Jakarta, Aku Rindu

Mari mengawali tulisan ini dengan mengucapkan “alhamdulillah” karena akhirnya setelah berhari-hari berkutat di depan laptop terus, bahkan tidur pun tak nyenyak, akhirnya bisa log in ke sini lagi. *cieee curcol* 😁 Ceritanya sekalian nunggu si adik nomor dua yang masih di jalan menuju Bontang dari Balikpapan. Entah jam berapa sampainya nanti.

Hmm… Bicara mengenai Balikpapan, saya jadi rindu masa-masa menjadikannya persinggahan dari dan untuk ke Jakarta. Sudah cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di ibukota. Hampir genap setahun kalau mengingat terakhir kali ke sana.

image

Kota metropolitan itu memang banyak dihujat, tapi entah mengapa selalu terasa dekat. Selain karena papa dan sebagian keluarga ada di sana, saya menghabiskan empat tahun hidup juga di sana. Meski langitnya jauh berbeda dari kota kelahiran tercinta, tetap saja ia terasa istimewa.

Terlepas dari segala polusi dan kemacetan yang menjadi ciri khasnya, saya selalu kagum dengan semangat bekerja penduduk Jakarta. Tidak mudah untuk bertahan hidup di sana. Kecuali Anda keturunan kaya raya banyak harta warisan buyut dahulu kala, mau tidak mau Anda harus bekerja.

Coba tengok gerbong-gerbong kereta. Sejak jam operasional paling pagi, sudah banyak pekerja berdesakan di dalamnya. Lepas sepuluh menit adzan subuh berkumandang, biasa dijumpai bahwa stasiun telah ramai dengan para pencari nafkah. Bahkan bisa jadi sebagian besar hari mereka dihabiskan dengan tidak sempat melihat matahari, baik terbit atau pun terbenam.

Allahu Rabbi, semoga tiap tetes peluh mereka, tiap langkah mencari rezeki, Engkau berkahi dan ganti dengan pahala. *langsung ingat papa deh* 😭

Terlepas dari segala tindakan kriminal yang kerap kali menghiasi berita harian, saya selalu percaya bahwa kebaikan tetap ada di Jakarta. Jika tidak kita temukan di mall-mall ternama, akan kita temukan di pelosok-pelosok pasar. Jika tidak kita lihat di jalan raya yang padat dengan mobil mewah, akan kita lihat di jalan sepanjang rel kereta. Kebaikan itu masih ada, dari supir taksi, dari penjaga palang kereta, dari pedagang sablon di pasar, dan lain sebagainya.

Kota besar ini selalu memanggil saya untuk kembali. Mungkin tidak untuk saat ini.

Kota besar ini selalu meninggalkan pelajaran bagi saya pribadi. Mungkin bisa menjadi cerita anak cucu nanti.

Kerlap-kerlip lampu di malam hari, aroma khas terminal lebak bulus-kampung rambutan-senen-blok m, tiket masuk dufan yang semakin mahal, air laut muara angke yang hitam pekat berbau…

Bajaj di depan Masjid UI Salemba, bakmi gang kelinci, Mall Taman Anggrek yang bikin lelah untuk dikelilingi, banci-banci yang berkeliaran…

Berlari mengejar kereta, muntah di dalam kopaja, tertidur di dalam bis antarkota, badut-badut monas, makan di pinggiran kebon kacang, naik sepeda di kota tua…

Apalagi yang bisa terucap selain, “Jakarta, AKU RINDU!”

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 20 Januari 2015. 23:43 WITA, ditulis sambil terkantuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s