil kedokteran?

Mayoritas mahasiswa keperawatan tentu sering mengalami hal serupa seperti saya. Hati pun sudah terlatih untuk menghadapi model pertanyaan macam itu hihihi. Soalnya selalu akan ada penjelasan untuk membeberkan dan mengenalkan lebih dekat profesi perawat pada sang penanya. šŸ˜€

Allah yang menentukan, kita yang menjalankan, orang lain yang berkomentar. Gitu nggak sih kesannya? Hehe ya maklum aja namanya kita makhluk sosial, yang selalu ada reaksi dari aksi yang kita lakukan. Salah satunya ya fenomena “sayang banget” ini.

Saya pribadi punya prinsip untuk tidak mengucapkan dua kata itu dalam bereaksi terhadap keputusan orang lain (mohon maaf kalau pernah khilaf). Kesannya saya jadi menghakimi, bahwa apa yang dipilihnya adalah keburukan di mata saya. Kesannya saya paling paham apa yang dibutuhkan dirinya.

Padahal keputusan yang diambil oleh seseorang tentu memiliki latar belakang. Mereka tentu melalui proses berpikir dalam menentukan. Pun selalu ada berbagai pertimbangan yang orang tersebut lebih paham karena sejatinya ia yang lebih mengenal dirinya, kemampuannya, dan apa yang dibutuhkannya.

image

Perjalanan tiap orang tidak sama (image source: tumblr)

Saya selalu berusaha menghargai keputusan yang diambil oleh orang-orang di sekitar saya. Meski orang terdekat sekali pun, saya selalu segan mengintervensi pilihannya. Itu karena saya tak pernah tahu bagaimana konflik batin yang telah dan/atau mereka alami.

Mungkin alangkah baiknya apabila “sayang banget” tadi sedikit demi sedikit mulai dikurangi. Mulailah dari menghargai keputusan orang lain. Setelah itu kita bisa duduk bersama dengannya. Bertanyalah, dengarkan baik-baik alasannya mengapa mengambil pilihan itu.

Saya percaya tiap orang punya pertarungan hebat dalam dirinya yang harus ia hadapi saat menentukan pilihan. Dengan mengetahui alasan-alasan di balik pilihannya, barangkali kita bisa lebih menghargai dan memanusiakannya, sebagaimana kita pun ingin dihargai dan diperlakukan secara manusiawi.

Ada hal-hal kasat mata yang tak seluruhnya kita tahu. Ya, karena kita tidak tahu.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, di satu malam yang dingin. Ditulis sebagai introspeksi diri sendiri. šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s